Skip to main content

Homo naledi Gaya Hidup Bipedal Sekaligus Arboreal

Penelitian ~ Anggota baru keluarga besar manusia memiliki kaki untuk berjalan dan tangan untuk memanjat. Homo naledi memiliki gaya arboreal dan terestrial sekaligus.

Sementara kaki hominin gua Rising Star di Afrika Selatan menyombongkan diri berjalan dengan 2 kaki, jari-jari tangan melengkung cocok untuk memanjat tapi ibu jari dan pergelangan bisa memegang alat.

Analisis tulang tangan dan kaki H. naledi, tambahan terbaru genus manusia, memiliki adaptasi gaya hidup di permukaan tanah, tapi jari-jari melengkung jelas gaya hidup di pohon.

Kiprah bipedal dengan berjalan tegak menggunakan 2 kaki adalah proses evolusi berantakan dengan eksperimen dan kebuntuan menjadi manusia modern dalam garis-garis leluhur adalah tumpang tindih.

Ketika para leluhur meminta turun dari pohon, Anda masih menyesuaikan diri dengan tulang warisan dan sesekali memanjat untuk memetik buah atau bersembunyi dari incaran para predator.

Para ilmuwan melaporkan manusia kuno punah relatif manusia yang terbaring dalam gua gelap dan sempit di Afrika Selatan mahir berjalan dengan 2 kaki, menggunakan alat dan sekaligus berayun di pohon.

Kaki sudah modern tapi jari melengkung untuk berayun bahwa kemampuan gabungan unik berbagai genus meninggalkan potongan spekulasi di mana H. naledi cocok dalam kisah evolusi manusia.

Sisa-sisa 15 kerangka individu H. naledi dilaporkan bulan lalu dari gua Rising Star di Afrika Selatan dekat Johannesburg dengan tubuh kecil dan ramping dan otak seukuran jeruk.

Meskipun manusia modern adalah satu-satunya spesies hidup hari ini, spesies manusia lain telah berjalan di Bumi. Silsilah genus Homo dan kerabat dekat termasuk Australopithecus yang kemudian disebut hominin.


"Kombinasi ini cukup mengejutkan. Anda memiliki tangan untuk memanipulasi alat yang juga masih digunakan untuk memanjat," kata Tracy Kivell, bioantropolog University of Kent di Inggris.

Para ilmuwan belum menganalisis setiap alat batu di dekat sisa-sisa H. naledi, tetapi jika spesies memang memanipulasi batu maka penggunaan alat tanpa banyak membutuhkan kekuatan otak.

"Kita memiliki keragaman lebih besar dalam fosil nenek moyang manusia dari apa yang kita bayangkan," kata Kivell.

Kaki serupa Homo neanderthalensis dan Homo sapiens di kemudian hari dengan sejumlah perbedaan halus. Tulang melengkung membantu keseimbangan H. naledi ketika turun dari pohon.

"Tegas mereka menghabiskan lebih banyak waktu berjalan tegak daripada tidak," kata William Harcourt-Smith, antropolog City University of New York.

"Tapi Anda bayangkan mereka juga menghabiskan waktu di pohon untuk mengumpulkan buah atau mungkin bersarang atau ketika ada predator," kata Harcourt-Smith.
The foot of Homo naledi

W. E. H. Harcourt-Smith et al.

Nature Communications, 06 October 2015, DOI:10.1038/ncomms9432

The hand of Homo naledi

Tracy L. Kivell et al.

Nature Communications, 06 October 2015, DOI:10.1038/ncomms9431

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.