Skip to main content

Tungau Kulit Demodex folliculorum Bersaksi Evolusi Manusia

Penelitian ~ Genetika tungau wajah menyimpan petunjuk evolusi manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis di wajah Anda bicara di mana Anda berasal.

Jauh di folikel rambut dan kelenjar keringat, Arthropoda kecil pemakan sel kulit mati, kawin dan bertelur di hampir semua mamalia bersaksi dalam peradilan di mana asal-usul dan leluhur Anda.

Makhluk mikroskopis di wajah yang kadang menyebalkan dan membuat kerusakan dalam berbagai situasi melacak garis keturunan bahwa distribusi tungau global mencerminkan sejarah migrasi dan evolusi leluhur manusia.

Evolusi Homo sapiens tidak terjadi di dalam ruang hampa. Bakteri, virus, kutu hingga tikus saling mengintervensi keuntungan, meskipun Demodex sering merepotkan dengan gangguan kulit seperti rosacea.

Tungau D. folliculorum nyaman ditemukan di dekat permukaan kulit, sementara D. brevis yang biasanya hidup jauh di dalam kelenjar yang mengeluarkan minyak keringat ke kulit.

Para ilmuwan pekan ini melaporkan sebuah keyakinan kepada catatan fosil dan genetik manusia modern pertama berevolusi dari saudara bipedal lain di Afrika menggunakan landasan hipotesis distribusi spesies tungau.

"Ketika Anda memikirkan semua parasit manusia dan masing-masing memiliki sejarah, Anda menyadari lebih banyak tentang siapa Anda dan dari mana berasal," kata Michael Palopoli, biology Bowdoin College di Brunswick.

Para peneliti melakukan analisis keragaman genetik tungau utuh yang langsung dikumpulkan dengan lembut dari dahi 70 orang Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Selatan untuk memajang geografi leluhur.

Populasi Demodex stabil di kulit seseorang selama bertahun-tahun bahkan setelah menghabiskan generasi yang tinggal di tempat baru dan variasi genetik dibagikan dalam keluarga.


Demodex folliculorum kemungkinan berasal dari spesies leluhur 2,4 juta hingga 3,8 juta tahun lalu dan kemudian menyimpang di antara populasi keturunan Homo sapiens di Afrika seiring meninggalkan benua dan bermigrasi di seluruh planet.

Sementara semua tungau Eropa adalah jenis mitokondria gen D, manusia menunjukkan pola sama dalam beberapa hal. Afrika memiliki genom paling beragam yang menyarankan penelitian masa depan bisa memberi timeline lebih jelas.

Palopoli memasang paku di peti mati bahwa tungau menawarkan cara baru lebih elegan dalam penyelidikan sejarah dan hubungan populasi manusia, meskipun penelitian lain pada kutu telah berusaha mengungkap wawasan sama.

Bahkan orang-orang dengan keturunan yang sama memiliki perbedaan halus profil tungau dan ciri-ciri ini memberi pegangan dengan peta sejarah manusia yang bersifat lebih akurat dan konsisten daripada spesies lainnya.

Global divergence of the human follicle mite Demodex folliculorum: Persistent associations between host ancestry and mite lineages

Michael F. Palopoli et al.

Proceedings of the National Academy of Sciences, December 14, 2015, DOI:10.1073/pnas.1512609112

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.