Skip to main content

Australopithecus sediba Tidak Konsumsi Makanan Keras

Penelitian ~ Gigitan tak lebih kuat mengunyah, nenek moyang manusia berjuang untuk makan makanan keras dan jika Australopithecus sediba memaksa, rahang terkilir.

Hominid kecil bipedal A. sediba yang ditemukan terbaring di Gua Malapa Afrika Selatan pada tahun 2008 sebagai kandidat terbaik leluhur langsung Homo sapiens bukan penggemar diet serat tinggi.

Hipotesis yang menyatakan kerabat nenek moyang manusia potensial lainnya harus sudah mengunyah produk tanaman polong-polongan memiliki gigi rapuh yang membatasi konsumsi makanan keras.

Analisis mikroskopis permukaan gigi pada tahun 2012 menyarankan diet A. sediba terdiri dari makanan keras dicampur buah-buahan, daun dan kulit kayu bertentangan dengan struktur fungional mekanika anatomi.

Para ilmuwan pekan ini melaporkan salah satu pendahulu umat manusia yang muncul dalam catatan fosil 2 juta tahun lalu memiliki gigitan jauh lebih buruk dan jika mencoba-coba mengunyah kacang rahang sendiri terkilir.

Sementara australopith lain memiliki adaptasi luar biasa rahang, gigi dan wajah yang memungkinkan untuk memproses makanan sulit, A. sediba tidak memiliki kekuatan penuh untuk memecah kacang.

"Beberapa ilmuwan menganggap Australopithecus sediba berdiri paling dekat sebagai penurun genus Homo," kata David Strait, antropolog Washington University di St Louis.

"Tapi jika gigitan dipaksa sekeras mungkin dan gigi molar memanfaatkan kekuatan penuh otot dalam mengunyah, rahang mereka terkilir," kata Strait.

Kerangka luar biasa ditemukan lengkap beserta tanda-tanda keausan deretan gigi memberi informasi cukup untuk menguji pola makan menggunakan banyak teknologi yang sama ketika insinyur menguji daya tahan mobil dan pesawat.

A. sediba yang hidup memiliki kemampuan berjalan tegak dengan dua kaki tetapi otak kecil, wajah tidak datar dengan rahang kecil dan tidak memiliki struktur yang diperlukan untuk bertahan hidup terkait diet adalah paradoks.


Sementara beberapa populasi australopith lain telah mengembangkan adaptasi untuk memaksimalkan kemampuan dalam menggigit bahan pangan keras, A. sediba berkembang dalam arah yang berlawanan.

Menjadi nenek moyang manusia harus menyertakan evolusi yang dibentuk oleh perubahan pola makan dan pencarian bahan makanan yang bervariasi bahwa australopith lain lebih berwenang daripada A. sediba.

Jurnal : Justin A. Ledogar et al. Mechanical evidence that Australopithecus sediba was limited in its ability to eat hard foods, Nature Communications, 08 February 2016, DOI:10.1038/ncomms10596

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.