Skip to main content

Shringasaurus indicus, Reptil Bertanduk Gondwana di Awal Trias

Pasca kepunahan massal terbesar dalam sejarah geologi bumi di akhir permian dimana evolusi selama periode Trias seperti seorang remaja yang baru saja meninggalkan rumah untuk pertama kali untuk melakukan eksperimental liar dan kombinasi aneh tidak pernah diulang sebagaimana Shringasaurus indicus di India.

Para peneliti di Indian Statistical Institute di Kolkata menemukan spesimen reptil bertanduk dating 245 juta tahun di awal Middle Triassic dari cekungan Satpura Gondwana di Madhya Pradesh. Genus baru dan diberi nama S. indicus tercakup dalam Allokotosauria yang muncul di Trias Awal atau Tengah dan punah mendekati Trias akhir sekitar 200 juta tahun lalu.

Laporan Penelitian Shringasaurus indicus, Reptil Bertanduk Gondwana di Awal Trias

Tidak seperti reptil Trias lainnya seperti archosauromorphs yang mencakup buaya, dinosaurus dan keturunan mereka, burung dan nenek moyang mereka. S. indicus panjang 3-4 meter, tinggi panggul 1,25-1,50 meter, dan memiliki leher relatif panjang dan kepala kecil.

Tulang rusuk lebih besar, gigi daun dengan tangkai kecil menunjuk bahwa reptil itu herbivora. Paling mencolok adalah sepasang tanduk besar yang menggulingkan teori sebelumnya bahwa spesies bertanduk terbatas pada dinosaurus selama periode Cretaceous sekitar 140 juta tahun lalu.

"Dalam waktu geologi, tanduk eksklusif selama periode Cretaceous. Tapi berdasarkan penemuan kami, kita dapat mengatakan reptil awal mengembangkan tanduk lebih dari 100 juta tahun sebelum ditampilkan dinosaurus," kata Saradee Sengupta, geolog di Indian Statistical Institute.

Para peneliti mengidentifikasi lebih dari 300 tulang, sembilan tulang depan dengan tanduk dan dua tanpa tanduk. Meskipun tidak ada fosil terpasang sepasang tanduk utuh, tim mengidentifikasi tanduk kiri dan kanan dari ciri anatomi. Tulang reptil dewasa tanpa tanduk adalah dimorfisme seksual. Remaja juga memiliki tanduk, meski kecil.

"Tanduk yang terlihat pada S. indicus sangat signifikan. Archosauromorph tidak diketahui memiliki tanduk selama Trias. Kita bisa menemukan setidaknya tujuh individu dari koleksi tulang. Setidaknya enam bertanduk dan satu atau dua tanpa tanduk," kata Saswati Bandyopadhyay, geolog di Indian Statistical Institute.

Garis bukti yang berbeda menunjuk tanduk S. indicus dari seleksi seksual. Tanduk tidak akan efektif melawan predator sehingga lebih bermanfaat untuk memikat perempuan atau berkelahi dengan pria pesaing untuk mendapatkan akses kawin dengan perilaku yang didorong oleh seleksi seksual.

Jurnal : Saradee Sengupta et al. A new horned and long-necked herbivorous stem-archosaur from the Middle Triassic of India, Scientific Reports, 21 August 2017, DOI:10.1038/s41598-017-08658-8

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …