Skip to main content

Gen Produksi Toksin Clostridium difficile Kunci Terapi Nonantibiotik

Laporan Penelitian Gen Produksi Toksin Clostridium difficile Kunci Terapi Nonantibiotik
Penelitian ~ Gen yang mengontrol produksi toksin Clostridium difficile diketahui. Temuan baru memunculkan cara yang lebih baik melucuti superbug usus yang melilit perut.

Temuan genetik baru membekali para peneliti melawan superbug dengan mengecilkan kekuasaan dan bukan membunuh langsung. Para ilmuwan mengidentifikasi satu set gen C. difficile yang memproduksi racun perusak sel-sel usus, penyebab diare, sakit perut dan penyakit mematikan lainnya.

Identifikasi satu set khusus gen yang mengontrol produksi toksin adalah langkah besar ke depan seperti membuka gudang senjata rahasia yang memberi amunisi baru bagi terapi nonantibiotik dengan melucuti superbug sambil menghindari kerusakan dengan menjamin hidup bagi bakteri baik.

C. difficile menginfeksi 500.000 orang dan membunuh 29.000 tiap tahun di Amerika Serikat. Mikroba nongkrong di usus selama bertahun-tahun tanpa menyebabkan masalah pada beberapa individu karena usus manusia biasanya memiliki banyak bakteri baik yang mencegah para penyebab penyakit.

"Tapi pukulan antibiotik dapat menghapus sistem keseimbangan dan jika bug baik mati, C. difficile mengambil alih," kata Charles Darkoh, mikrobiolog University of Texas Health Science Center di Houston.

Ketika infeksi mengamuk, C. difficile dapat mengembangkan resistensi terhadap antibiotik dan brubah menjadi superbug sangat tangguh. Produksi toksin memungkinkan bakteri melestarikan sumber daya dan melancarkan serangan balik saat mencapai ambang kritis.

Dua set gen yaitu agr1 dan agr2 mengaktifkan produksi toksin ketika diinkubasi dengan sel kulit manusia. Sedangkan strain mutan tanpa set gen tidak membuat racun dan sel-sel kulit yang tumbuh dalam jarak dekat tetap sehat.

Tikus yang hidup dengan strain mutan tidak menimbulkan bahaya, sedangkan tikus yang menelan C. difficile biasa kehilangan berat badan dan mengembangkan diare dalam beberapa hari. Dalam kultur sel kulit, strain tanpa agr2 kurang mematikan bahwa hanya agr2 yang sangat penting dalam produksi toksin.

Jurnal : Charles Darkoh et al. Accessory Gene Regulator-1 Locus Is Essential for Virulence and Pathogenesis of Clostridium difficile, mBio, 16 August 2016, DOI:10.1128/mBio.01237-16

Comments

Populer

DNA Memecahkan Misteri Bagaimana Mumi Terkait Satu Sama Lain

DNA memecahkan misteri bagaimana mumi-mumi terkait satu sama lain dimana sepasang mumi Mesir kuno yang dikenal lebih dari satu abad sebagai dua saudara sebenarnya adalah saudara tirinya. Kedua pria berpangkat tinggi tersebut memiliki seorang ibu, namun ayah yang berbeda.

Para arkeolog mengatakan sebuah jawaban tentang keluarga yang teredam dan terungkap berkat keberhasilan dua jenis DNA dari gigi mumi. Laporaan di Journal of Archaeological Science menyoroti pentingnya garis keturunan ibu dalam menganalisis orang-orang Mesis kuno.


Pertanyaan telah berputar-putar tentang latar belakang biologis dua mumi pria sejak ditemukan bersama di sebuah makam di dekat desa Rifeh pada tahun 1907. Makam berasal dari Dinasti ke-12 Mesir kuno antara tahun 1985 SM hingga 1773 SM. Prasasti peti mati menyebutkan seorang wanita, Khnum-Aa, sebagai ibu kedua pria tersebut.

Kedua mumi digambarkan sebagai putra gubernur lokal yang tidak disebutkan namanya. Tetap tidak jelas apakah prasasti tersebut merujuk pad…

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.

Moratorium Laut Internasional Untungkan Nelayan Pesisir

www.LaporanPenelitian.com - Larangan penangkapan ikan di laut lepas dapat meningkatkan hasil tangkapan global menjadi lebih adil.

Nenek Moyang Salamander Meregenerasi Anggota Badan

Penelitian ~ Nenek moyang salamander meregenerasi tungkai, fosil amfibi kuno menunjukkan tanda tangan mekanisme penggantian embel-embel sejauh era Permian.

Fosil Gua Misliya di Israel adalah Manusia Modern Tertua di Luar Afrika

Sebuah rahang mendorong keberangkatan manusia dari Afrika kembali pada waktunya dimana fosil ditemukan di gua Israel setidaknya berdating 177.000 tahun. Sebuah tulang di Israel saat manusia modern meninggalkan Afrika memberi pesan eksodus kuno dimulai lebih awal dari apa yang diteorikan selama ini.

Gua Misliya di Gunung Carmel di Israel menghasilkan rahang parsial Homo sapiens dengan perkiraan dating pada 177.000 hingga 194.000 tahun yang menunjukkan manusia modern bisa saja meninggalkan Afrika dan mencapai Timur Tengah sekitar 60.000 tahun lebih awal dari perkirakan sebelumnya.


Sampai sekarang fosil H. sapiens tertua yang diketahui di luar Afrika ditemukan di Gua Skhul dan Qafzeh di Israel berdating pada 90.000 dan 120.000 tahun, tetapi temuan baru mengisaratkan manusia meninggalkan Afrika sekitar 300.000 tahun lalu dan mencapai Timur Tengah lebih dari 200.000 tahun lalu

"Rahang Misliya memberikan bukti paling jelas nenek moyang kita pertama kali pindah dari Afrika jauh lebih aw…