Skip to main content

Bulu Semut Perak Sahara (Cataglyphis bombycina) Penolak Panas

Penelitian ~ Rambut Semut Perak Sahara (Cataglyphis bombycina) memantulkan cahaya untuk mengalahkan panas gurun. Semut mengembangkan sistem overheating selain juga bergaya.

Meskipun tampak seperti laki-laki sedikit ruang menjelajahi planet jauh, semut perak Sahara sangat membumi. Tapi tidak banyak makhluk dapat melakukan seperti serangga karena mereka menghabiskan hari-hari mencari mangsa di suhu yang membunuh sebagian besar hewan lainnya.

Kehidupan terik Gurun Sahara yang memberi masalah tapi telah mendapat solusi dengan mengevolusi sistem pengusir panas efektif bahwa Semut Perak Sahara (C. bombycina) menumbuhkan rambut bulu mencolok untuk memantulkan total cahaya seperti prisma sebagaimana digunakan serat optik buatan manusia.

"Pertama kalinya refleksi internal total yang ditampilkan dengan penentuan warna suatu organisme," kata Serge Aron, ekolog Free University of Brussels.

Sebagaimana nama menyarankan, warna berkilauan perak dan scan mikroskop elektron menonton apa yang terjadi ketika cahaya memukul permukaan. Semut berbulu normal 10 kali lebih reflektif dari semut yang dicukur dan mampu tinggal 2 derajat Celcius lebih dingin di bawah sinar Matahari.


Rambut bergelombang dan berpenampang segitiga ketika mikroskop bertenaga tinggi mengungkap setiap rambut seperti prisma memantulkan cahaya sehingga setiap sinar yang masuk menjalani pantulan internal total dan bukannyaber transmisi.

Sementara banyak serangga Gurun Sahara hanya keluar pada malam hari untuk menghindari suhu siang hari, semut perak tidak memiliki ketakutan setiap waktu. Efek cermin kemilau perak mungkin juga menyediakan beberapa kamuflase dan membantu dalam komunikasi di antara sesama.

Selain rambut super, mereka dilengkapi kaki lebih panjang daripada semut lainnya. Tungkai panjang menjaga tubuh jauh dari permukaan panas dan tentu saja memungkinkan berlari dengan sangat cepat yang membantu tubuh tetap dingin.

Jurnal : Quentin Willot et al. Total Internal Reflection Accounts for the Bright Color of the Saharan Silver Ant, PLoS ONE, April 13, 2016, DOI:10.1371/journal.pone.0152325

Comments

Populer

DNA Memecahkan Misteri Bagaimana Mumi Terkait Satu Sama Lain

DNA memecahkan misteri bagaimana mumi-mumi terkait satu sama lain dimana sepasang mumi Mesir kuno yang dikenal lebih dari satu abad sebagai dua saudara sebenarnya adalah saudara tirinya. Kedua pria berpangkat tinggi tersebut memiliki seorang ibu, namun ayah yang berbeda.

Para arkeolog mengatakan sebuah jawaban tentang keluarga yang teredam dan terungkap berkat keberhasilan dua jenis DNA dari gigi mumi. Laporaan di Journal of Archaeological Science menyoroti pentingnya garis keturunan ibu dalam menganalisis orang-orang Mesis kuno.


Pertanyaan telah berputar-putar tentang latar belakang biologis dua mumi pria sejak ditemukan bersama di sebuah makam di dekat desa Rifeh pada tahun 1907. Makam berasal dari Dinasti ke-12 Mesir kuno antara tahun 1985 SM hingga 1773 SM. Prasasti peti mati menyebutkan seorang wanita, Khnum-Aa, sebagai ibu kedua pria tersebut.

Kedua mumi digambarkan sebagai putra gubernur lokal yang tidak disebutkan namanya. Tetap tidak jelas apakah prasasti tersebut merujuk pad…

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.

Nenek Moyang Salamander Meregenerasi Anggota Badan

Penelitian ~ Nenek moyang salamander meregenerasi tungkai, fosil amfibi kuno menunjukkan tanda tangan mekanisme penggantian embel-embel sejauh era Permian.

Fosil Gua Misliya di Israel adalah Manusia Modern Tertua di Luar Afrika

Sebuah rahang mendorong keberangkatan manusia dari Afrika kembali pada waktunya dimana fosil ditemukan di gua Israel setidaknya berdating 177.000 tahun. Sebuah tulang di Israel saat manusia modern meninggalkan Afrika memberi pesan eksodus kuno dimulai lebih awal dari apa yang diteorikan selama ini.

Gua Misliya di Gunung Carmel di Israel menghasilkan rahang parsial Homo sapiens dengan perkiraan dating pada 177.000 hingga 194.000 tahun yang menunjukkan manusia modern bisa saja meninggalkan Afrika dan mencapai Timur Tengah sekitar 60.000 tahun lebih awal dari perkirakan sebelumnya.


Sampai sekarang fosil H. sapiens tertua yang diketahui di luar Afrika ditemukan di Gua Skhul dan Qafzeh di Israel berdating pada 90.000 dan 120.000 tahun, tetapi temuan baru mengisaratkan manusia meninggalkan Afrika sekitar 300.000 tahun lalu dan mencapai Timur Tengah lebih dari 200.000 tahun lalu

"Rahang Misliya memberikan bukti paling jelas nenek moyang kita pertama kali pindah dari Afrika jauh lebih aw…

Leucoraja erinacea Mengungkap Evolusi Kaki 420 Juta Tahun Lalu

Sirkuit saraf untuk berjalan jauh mungkin telah berevolusi pada ikan purba sejak 420 juta tahun lalu. Sirip Leucoraja erinacea dibangun untuk berjalan dan itulah yang dilakukan ikan berkat konstruksi kabel yang berevolusi jauh sebelum vertebrata air menginjakkan kaki di darat.

Lengan kecil menggunakan dua sirip seperti kaki di bagian bawah untuk bergerak di sepanjang dasar laut. Langkah kiri dan kanan didukung oleh otot yang meregang dan memanjang dimana pergerakan terlihat sangat mirip dengan banyak hewan darat. Karya pertama adalah melihat asal mula sirkuit saraf yang dibutuhkan untuk berjalan.


Para ilmuwan menggunakan tes genetik dan melaporkan temuan ke Cell untuk menunjukkan mengapa kaki kecil di air dan vertebrata darat berbagi blueprint genetik yang sama untuk pengembangan sel saraf yang dibutuhkan untuk gerakan anggota badan sebagai sejarah alam yang sangat penting.

"Neuron penting bagi kita untuk berjalan berawal dari spesies ikan purba," kata Jeremy Dasen, neurosie…