Skip to main content

Gen DCHS2, RUNX2, GLI3 dan PAX1 Adaptasi Bentuk Hidung Manusia

Penelitian ~ Gen pengendali bentuk hidung manusia terendus. Empat gen yang mengontrol bentuk hidung dipercaya menawarkan wawasan ke masa lalu evolusi manusia.

Sebuah koleksi gen yang mendukung bentuk hidung manusia ditemukan dalam fitur wajah manusia. Genom dari sekitar 6.000 individu membongkar pertanyaan mengapa beberapa orang memiliki hidung sempit runcing, sementara yang lain luas dan lebar.

Para ilmuwan melaporkan temuan aparatur 4 gen yang terlibat dalam pengendalian hidung Anda juga ditemukan mempengaruhi berapa banyak dagu menjorok runcing keluar. Temuan baru menawarkan wawasan segar ke masa lalu evolusioner manusia.

"Teori klasik bentuk hidung adalah seleksi alam atas respon suhu dan kelembaban udara yang dihirup bahwa hidung sempit adaptasi iklim dingin," kata Andrés Ruiz-Linares, genetikawan University College London.

"Hidung Eropa ditandai dengan sempit, runcing dan menonjol sementara penduduk asli Amerika cenderung datar dan lebih luas. Tujuan utama identifikasi gen-gen ini untuk melihat pertanyaan evolusioner sejauh mana sifat-sifat adalah respon adaptif atau tidak dan cermin sejarah populasi," kata Ruiz-Linares.

Temuan juga diyakini memberi wawasan tentang cacat perkembangan dan bahkan membantu polisi menghasilkan rekonstruksi wajah lebih akurat atas tersangka kriminal, meskipun variasi genetik terkait masing-masing ciri-ciri bertanggung jawab hanya sekitar 1% dari variasi.

Ruiz-Linares dan tim menggunakan sampel DNA dan foto-foto 5.958 orang dari negara-negara Amerika Latin. Para peneliti berargumen semua populasi asli benua Amerika, Eropa dan Afrika hadir dalam populasi Amerika Latin dan kohort memberi kesempatan sempurna mengeksplorasi keragaman wajah.

Foto sampel memiliki 14 atribut berbeda termasuk lebar jembatan hidung, tonjolan dan bentuk yang dinilai pada skala 3 poin. Selanjutnya 7 fitur wajah secara tepat diukur menggunakan model komputer 3D. Kemudian informasi genetik dikorelasikan dengan sifat-sifat yang dinilai.

Variasi gen EDAR mempengaruhi tonjolan dagu dan menariknya gen ini sebelumnya ditemukan mempengaruhi berbagai fitur fisik termasuk ukuran daun telinga, ketebalan jenggot dan apakah seseorang memiliki rambut lurus.

Sementara bentuk hidung dipengaruhi oleh segelintir gen, secara keseluruhan 2 gen yaitu GLI3 dan PAX1 terkait lubang hidung lebar sedangkan gen RUNX2 mempengaruhi lebar jembatan hidung. Gen DCHS2 mempengaruhi seberapa jauh hidung menonjol apakah bengkok dan sudut ujung.

Terlebih lagi 3 gen terkait bentuk hidung dikenal menunjuk perbedaan manusia modern dibandingkan kerabat punah manusia yaitu Neanderthal dan Denisovans bahwa gen terlibat dalam perbedaan penampilan wajah antara manusia dan sepupu kuno.

"Dasar genetik sifat-sifat membantu kita melihat evolusi secara umum," kata Ruiz-Linares.

Jurnal : Kaustubh Adhikari et al. A genome-wide association scan implicates DCHS2, RUNX2, GLI3, PAX1 and EDAR in human facial variation, Nature Communications, 19 May 2016, DOI:10.1038/ncomms11616

Comments

Populer

DNA Memecahkan Misteri Bagaimana Mumi Terkait Satu Sama Lain

DNA memecahkan misteri bagaimana mumi-mumi terkait satu sama lain dimana sepasang mumi Mesir kuno yang dikenal lebih dari satu abad sebagai dua saudara sebenarnya adalah saudara tirinya. Kedua pria berpangkat tinggi tersebut memiliki seorang ibu, namun ayah yang berbeda.

Para arkeolog mengatakan sebuah jawaban tentang keluarga yang teredam dan terungkap berkat keberhasilan dua jenis DNA dari gigi mumi. Laporaan di Journal of Archaeological Science menyoroti pentingnya garis keturunan ibu dalam menganalisis orang-orang Mesis kuno.


Pertanyaan telah berputar-putar tentang latar belakang biologis dua mumi pria sejak ditemukan bersama di sebuah makam di dekat desa Rifeh pada tahun 1907. Makam berasal dari Dinasti ke-12 Mesir kuno antara tahun 1985 SM hingga 1773 SM. Prasasti peti mati menyebutkan seorang wanita, Khnum-Aa, sebagai ibu kedua pria tersebut.

Kedua mumi digambarkan sebagai putra gubernur lokal yang tidak disebutkan namanya. Tetap tidak jelas apakah prasasti tersebut merujuk pad…

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.

Moratorium Laut Internasional Untungkan Nelayan Pesisir

www.LaporanPenelitian.com - Larangan penangkapan ikan di laut lepas dapat meningkatkan hasil tangkapan global menjadi lebih adil.

Fosil Gua Misliya di Israel adalah Manusia Modern Tertua di Luar Afrika

Sebuah rahang mendorong keberangkatan manusia dari Afrika kembali pada waktunya dimana fosil ditemukan di gua Israel setidaknya berdating 177.000 tahun. Sebuah tulang di Israel saat manusia modern meninggalkan Afrika memberi pesan eksodus kuno dimulai lebih awal dari apa yang diteorikan selama ini.

Gua Misliya di Gunung Carmel di Israel menghasilkan rahang parsial Homo sapiens dengan perkiraan dating pada 177.000 hingga 194.000 tahun yang menunjukkan manusia modern bisa saja meninggalkan Afrika dan mencapai Timur Tengah sekitar 60.000 tahun lebih awal dari perkirakan sebelumnya.


Sampai sekarang fosil H. sapiens tertua yang diketahui di luar Afrika ditemukan di Gua Skhul dan Qafzeh di Israel berdating pada 90.000 dan 120.000 tahun, tetapi temuan baru mengisaratkan manusia meninggalkan Afrika sekitar 300.000 tahun lalu dan mencapai Timur Tengah lebih dari 200.000 tahun lalu

"Rahang Misliya memberikan bukti paling jelas nenek moyang kita pertama kali pindah dari Afrika jauh lebih aw…

Nenek Moyang Salamander Meregenerasi Anggota Badan

Penelitian ~ Nenek moyang salamander meregenerasi tungkai, fosil amfibi kuno menunjukkan tanda tangan mekanisme penggantian embel-embel sejauh era Permian.