Skip to main content

Jagung Rekayasa Genetika Menghasilkan Methionine

Para ilmuwan menemukan cara efisien meningkatkan nilai gizi jagung dengan menginput gen bakteri untuk menghasilkan methionine. Jagung sebagai komoditas pangan terbesar di dunia semakin menguntungkan bagi jutaan orang di negara-negara berkembang dan secara signifikan mengurangi biaya pakan ternak di seluruh dunia.

Laporan Penelitian Jagung Rekayasa Genetika Menghasilkan Methionine

Para peneliti dari Rutgers University dan Sichuan Academy of Agricultural Sciences memodifikasi genetika jagung dengan memasukkan gen Escherichia coli untuk menghasilkan methionine yang biasa ditemukan dalam daging sebagai satu dari sembilan asam amino esensial.

"Kami memperbaiki nilai gizi jagung, komoditas terbesar di Bumi. Kebanyakan jagung digunakan untuk pakan ternak, tapi kekurangan methionine. Kami menemukan cara yang efektif untuk menambahkannya," kata Thomas Leustek, biolog Rutgers University di New Brunswick.

Methionine diperlukan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan, meningkatkan kelenturan kulit dan rambut, dan menguatkan kuku. Sulfur dalam methionine melindungi sel dari polutan, memperlambat penuaan sel dan sangat penting untuk menyerap selenium dan seng.

Joachim Messing, mikrobiolog Rutgers University di Piscataway, mengatakan setiap tahun produk methionine sintetis senilai miliaran dolar ditambahkan ke benih jagung yang tidak memiliki substansi di alam. Modifikasi genetika untuk menambahkan methionine pada jagung memungkinkan cara lebih efesien.

"Ini proses yang memakan biaya mahal. Methionine ditambahkan karena hewan tidak akan tumbuh tanpa asam amino itu. Di banyak negara berkembang di mana jagung sebagai makanan pokok, methionine juga penting bagi manusia terutama anak-anak. Ini nutrisi penting," kata Messing.

Pakan ayam biasanya disiapkan sebagai campuran jagung-kedelai dan methionine adalah satu-satunya asam amino yang mengandung sulfur yang penting. Para peneliti melaporkan temuan ke Proceedings of the National Academy of Sciences.

Tim memasukkan gen bakteri E. coli ke dalam genom tanaman jagung dan menanam beberapa generasi. Enzim EcPAPR memacu produksi methionine pada daun tanaman dan bukan seluruh tanaman untuk menghindari akumulasi produk sampingan yang beracun,

Leustek mengatakan methionine dalam biji jagung meningkat sebesar 57 persen dan tidak mempengaruhi pertumbuhan jagung. Tim juga melakukan percobaan pemberian makan pada ayam di Rutgers dimana jagung rekayasa genetika meningkatkan gizi pada mereka.

"Kami menunjukkan negara-negara berkembang tidak perlu membeli suplemen atau membeli makanan mahal untuk mendapatkan methionine lebih tinggi," kata Leustek.

Jurnal : Jose Planta et al. Engineering sulfur storage in maize seed proteins without apparent yield loss, Proceedings of the National Academy of Sciences, DOI:10.1073/pnas.1714805114
Redaksi laporanpenelitian.com menerima kiriman tulisan dari siapa saja. Info lanjut kunjungi tautan ini.

Comments