Skip to main content

Sekuen Genom Tokek Jepang (Gekko japonicus)

Penelitian ~ Genom tokek ungkap rahasia memanjat tembok dan regenerasi ekor. Tokek Jepang (Gekko japonicus) telah selesai diurutkan dan membuka sedikit teka-teki.

Untuk menghindari predator, tokek melepaskan ekor dan kemudian dengan cepat melesat pergi, kadang-kadang balapan di permukaan halus vertikal atau bahkan posisi terbalik. Sebuah ekor baru tumbuh kembali dalam beberapa bulan.

Reptil telah mengalami pahit getir evolusi 300 juta tahun, menyebar di seluruh planet dan beradaptasi dengan keragaman habitat di darat dan air dengan 1.450 spesies. Tokek mengisi seperempat dari semua kadal yang dikenal.

Kunci hidup di ceruk terestrial dengan ukuran tubuh kecil, lincah dan kebiasaan nokturnal. Bantalan perekat kaki dengan rambut mikroskopis disebut setae memanjat dinding dan langit-langit.

Sementara genom beberapa spesies reptil telah diurutkan, sampai saat ini belun ada data genom untuk anggota keluarga Gekkonidae, sedangkan banyak misteri menunggu untuk diungkap.

Para ilmuwan sekuensing genom Tokek Jepang (G. japonicus) yang menunjuk banyak gen terkait kemampuan memanjat serta regenerasi ekor dan penglihatan di malam hari.

Xiaosong Gu, genomikawan Nantong University, dan tim sequensing seluruh genom berisi 2,55 miliar basis dngan lebih dari 22.487 gen serta identifikasi keterampilan kemelekatan, visual cahaya rendah dan regeneratif ekor.

Setae terbuat dari protein beta-keratin dimana laporan sebelumnya menunjuk gen beta-keratin penting untuk evolusi sisik, cakar, taring dan bulu pada reptil dan burung.

G. japonicus memiliki setidaknya 35 gen setae beta-keratin atau hampir 2 kali lipat dari kadal Anolis. Setae mengalami dua ekspansi kuno sekitar 100 juta tahun lalu dan 80 juta tahun lalu yang konsisten dalam catatan fosil.

Hewan yang lebih aktif pada malam hari berbagi karakteristik tertentu seperti sensitivitas cahaya, defisit penglihatan warna, penciuman tinggi dan indera pendengaran khusus.

Protein opsin salah satu molekul fotosensitif di dalam sel-sel fotoreseptor mata menunjuk transisi dari gaya hidup diurnal menjadi nokturnal. Sembilan gen opsin ditemukan dalam genom G. japonicus.

Selanjutnya 155 gen berpotensi terlibat dalam regenerasi ekor. Ketika jaringan ekor buntung, ekspresi PTGIS dan PTGS1 meningkat dalam 3 hari kemudian untuk mengakumulasi sel-sel pertumbuhan.
Gekko japonicus genome reveals evolution of adhesive toe pads and tail regeneration

Yan Liu et al.

Nature Communications, 24 November 2015, DOI:10.1038/ncomms10033

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.