Skip to main content

Gorila Gunung (Gorilla beringei beringei) Terjebak Genetik

www.LaporanPenelitian.com - Kisah sedih Gorila Gunung (Gorilla beringei beringei) terjebak dalam kemacetan genetik, final genom menegaskan tingkat mengejutkan perkawinan sedarah.

Kaboko, Gorila Gunung (Gorilla beringei beringei), mengawali hidup pahit pada tahun 2007. Anak yatim berumur 3 tahun tertangkap jerat pemburu di Republik Demokratik Kongo.

Konservasionis terpaksa mengamputasi tangan untuk mengatasi infeksi lukanya. Kaboko berarti "hilang satu lengan" dalam bahasa lokal. Kaboko meninggal pada tahun 2012, tapi DNA-nya tetap hidup.

Para peneliti menggunakan informasi genetik Kaboko dan 6 lainnya untuk membangun sekuen genom lengkap pertama Gorila Gunung bersama genom Gorila Dataran Rendah Timur (Gorilla beringei graueri).

Genom menegaskan keragaman genetik kedua subspesies menurun selama kurun 100.000 tahun. Ini mengejutkan karena mereka mudah mengakses makanan dan tidak memiliki predator. Tapi mereka sangat tertekan.

Beberapa tekanan mungkin disebabkan perubahan alam di tingkat hutan Afrika Tengah dan munculnya manusia, tetapi keseimbangan relatif faktor-faktor tersebut di masa lalu sulit diukur.

Dampak terbaru manusia semakin jelas. Perburuan menyebabkan populasi gorila kurang dari 300 sejak tahun 1970-an. Jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 800 berkat upaya konservasi seperti primatolog Dian Fossey.

Kromosom Gorila Gunung 34,5%, Gorila Dataran Rendah bahkan 38,4%. Kedua subspesies memiliki keragaman genetik jauh lebih rendah dari Gorila Barat (Gorilla gorilla) dengan 13,8% dan bahkan anak-anak manusia hasil perkawinan sepupu (11%).

Gorila bukanlah primata non-manusia pertama yang memiliki genom lengkap, Simpanse (Pan troglodytes) sudah dilakukan pada tahun 2005. Tapi gorila gunung di antara primata yang paling sulit dipelajari.

Tidak seperti hominidae lainnya, tidak ada Gorila Gunung hidup di penangkaran. Mereka semua di alam liar Virunga Volcano Massif dan Bwindi Impenetrable Forest. Keduanya terpisah 30 kilometer di Republik Demokratik Kongo, Rwanda dan Uganda.

Para peneliti menghabiskan 6 tahun menunggu izin untuk mempelajari sampel darah Gorila Gunung yang dikumpulkan oleh badan amal Gorilla Doctors yang berinteraksi langsung dengan gorila liar yang terluka.

Penundaan itu disebabkan oleh dokumen yang ketat diperlakukan oleh Convention on International Trade in Endangered Species dari Wild Fauna and Flora, perjanjian yang mengatur material tersebut.
Mountain gorilla genomes reveal the impact of long-term population decline and inbreeding

Yali Xue1 et al.
  1. Wellcome Trust Sanger Institute, Wellcome Trust Genome Campus, Hinxton CB10 1SA, UK
Science, 10 April 2015, DOI:10.1126/science.aaa3952. Gambar: Gorilla Doctors/UC Davis

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …