Skip to main content

Deskripsi Spesies Ketiga Orangutan Pongo tapanuliensis

Para antropolog melaporkan spesies orangutan ketiga. Pongo tapanuliensis tidak lebih dari 800 individu sebagai populasi yang terancam punah dalam silsilah kera merah tertua yang masih hidup. Orangutan yang tinggal di kaki bukit berhutan di pulau Sumatra ini mewakili spesies yang sebelumnya tidak dikenal.

Laporan Penelitian Para antropolog Mendeskripsi Orangutan Pongo tapanuliensis

Para ilmuwan telah lama mengenal enam spesies kera besar selain genus Homo yaitu orangutan sumatera, orangutan Borneo, gorila timur, gorila barat, simpanse, dan bonobo. Namun, pada tanggal 2 November telah menambah satu lagi menjadi tujuh.

Michael Krützen, antropolog evolusi dari University of Zurich, dan rekan melaporkan ke Current Biology dimana bukti genetik dan kerangka menempatkan P. tapanuliensis pada lintasan evolusioner terpisah dari orangutan lain di Sumatera (Pongo abelii) dan orangutan Borneo (Pongo pygmaeus).

"Ini bukan kejadian sehari-hari dimana kita menemukan spesies kera besar baru, jadi memang temuan ini sangat seru," kata Krutzen.

Pongo tapanuliensis adalah orangutan yang mengacu pada tiga kabupaten sumatera Utara yaitu Tapanuli Utara, Tengah dan Selatan dimana tidak lebih dari 800 orangutan ini mendiami beberapa kawasan hutan. Perkiraan bervariasi, namun World Wildlife Fund menempatkan jumlah total hidup hampir 120.000.

Para peneliti mengamati orangutan Tapanuli di habitat perbukitan pada awal tahun 1930an. Namun, kera ini telah lama diabaikan karena orangutan sumatera yang tinggal di hutan rawa di utara populasi Tapanuli. Orangutan Kalimantan juga tinggal di hutan rawa.

LaporanPenelitian.com Para antropolog Mendeskripsi Orangutan Pongo tapanuliensis

Sebuah kesempatan mengeksplorasi biologi orangutan Tapanuli terjadi pada tahun 2013. Krützen dan tim mempelajari kerangka di museum dari orangutan dewasa pria yang dibunuh oleh penduduk desa. Perbandingan 33 kerangka orangutan Sumatera dan Borneo mengungkap perbedaan tengkorak, gigi dan sendi rahang yang relatif pendek.

Analisis DNA dari 37 orangutan hidup mengindikasikan orangutan Tapanuli dan orang Sumatera berpisah dari nenek moyang yang sama 3,4 juta tahun lalu. Namun, varian gen bersama menunjukkan adanya perkawinan silang kedua spesies setelah perpisahan evolusioner.

"Orangutan Batang Toru tampaknya merupakan keturunan langsung orangutan awal yang bermigrasi dari daratan Asia dan dengan demikian merupakan garis evolusi tertua dalam genus Pongo," kata Alexander Nater, genetikawan evolusi dari Unversity of Zurich.

"Populasi Batang Toru terhubung dengan populasi ke utara sampai 10.000 atau 20.000 tahun lalu, setelah itu menjadi terisolasi," kata Nater.

Perkawinan lintas spesies menurun tajam sekitar 100.000 tahun lalu dan kemudian berhenti antara 10.000 dan 20.000 tahun lalu. Tim peneliti juga mendating bahwa orangutan sumatera dan orangutan Borneo benar-benar berpisah sekitar 674.000 tahun lalu.

www.LaporanPenelitian.com Para antropolog Mendeskripsi Orangutan Pongo tapanuliensis

Krützen mengatakan skenario di mana pengelompokan spesies kera yang terkait erat setelah berkembang menjadi populasi biologis yang khas mungkin sering terjadi. Studi DNA menunjukkan simpanse purba dan bonobo saling kawin seperti halnya Homo sapiens dan Homo neanderthalensis.

Para peneliti mengatakan hal yang paling penting sekarang adalah bekerja sama dengan organisasi yang sudah berada di wilayah tersebut dan pemerintah Indonesia untuk mendukung langkah-langkah konservasi yang lebih efektif untuk melindungi kawasan Batang Toru.

Jurnal : Alexander Nater et al. Morphometric, Behavioral, and Genomic Evidence for a New Orangutan Species, Current Biology, November 2, 2017, DOI:10.1016/j.cub.2017.09.047
Redaksi laporanpenelitian.com menerima kiriman tulisan dari siapa saja. Info lanjut kunjungi tautan ini.

Comments

Popular

Gambar Tiga Dimensi Struktur Detail Virus Zika Resmi Terbit

Penelitian ~ Struktur virus Zika dipetakan untuk pertama kalinya. Gambar 3D virus tidak hanya memancing inspirasi seni, tapi bisa pula memberi petunjuk bagaimana melawannya.

Alien Lebih Mirip Kita Daripada Monster

Alien mungkin lebih mirip diri kita sendiri. Film-film Hollywood dan fiksi ilmiah menceritakan alien seperti monster yang sangat berbeda dengan manusia, namun sebuah tim peneliti dari University of Oxford mengusulkan kita memiliki banyak kesamaan dengan para tetangga ekstra-terestrial.


Sebuah tim memberikan analisis untuk pertama kalinya bagaimana teori evolusi untuk prediksi alien dan lebih memahami tingkah lakunmya. Mereka menunjukkan bahwa alien terbentuk oleh proses dan mekanisme yang sama dalam membentuk manusia dalam seleksi alam.

Sam Levin, zoolog di University of Oxford, mengatakan teori Charles Darwin mendukung argumen bahwa bentuk kehidupan asing mengalami seleksi alam dan seperti manusia akan berkembang menjadi lebih efesien dan lebih kuat dari waktu ke waktu.

"Tugas mendasar astrobiologi memikirkan tentang kehidupan ekstra-terestrial seperti itu. Tapi membuat prediksi tentang alien sangat sulit. Satu contoh kehidupan di Bumi untuk diekstrapolasikan," kata Levin.

Teknik CRISPR-Cas9 Menciptakan Babi Rendah Lemak

Para ilmuwan China memasukkan gen tikus ke dalam babi untuk menciptakan 12 anak babi rendah lemak. Tim peneliti di Chinese Academy of Sciences menggunakan teknik CRISPR-Cas9 untuk mengedit gen pengatur suhu tubuh dengan membakar lemak untuk menciptakan daging babi rendah lemak.


Daging babi adalah menu paling favorit di dunia dan industri pangan ini memiliki nilai ekonomi triliunan dolar per tahun. Para ilmuwan di Beijing melaporkan telah berhasil menginput gen tikus menggunakan teknik CRISPR-Cas9 untuk menciptakan selusin anak babi tahan dingin dan rendah lemak.

Babi secara alami tidak memiliki gen UPC1 untuk membantu mengatur suhu tubuh. Jianguo Zhao, biolog Chinese Academy of Sciences, dan tim mengambil versi UPC1 dari tikus dan memasukkannya ke dalam embrio babi yang kemudian diimplan ke 13 babi betina. Tiga dari mereka melahirkan 12 bayi.

"Selama ini menjadi masalah besar bagi industri babi. Sekarang babi bisa menjaga suhu tubuh sendiri jauh lebih baik, yang berarti mereka bi…

Lumpur Sidoarjo Disuplai Gunung Arjuno-Welirang

Para ilmuwan melaporkan analisis terbaru tentang erupsi lumpur terbesar di dunia. Lusi (Lumpur Sidoarjo) mulai meletus pada 29 Mei 2006 di beberapa lokasi di Sidoarjo dimana lumpur mendidih, air, batu dan gas terludah dari ventilasi yang mengubur rumah-rumah dan pabrik-pabrik di puluhan desa dan memaksa 60.000 orang mengungsi.


Pada bulan September 2006, situs erupsi terbesar mencapai puncak dan banyak lumpur yang menyembur ke permukaan setiap hari mengisi kolam renang raksasa. Pemerintah membangun tanggul untuk menampung lumpur dan menyelamatkan permukiman dan sawah di sekitarnya.

Lusi masih terus berlangsung sampai sekarang dan menjadi letusan lumpur yang paling merusak dalam catatan sejarah. Lautan lumpur tanpa henti mengubur beberapa desa dengan kedalaman 40 meter dan gunung berapi tersebut secara berkala menyemburkan batu dan gas ke udara seperti geyser.

Sekitar 80.000 meter kubik lumpur setiap hari dan sekarang setelah lebih dari 11 tahun sejak pertama kali meletus, para ilmuwan …