Skip to main content

Menu Serangga Kutu Busuk Encosternum delegorguei Kaya Nutrisi

Penelitian ~ Di pedesaan Zimbabwe dan Afrika bagian selatan kutu busuk Encosternum delegorguei dirontok dari pohon, direbus dengan garam dan dimakan sebagai camilan.

Bermasalah di satu benua tidak menggangu di benua lain. Kutu busuk E. delegorguei meningkatkan kesehatan dan gizi di Afrika sebagai sumber pangan alternatif yang membantu memenuhi tuntutan seiring peningkatan jumlah manusia.

Sementara menu mainstream di Kabupaten Gunung Kidul terkenal belalang goreng, kuliner di Afrika lebih berani menghidangkan lauk pauk kutu busuk dengan tiga tingkatan rasa sesuai selera yaitu tidak pedas, sedengan dan sangat pedas.

Setelah menghapus kelenjar bau pertahanan evolusioner, serangga dipak dengan protein tinggi. Analisis kimia mengungkap banyak protein dan 12 asam amino esensial, juga asam lemak penurun kolesterol dan beberapa antioksidan berasal dari tanaman bunga.

E. delegorguei adalah suplemen protein yang baik sebagai alternatif diet berbasis sereal yang umum di negara-negara berkembang yang penting mensukseskan implementasi kebijakan ketahanan pangan secara tepat.


Kutu busuk yang dikumpulkan dalam keranjang kayu tradisional atau tenggok gandum memberi kimia anti-inflamasi dan dosis rendah racun penyebab kanker. Jika disimpan dalam plastik bersih membuat makanan bebas toksin.

Para ilmuwan dari Kenya dan Zimbabwe pekan ini melaporkan kompoisi nutrisi serangga berkaki 6 dan memiliki antena di Jiri Forest bertepatan dengan kekhawatiran dunia atas pemanasan global akibat emisi karbon oleh tradisi peternakan konvensional.

"Rekomendasi kami diet berbasis karbohidrat dapat diperkaya kutu busuk untuk meningkatkan penyerapan gizi," kata Baldwyn Torto dari International Centre of Insect Physiology and Ecology (ICIPE) di Nairobi.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) setidaknya dunia membutuhkan peningkatan produksi 70 persen lebih banyak makanan untuk mengisi perut 9 miliar manusia pada tahun 2050.


"Di seluruh benua Afrika beberapa makanan tradisional termasuk serangga sangat bergizi dan bermanfaat bagi kesehatan manusia dan harus dipromosikan sebagai menu mainstream," kata Torto.

"Kami lebih merekomendasikan pembuatan database semua serangga yang memungkinkan para ilmuwan menyelidiki manfaat gizi dan kesehatan untuk mengembangkan metode budidaya massa dan pengolahan," kata Torto.

Jurnal : Robert Musundire et al. Aflatoxin Contamination Detected in Nutrient and Anti-Oxidant Rich Edible Stink Bug Stored in Recycled Grain Containers, PLoS ONE, January 5, 2016, DOI:10.1371/journal.pone.0145914
Redaksi laporanpenelitian.com menerima kiriman tulisan dari siapa saja. Info lanjut kunjungi tautan ini.

Comments

Popular

Lumpur Sidoarjo Disuplai Gunung Arjuno-Welirang

Para ilmuwan melaporkan analisis terbaru tentang erupsi lumpur terbesar di dunia. Lusi (Lumpur Sidoarjo) mulai meletus pada 29 Mei 2006 di beberapa lokasi di Sidoarjo dimana lumpur mendidih, air, batu dan gas terludah dari ventilasi yang mengubur rumah-rumah dan pabrik-pabrik di puluhan desa dan memaksa 60.000 orang mengungsi.


Pada bulan September 2006, situs erupsi terbesar mencapai puncak dan banyak lumpur yang menyembur ke permukaan setiap hari mengisi kolam renang raksasa. Pemerintah membangun tanggul untuk menampung lumpur dan menyelamatkan permukiman dan sawah di sekitarnya.

Lusi masih terus berlangsung sampai sekarang dan menjadi letusan lumpur yang paling merusak dalam catatan sejarah. Lautan lumpur tanpa henti mengubur beberapa desa dengan kedalaman 40 meter dan gunung berapi tersebut secara berkala menyemburkan batu dan gas ke udara seperti geyser.

Sekitar 80.000 meter kubik lumpur setiap hari dan sekarang setelah lebih dari 11 tahun sejak pertama kali meletus, para ilmuwan …

Gambar Tiga Dimensi Struktur Detail Virus Zika Resmi Terbit

Penelitian ~ Struktur virus Zika dipetakan untuk pertama kalinya. Gambar 3D virus tidak hanya memancing inspirasi seni, tapi bisa pula memberi petunjuk bagaimana melawannya.

Deskripsi Spesies Ketiga Orangutan Pongo tapanuliensis

Para antropolog melaporkan spesies orangutan ketiga. Pongo tapanuliensis tidak lebih dari 800 individu sebagai populasi yang terancam punah dalam silsilah kera merah tertua yang masih hidup. Orangutan yang tinggal di kaki bukit berhutan di pulau Sumatra ini mewakili spesies yang sebelumnya tidak dikenal.


Para ilmuwan telah lama mengenal enam spesies kera besar selain genus Homo yaitu orangutan sumatera, orangutan Borneo, gorila timur, gorila barat, simpanse, dan bonobo. Namun, pada tanggal 2 November telah menambah satu lagi menjadi tujuh.

Michael Kr├╝tzen, antropolog evolusi dari University of Zurich, dan rekan melaporkan ke Current Biology dimana bukti genetik dan kerangka menempatkan P. tapanuliensis pada lintasan evolusioner terpisah dari orangutan lain di Sumatera (Pongo abelii) dan orangutan Borneo (Pongo pygmaeus).

"Ini bukan kejadian sehari-hari dimana kita menemukan spesies kera besar baru, jadi memang temuan ini sangat seru," kata Krutzen.

Pongo tapanuliensis adalah …

Alien Lebih Mirip Kita Daripada Monster

Alien mungkin lebih mirip diri kita sendiri. Film-film Hollywood dan fiksi ilmiah menceritakan alien seperti monster yang sangat berbeda dengan manusia, namun sebuah tim peneliti dari University of Oxford mengusulkan kita memiliki banyak kesamaan dengan para tetangga ekstra-terestrial.


Sebuah tim memberikan analisis untuk pertama kalinya bagaimana teori evolusi untuk prediksi alien dan lebih memahami tingkah lakunmya. Mereka menunjukkan bahwa alien terbentuk oleh proses dan mekanisme yang sama dalam membentuk manusia dalam seleksi alam.

Sam Levin, zoolog di University of Oxford, mengatakan teori Charles Darwin mendukung argumen bahwa bentuk kehidupan asing mengalami seleksi alam dan seperti manusia akan berkembang menjadi lebih efesien dan lebih kuat dari waktu ke waktu.

"Tugas mendasar astrobiologi memikirkan tentang kehidupan ekstra-terestrial seperti itu. Tapi membuat prediksi tentang alien sangat sulit. Satu contoh kehidupan di Bumi untuk diekstrapolasikan," kata Levin.

Teknik CRISPR-Cas9 Menciptakan Babi Rendah Lemak

Para ilmuwan China memasukkan gen tikus ke dalam babi untuk menciptakan 12 anak babi rendah lemak. Tim peneliti di Chinese Academy of Sciences menggunakan teknik CRISPR-Cas9 untuk mengedit gen pengatur suhu tubuh dengan membakar lemak untuk menciptakan daging babi rendah lemak.


Daging babi adalah menu paling favorit di dunia dan industri pangan ini memiliki nilai ekonomi triliunan dolar per tahun. Para ilmuwan di Beijing melaporkan telah berhasil menginput gen tikus menggunakan teknik CRISPR-Cas9 untuk menciptakan selusin anak babi tahan dingin dan rendah lemak.

Babi secara alami tidak memiliki gen UPC1 untuk membantu mengatur suhu tubuh. Jianguo Zhao, biolog Chinese Academy of Sciences, dan tim mengambil versi UPC1 dari tikus dan memasukkannya ke dalam embrio babi yang kemudian diimplan ke 13 babi betina. Tiga dari mereka melahirkan 12 bayi.

"Selama ini menjadi masalah besar bagi industri babi. Sekarang babi bisa menjaga suhu tubuh sendiri jauh lebih baik, yang berarti mereka bi…