Skip to main content

Motif Garis-Garis Zebra Bukan Untuk Tujuan Kamuflase

Penelitian ~ Tujuan motif garis-garis zebra tetap menjadi misteri. Fitur hitam putih di punggung zebra bukan untuk melayani kamuflase latar belakang.

Orang-orang yang pernah tinggal di dekat hewan Afrika mungkin telah mengajukan pertanyaan untuk waktu cukup lama termasuk Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace.

Garis-garis zebra tidak melayani untuk kamuflase dengan latar belakang lingkungan karena pada titik di mana predator dapat melihat garis-garis sudah mampu mendengar atau mencium bau mangsa.

Meskipun manusia memiliki penglihatan terbaik dengan filter yang menirukan penglihatan zebra di siang hari, predator juga cukup mudah melihat garis-garis di punggung zebra.

Manusia dapat melihat garis-garis pada jarak terjauh 180 meter, zebra melihat satu sama lain 140 meter, singa dan hyena pada jarak 80 meter dan 48 meter untuk membedakan garis-garis, tapi semua jarak dalam jangkauan adu lari.

Dalam cahaya redup fajar dan senja semua hewan perlu sedikit lebih dekat untuk melihat garis-garis dan masih sama dengan skala mata manusia bahwa gelap malam garis-garis besar memudar menjadi abu-abu.

Para ilmuwan pekan lalu menyingkirkan hipotesis bahwa garis-garis hitam zebra adalah kamuflase yang menirukan batang pohon dan garis-garis putih bercampur dengan poros cahaya di sela-sela pepohonan.

"Kami mendukung apa yang diperdebatkan oleh Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace," kata Tim Caro, enviromentalis University of California Davis.

"Hasil kami tidak memberikan dukungan sama sekali untuk ide berabad-abad bahwa garis-garis zebra melayani beberapa jenis efek penyamaran anti-predator," kata Caro.

Caro dan rekan menguji hipotesis penyamaran di savana lapangan di Tanzania melalui filter spasial dan warna yang mensimulasikan bagaimana zebra muncul di mata predator.

Sejak tahun 1800-an para ilmuwan datang dengan 4 teori utama bahwa garis-garis bertindak kamuflase terhadap predator, memperkuat ikatan sosial di antara zebra, menangkis parasit dan mendinginkan badan.

Teori kamuflase paling panjang diperbincangkan dengan berbagai argumen pencitraan blur fajar dan senja, mengaburkan pandangan predator, garis-garis bergabung menjadi warna abu-abu sehingga sulit dilihat dari kejauhan.

Satu hal yang hilang dari diskusi adalah pengetahuan bagaimana zebra benar-benar tampak seperti dugaan dilihat predator. Penglihatan manusia berbeda dari non primata. Motif hitam-putih mungkin tidak nampak bagi singa.

Caro juga berpendapat hipotesis pengakuan sosial tidak mungkin tetapi tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan karena zebra dapat melihat garis-garis yang lebih baik daripada predator.

Sampai saat ini tidak ada bukti observasi di lapangan untuk mendukung ikatan sosial dan kuda domestik dapat menggunakan isyarat visual selain garis-garis untuk saling mengenali.

Caro mengatakan hipotesis anti parasit paling mungkin dari empat penjelasan utama untuk garis-garis karena laporan sebelumnya bahwa lalat Tsetse lebih memilih mendarat di warna solid daripada garis-garis.

Tapi diskusi belum selesai karena laporan lain membuktikan garis-garis juga membantu termoregulasi. Tidak persis untuk memutus perdebatan ratusan tahun, hanya waktu yang akan memberitahu.
Zebra Stripes through the Eyes of Their Predators, Zebras, and Humans

Amanda D. Melin et al.

PLoS ONE, January 22, 2016, DOI:10.1371/journal.pone.0145679
Redaksi laporanpenelitian.com menerima kiriman tulisan dari siapa saja. Info lanjut kunjungi tautan ini.

Comments

Popular

Deskripsi Spesies Ketiga Orangutan Pongo tapanuliensis

Para antropolog melaporkan spesies orangutan ketiga. Pongo tapanuliensis tidak lebih dari 800 individu sebagai populasi yang terancam punah dalam silsilah kera merah tertua yang masih hidup. Orangutan yang tinggal di kaki bukit berhutan di pulau Sumatra ini mewakili spesies yang sebelumnya tidak dikenal.


Para ilmuwan telah lama mengenal enam spesies kera besar selain genus Homo yaitu orangutan sumatera, orangutan Borneo, gorila timur, gorila barat, simpanse, dan bonobo. Namun, pada tanggal 2 November telah menambah satu lagi menjadi tujuh.

Michael Kr├╝tzen, antropolog evolusi dari University of Zurich, dan rekan melaporkan ke Current Biology dimana bukti genetik dan kerangka menempatkan P. tapanuliensis pada lintasan evolusioner terpisah dari orangutan lain di Sumatera (Pongo abelii) dan orangutan Borneo (Pongo pygmaeus).

"Ini bukan kejadian sehari-hari dimana kita menemukan spesies kera besar baru, jadi memang temuan ini sangat seru," kata Krutzen.

Pongo tapanuliensis adalah …

Pisang Cavendish Modifikasi Genetik Tahan Jamur TR4

Eksperimen lapangan di Australia menunjukkan pohon pisang yang dimodifikasi secara genetik dapat melawan jamur mematikan yang menyebabkan penyakit Panama dan telah menghancurkan tanaman pisang di Asia, Afrika, Australia dan menjadi ancaman besar bagi para petani pisang di Amerika.


Pisang adalah salah satu produk pangan paling populer di dunia, menjadi makanan pokok lebih dari 400 juta orang dan memiliki nilai bisnis besar. Pada tahun 1950an, jamur tanah menghancurkan varietas Gros Michel yang populer di Amerika Latin.

Para petani mengganti dengan varietas Cavendish yang lebih tahan dan sekarang menghasilkan lebih dari 40% hasil panen di seluruh dunia. Pada tahun 1990an, musuh Cavendish muncul di Asia Tenggara. Jamur baru ini disebut ras tropis layu Fusarium 4 (TR4).

Fungisida tidak dapat mengendalikan TR4, sementara desinfektan pada sepatu bot dan alat pertanian bisa membantu, tapi tidak cukup. TR4 terdeteksi di Timur Tengah pada tahun 2012 dan muncul di Mozambik setahun kemudian. Sek…

Bakteri Adalah Mesin Penggiling Makanan Dalam Usus

Mikrobiom adalah pengiling makanan dalam usus. Kontraksi spontan saluran pencernaan memainkan peran penting pada hampir semua hewan dan memastikan fungsi usus sehat. Invertebrata sederhana hingga manusia memiliki pola yang sama dimana kontraksi otot ritmis memudahkan pengangkutan dan pencampuran isi usus.

Kontraksi di dalam usus dikenal sebagai peristaltik dan sangat penting untuk proses pencernaan. Berbagai penyakit pada saluran pencernaan seperti radang usus parah pada manusia akibat dari gangguan pada peristaltik normal.


Sangat sedikit peneliti yang fokus meneliti faktor-faktor yang mendasari kontraksi ini. Sekarang untuk pertama kalinya tim peneliti Zoological Institute di Kiel University membuktikan bahwa kolonisasi bakteri usus memainkan peran penting dalam mengendalikan fungsi peristaltik.

Para ilmuwan melaporkan contoh polip air tawar Hydra dimana pemicu kontraksi spontan normal dari jaringan otot dari sistem saraf. Ritme tertentu dan tanpa stimulasi eksternal mengeluarkan imp…

Paus Bowhead Menggosok Batu Untuk Melepas Kulit

Paus Bowhead (Balaena mysticetus) datang ke Cumberland Sound di Nunavut untuk menggaruk kepala. Rekaman udara drone merekam paus bowhead di Arktik Kanada dan mengungkap bahwa mamalia flamboyan besar tersebut merana dan menggunakan batu untuk melepas kulit mati.

Rekaman tersebut memberikan satu jawaban atas misteri mengapa paus kembali ke Cumberland Sound, Nunavut, setiap musim panas dan membantu menjelaskan beberapa perilaku tidak biasa yang telah dicatat secara historis oleh masayarakat Inuit dan para penunggang kuda yang tinggal dan bekerja di daerah tersebut.


"Ini adalah pengamatan insidental. Kami berada di sana untuk mendokumentasikan mangsa dan perilaku makan, tapi kami melihat beberapa perilaku aneh di dekat pantai," kata Sarah Fortune, oceanografer University of British Columbia di Vancouver.

Fortune dan tim sedang di atas sebuah kapal saat paus berbalik ke sisi mereka dan melambaikan sirip dan ekor ke udara. Ketika para periset mengirim drone untuk merekam dari atas…

Amputan Menggerakkan Tangan Robot Dengan Pikiran

Amputan belajar mengendalikan lengan robot dengan pikiran. Sebuah tim neurosains di University of Chicago menunjukkan orang-orang yang menjalani amputasi lengan bisa belajar mengendalikan lengan robot melalui elektroda yang ditanamkan di otak.

Para ilmuwan melaporkan perubahan di kedua sisi otak yang digunakan untuk mengendalikan anggota badan yang telah diamputasi. Kedua area otak membuat koneksi baru untuk belajar mengendalikan perangkat, bahkan beberapa tahun setelah diamputasi.


"Ini adalah aspek baru, melihat bahwa orang-orang yang diamputasi secara kronis dan jangka panjang dapat belajar mengendalikan anggota tubuh robotik," kata Nicho Hatsopoulos, biolog di University of Chicago.

"Tapi yang juga menarik adalah plastisitas otak dari pemaparan jangka panjang dan melihat apa yang terjadi pada konektivitas jaringan saat mereka belajar mengendalikan perangkat," kata Hatsopoulos.

Eksperimen sebelumnya telah menunjukkan bagaimana pasien manusia lumpuh dapat memindah…