Skip to main content

Genom Kiwi Coklat Pulau Utara (Apteryx mantelli)

Credit: Glen Fergus
Penelitian ~ Tim internasional selesai sekuensing genom Kiwi Coklat Pulau Utara (Apteryx mantelli) dan identifikasi beberapa perubahan yang mendasari burung nocturnal.

Kiwi terdiri 5 spesies genus Apteryx, terancam punah, hidup di tanah dan endemik Selandia Baru. Mereka perwakilan burung nocturnal terkecil dan hanya dari ratite, sekelompok burung mencakup burung unta dan emu.

Kiwi luar biasa dengan penciuman tajam, tingkat metabolisme rendah dan telur sangat besar relatif ukuran tubuh. Tapi keunikan adaptasi genetik belum dipahami literatur.

Kiwi Coklat Pulau Utara (Apteryx mantelli) mengembangkan penciuman tajam dan berpisah dari saudara sepupu tepat 35 juta tahun lalu ketika datang ke pulau Selandia Baru.

"Kami menunjuk pertama bahwa kiwi agak buta warna dan reseptor penciuman penting untuk mencari di malam hari," kata Diana Le Duc, biokimiawan University of Leipzig.

"Adaptasi ini terjadi 35 juta tahun lalu setelah kedatangan mereka di Selandia Baru, mungkin sebagai konsekuensi gaya hidup malam hari," kata Le Duc.

Gen bertanggung jawab untuk rhodopsin yaitu penglihatan hitam dan putih ditemukan mirip dengan vertebrata lainnya. Tapi para ilmuwan mengidentifikasi mutasi gen reseptor hijau dan biru absen pada kiwi.

Perubahan genomik penglihatan kiwi dan penciuman konsisten dengan perubahan diperkirakan terjadi selama adaptasi dengan gaya hidup aktif di malam hari pada dunia mamalia.

Le Duc dan rekan mendating perubahan ini sekitar 35 juta tahun lalu bahwa kiwi mengadopsi gaya hidup malam hari yang tak lama setelah kedatangan leluhurnya di Selandia Baru.

Saat kiwi datang, ratite lainnya yaitu moa sudah menghuni Selandia Baru dan memonopoli sumber makanan siang hari, memaksa kiwi mengadopsi gaya hidup alternatif malam hari.

"Botanis dan zoolog Perancis Jean Baptiste de Lamarck hidup di abad ke-18 menyarankan hipotesis bahwa evolusi bekerja sesuai prinsip use it or lose it," kata Le Duc.

"Sangat mungkin kiwi kehilangan penglihatan warna sejak itu, tidak lagi diperlukan untuk gaya hidup baru di malam hari," kata Le Duc.

"Penciuman lebih diperlukan untuk mencari makan dalam gelap. Respon lebih akut dan meningkat dengan reseptor lebih keragaman dan luas," kata Le Duc.

Kiwi memiliki lubang hidung sampai di akhir paruh panjang dan para ilmuwan berpikir lebih mirip mamalia daripada burung. Hewan nokturnal cenderung memiliki metabolisme energi rendah dan kiwi terendah di antara semua burung.

Genom memiliki perubahan yang memperkaya gen terkait dengan pengeluaran energi, cadangan dan proses metabolisme sangat cukup terkait dengan gaya hidup nokturnal.
Kiwi genome provides insights into evolution of a nocturnal lifestyle

Diana Le Duc1,2 et al.
  1. Institute of Biochemistry, Medical Faculty, University of Leipzig, Johannisallee 30, Leipzig 04103, Germany
  2. Department of Evolutionary Genetics, Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig 04103, Germany
Genome Biology, 23 July 2015, DOI:10.1186/s13059-015-0711-4

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.