Skip to main content

Lumpur Sidoarjo Disuplai Gunung Arjuno-Welirang

Para ilmuwan melaporkan analisis terbaru tentang erupsi lumpur terbesar di dunia. Lusi (Lumpur Sidoarjo) mulai meletus pada 29 Mei 2006 di beberapa lokasi di Sidoarjo dimana lumpur mendidih, air, batu dan gas terludah dari ventilasi yang mengubur rumah-rumah dan pabrik-pabrik di puluhan desa dan memaksa 60.000 orang mengungsi.

Laporan Penelitian Lumpur Sidoarjo Disuplai Gunung Arjuno-Welirang

Pada bulan September 2006, situs erupsi terbesar mencapai puncak dan banyak lumpur yang menyembur ke permukaan setiap hari mengisi kolam renang raksasa. Pemerintah membangun tanggul untuk menampung lumpur dan menyelamatkan permukiman dan sawah di sekitarnya.

Lusi masih terus berlangsung sampai sekarang dan menjadi letusan lumpur yang paling merusak dalam catatan sejarah. Lautan lumpur tanpa henti mengubur beberapa desa dengan kedalaman 40 meter dan gunung berapi tersebut secara berkala menyemburkan batu dan gas ke udara seperti geyser.

Sekitar 80.000 meter kubik lumpur setiap hari dan sekarang setelah lebih dari 11 tahun sejak pertama kali meletus, para ilmuwan mungkin telah mengetahui mengapa semburan lumpur tidak berhenti bahwa di bawah tanah, Lusi terhubung ke sistem vulkanik di dekatnya.

Peneliti menggunakan teknik geofisik untuk memetakan interior dan menggambar area di bawah Lusi. Gambar menunjukkan saluran yang memasok lumpur ke Lusi terhubung ke ruang magma di kompleks vulkanik Arjuno-Welirang melalui sistem fault sedalam 6 kilometer di bawah permukaan.

Gunung berapi dapat terhubung satu sama lain dan para ilmuwan menduga Lusi dan kompleks vulkanik Arjuno-Welirang terkait karena penelitian sebelumnya menunjukkan beberapa gas Lusi biasa ditemukan pada magma. Tapi belum ada yang menunjukkan bahwa Lusi terhubung secara fisik dengan Arjuno-Welirang.

Para peneliti menemukan magma terik dari Arjuno-Welirang pada dasarnya "memanggang" sedimen kaya organik di bawah Lusi. Proses ini membangun tekanan dengan menghasilkan gas yang terjebak di bawah permukaan. Tekanan tumbuh sambil menunggu sebuah gempa sebagai pemicu.



"Kami dengan jelas menunjukkan bukti kedua sistem terhubung. Studi baru kami menunjukkan keseluruhan sistem sudah ada di sana, semua ruang telah terisi dan tinggal menunggu pemicu," kata Adriano Mazzini, geolog University of Oslo.

Jawa adalah garis vulkanik yang terbentuk saat lempeng tektonik tumbuh dari lempeng lain. Saat dasar laut naik ke atas, gunung berapi terbentuk di sepanjang tulang dengan baskom di banyak tempat. Lumpur Lusi berasal dari sedimen di baskom tersebut, sementara sebagian pulau masih terendam air.

Mazzini mempelajari Lusi beberapa saat setelah letusan dimulai. Dua tahun lalu tim peneliti memasang 31 seismometer. Para peneliti biasanya menggunakan seismometer untuk mengukur getaran tanah, namun metode yang sama juga dapat untuk membuat gambar 3D di bawah gunung berapi.

Tim menggunakan data 10 bulan yang tercatat oleh seismometer untuk mencitrakan area di bawah Lusi dan gunung berapi di sekitarnya. Gambar menunjukkan terowongan dari ruang magma Arjuno-Welirang menuju ke dalam baskom sedimen Lusi.

Hal ini memungkinkan cairan magma dan hidrotermal yang berasal dari mantel masuk ke ruangan Lusi yang memicu reaksi masif dan menciptakan gas yang menghasilkan tekanan tinggi di bawah permukaan bumi. Letusan siap setiap saat ketika perturbasi seperti gempa memicu sistem ini kolaps.

"Ini hanya tentang pemicu atau membuka fault dan tekanan berlebihan apa pun yang terkumpul di permukaan bawah untuk mendorong sampai ke permukaan. Anda memiliki manifestasi di permukaan dan itu adalah Lusi," kata Mazzini.



Mazzini dan tim menduga gempa berkekuatan 6,3 yang melanda Jawa dua hari sebelum lumpur meletus adalah pemicu dengan mengaktifkan kembali sistem sesar yang terhubung Arjuno-Welirang. Magma mengalir ke dasar sedimen Lusi dan sesar menjadi jalan untuk memindahkan seluruh sistem vulkanik.

Mazzini dan ilmuwan lainnya tidak yakin berapa lama Lusi akan terus meletus. Gunung berapi lumpur umum di Jawa dan Lusi adalah hibrida antara gunung berapi lumpur dan ventilasi hidrotermal. Terowongan Arjuno-Welirang akan terus memasak sedimen Lusi selama bertahun-tahun lagi.

Jurnal : Mohammad Javad Fallahi et al. The plumbing system feeding the Lusi eruption revealed by ambient noise tomography, Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 17 October 2017, DOI:10.1002/2017JB014592

Comments

Popular

Ancient Steroids Establish the Ediacaran Fossil Dickinsonia as One of the Earliest Animals

Ayam Jantan Pangkat Tertinggi Hak Berkokok Pertama

Mathematician Michael Atiyah Claims a Simple Proof for Riemann Hypothesis

Habitual Tool Use Innovated by Free-living New Zealand Kea

Chinese scientists call for cooperation against asteroid threat