Skip to main content

Bakteri Dalam Hidung Menghasilkan Antibiotik Melawan Staphylococcus aureus

Penelitian ~ Hidung tahu bagaimana melawan Staphylococcus aureus. Bakteri yang ditemukan di sekret hidung dapat melawan infeksi mikroba resisten antibiotik.

Hidung manusia menjadi pelabuhan tidak hanya musuh yang mematikan seperti methicillin-resistant strain (MRSA), tetapi juga musuh alaminya. Para ilmuwan pekan ini melaporkan isolasi senyawa musuh yang mungkin memerangi MRSA Staphylococcus aureus.

"Kami tidak mengharapkan menemukan ini karena kami hanya berusaha memahami ekologi hidung untuk memahami bagaimana S. aureus menyebabkan masalah," kata Andreas Peschel, bakteriolog University of Tübingen di Jerman, saat jumpa pers 26 Juli selama EuroScience Open Forum.

Investigasi kompetisi intens antarspesies di hidung di mana mikroba berjuang menguasai ruang dan akses sumberdaya gula dan asam amino yang mungkin menawarkan pendekatan alternatif untuk mencari kandidat desain obat baru dalam mikroba.

Sejauh ini mikrobiom manusia hanya menghasilkan segelintir antibiotik baru yang potensial termasuk lactocillin, tapi senyawa baru membuka kegunaan aplikasi topikal dan bukan sebagai antibiotik sistemik. Sedangkan antibiotik sistemik baru yang paling dibutuhkan untuk saat ini.

Meskipun lingkungan relatif miskin unsur hara, hidung manusia adalah rumah bagi lebih dari 50 spesies bakteri. Salah satunya adalah S. aureus penyebab dominan infeksi di rumah sakit seperti MRSA serta infeksi pada darah dan jantung.

Ada variabilitas besar mikroba dalam hidung di antara individu. Sementara S. aureus hadir dalam saluran hidung sekitar 30 persen orang, tapi 70 persen orang lainnya tidak memiliki tanda-tanda terebut. Penjelaskan perbedaan ini merupakan ekologi hidung.

Peschel dan tim berteori bahwa penduduk hidung bersaing di ceruk yang keras. Dari sampel sekresi hidung, tim mengisolasi 90 strain spesies Staphylococcus yang berbeda. Kelompok 70 persen hidung yang tidak memiliki S. aureus karena diblokir oleh mikroba lain.

Satu bakteri Staphylococcus lugdunensis membunuh S. aureus ketika keduanya tumbuh bersama dalam sebuah piring. Tapi berbagai mutasi S. lugdunensis menghasilkan strain yang tidak membunuh. Modifikasi gen menawarkan antibiotik dimana para peneliti menjuluki lugdunin sebagai contoh pertama kelas baru antibiotik.

Lugdunin mampu menangkis MRSA serta strain Enterococcus yang sering resisten antibiotik jenis vancomycin. Tim juga mengadu S. lugdunensis terhadap S. aureus dalam tabung reaksi dan tikus dengan S. lugdunensis sebagai pemenang kompetisi.

Hanya 5,9 persen dari 187 pasien rumah sakit memiliki S. aureus di hidung jika mereka juga memiliki S. lugdunensis. Sedangkan S. aureus hadir 34,7 persen pada pasien yang tidak memiliki S. lugdunensis. Lugdunin juga membersihkan infeksi kulit Staph pada tikus, tetapi tidak jelas bagaimana senyawa bekerja.

Para ilmuwan tidak bisa mengesampingkan bahwa hal ini merusak membran sel yang bisa membatasi penggunaannya pada manusia untuk antibiotik topikal. Peschel dan rekan juga menunjukkan bakteri itu sendiri mungkin probiotik yang baik untuk menangkis infeksi Staph pada pasien rumah sakit yang rentan.

Jurnal : Alexander Zipperer et al. Human commensals producing a novel antibiotic impair pathogen colonization, Nature, 27 July 2016, DOI:10.1038/nature18634

Comments

Populer

DNA Memecahkan Misteri Bagaimana Mumi Terkait Satu Sama Lain

DNA memecahkan misteri bagaimana mumi-mumi terkait satu sama lain dimana sepasang mumi Mesir kuno yang dikenal lebih dari satu abad sebagai dua saudara sebenarnya adalah saudara tirinya. Kedua pria berpangkat tinggi tersebut memiliki seorang ibu, namun ayah yang berbeda.

Para arkeolog mengatakan sebuah jawaban tentang keluarga yang teredam dan terungkap berkat keberhasilan dua jenis DNA dari gigi mumi. Laporaan di Journal of Archaeological Science menyoroti pentingnya garis keturunan ibu dalam menganalisis orang-orang Mesis kuno.


Pertanyaan telah berputar-putar tentang latar belakang biologis dua mumi pria sejak ditemukan bersama di sebuah makam di dekat desa Rifeh pada tahun 1907. Makam berasal dari Dinasti ke-12 Mesir kuno antara tahun 1985 SM hingga 1773 SM. Prasasti peti mati menyebutkan seorang wanita, Khnum-Aa, sebagai ibu kedua pria tersebut.

Kedua mumi digambarkan sebagai putra gubernur lokal yang tidak disebutkan namanya. Tetap tidak jelas apakah prasasti tersebut merujuk pad…

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.

Moratorium Laut Internasional Untungkan Nelayan Pesisir

www.LaporanPenelitian.com - Larangan penangkapan ikan di laut lepas dapat meningkatkan hasil tangkapan global menjadi lebih adil.

Nenek Moyang Salamander Meregenerasi Anggota Badan

Penelitian ~ Nenek moyang salamander meregenerasi tungkai, fosil amfibi kuno menunjukkan tanda tangan mekanisme penggantian embel-embel sejauh era Permian.

Fosil Gua Misliya di Israel adalah Manusia Modern Tertua di Luar Afrika

Sebuah rahang mendorong keberangkatan manusia dari Afrika kembali pada waktunya dimana fosil ditemukan di gua Israel setidaknya berdating 177.000 tahun. Sebuah tulang di Israel saat manusia modern meninggalkan Afrika memberi pesan eksodus kuno dimulai lebih awal dari apa yang diteorikan selama ini.

Gua Misliya di Gunung Carmel di Israel menghasilkan rahang parsial Homo sapiens dengan perkiraan dating pada 177.000 hingga 194.000 tahun yang menunjukkan manusia modern bisa saja meninggalkan Afrika dan mencapai Timur Tengah sekitar 60.000 tahun lebih awal dari perkirakan sebelumnya.


Sampai sekarang fosil H. sapiens tertua yang diketahui di luar Afrika ditemukan di Gua Skhul dan Qafzeh di Israel berdating pada 90.000 dan 120.000 tahun, tetapi temuan baru mengisaratkan manusia meninggalkan Afrika sekitar 300.000 tahun lalu dan mencapai Timur Tengah lebih dari 200.000 tahun lalu

"Rahang Misliya memberikan bukti paling jelas nenek moyang kita pertama kali pindah dari Afrika jauh lebih aw…