Skip to main content

Misteri Ritual Rahasia Simpanse Melempar Batu ke Pohon

Penelitian ~ Simpanse Pan troglodytes rutin ritual melampar batu ke pohon sedikit membawa titik terang asal-usul situs ritual dalam sejarah evolusi hominin.

Meskipun simpanse sepupu evolusi terdekat manusia, jika Anda melihat batu di tangan sebaiknya menjaga jarak karena ikatan kekeluargaan tidak mencegah saling melempar tanpa saling mengolok-olok.

Primata umum menggunakan alat untuk mengolah makanan, tapi tujuan tergantung lokalitas karena sekelompok kerabat di Afrika Barat yang turun dari pohon mempertontonkan ritual memukul batu ke target arboreal.

Tumpukan mencolok batu di samping pohon di empat lokasi berbeda tidak mengesankan kecurigaan lain bahwa simpanse bertanggung jawab atas akumulasi batu yang secara teratur mengunjungi pohon-pohon.

Kamera tersembunyi merekan laki-laki dewasa, perempuan dan remaja melempar batu ke satu titik dan tampaknya terlepas dari konteks mencari makan di mana sebagian besar perilaku penggunakan alat sebelumnya dijelaskan pada simpanse.


Sementara batu memiliki peran fungsional dan nonfungsional yang membentang dalam sejarah hingga mengusir iblis di Arab Saudi, P. troglodytes berbadan gempal rutin melakukan bahwa rukun lempar batu budaya primitif hominidae.

Para ilmuwan pekan ini melaporkan data 17 bulan observasi non-invasif menggunakan kamera pada populasi simpanse di Guinea-Bissau, Guinea, Liberia dan Pantai Gading sebagai pertama pengamatan ritual budaya yang tetap membingungkan.

"Akumulasi batu tampaknya tidak terkait kelimpahan alami. Ada kemungkinan memiliki beberapa elemen budaya," kata Hjalmar Kuehl, antropolog Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig.



Dua hipotesis utama bahwa perilaku adalah cara laki-laki membuat suara untuk menarik perhatian wanita sekaligus intimidasi kepada laki-laki pesaing. Hipotesis kedua adalah akumulasi batu mungkin memiliki makna simbolik atau budaya.

"'Proyek Pan African Programme: The Cultured Chimpanzee merupakan pendekatan baru untuk mempelajari simpanse," kata Kuehl.

"'Banyak wawasan menarik demografi dan struktur sosial, genetika, perilaku dan budaya karena kolaborasi peneliti, pekerja lapangan dan otoritas satwa liar di 14 negara Afrika," kata Kuehl.

Jurnal : Hjalmar S. Kühl et al. Chimpanzee accumulative stone throwing, Scientific Reports, 29 February 2016, DOI:10.1038/srep22219

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.