Skip to main content

Little Foot Australopithecus prometheus di Afrika Selatan

LaporanPenelitian.com - Spesies Lucy Australopithecus afarensis, garis hominid Afrika Timur, memiliki mitra di Afrika Selatan Australopithecus prometheus.

‘Little Foot’ Australopithecus prometheus mendorong kembali usia awal hominid Afrika Selatan, dating spesies yang hidup di era Lucy Australopithecus afarensis.

Sebuah kerangka hampir lengkap di situs Sterkfontein Caves, Afrika Selatan, datang 3,67 juta tahun lalu sehingga kira-kira 1 juta tahun lebih tua dari hominid Afrika Selatan lainnya.

Perkiraan dating spesimen sebelumnya pada sekitar 3-2 juta tahun. Dating baru, jika benar, membuat Kaki Kecil kontemporer dengan spesies Lucy di Afrika Timur dari sekitar 4-3 juta tahun.

"Dating baru Littel Foot pengingat bahwa ada banyak spesies Australopithecus di lanskep lebih luas daripada hanya sejumlah kecil situs di Timur dan Selatan," kata Ronald Clarke, paleoantropolog University of the Witwatersrand di Johannesburg.

Sejak tahun 1997, Clarke bekerja dengan kerangka ‘Little Foot’ yang masing terbungkus dalam batu. Hujan sebentar-sebentar mencuci tanah Sterkfontein Caves dan mengganggu sedimen sehingga sulit dan memakan waktu.

Darryl Granger, geolog Purdue University di West Lafayette, Indiana, dan rekan mengukur peluruhan radioaktif aluminium dan berilium 11 sampel kuarsa yang melekat di kerangka.

Peluruhan setiap elemen terjadi pada tingkat yang diketahui setelah sedimen dimakamkan. Sembilan dari 11 sampel menunjuk tingkat peluruhan yang sebanding bahwa batuan tergeletak di atas satu kesempatan.

Granger dan tim menggunakan teknik yang sama untuk artefak batu saat ditemukan di tempat lain di Sterkfontein Caves menjadi 2,18 juta tahun. Alat batu di situs Afrika Selatan di dekatnya juga berdating sekitar 2 juta tahun.

Beberapa spesies Australopithecus berevolusi di Afrika Timur sekitar waktu yang sama bahwa varian lain dari genus kuno bisa muncul di tempat lain di Afrika. Gigi khas panjang, wajah datar dan sifat-sifat lainnya menegaskan spesies baru.



New cosmogenic burial ages for Sterkfontein Member 2 Australopithecus and Member 5 Oldowan

Darryl E. Granger1 et al.
  1. Department of Earth, Atmospheric, and Planetary Sciences, Purdue University, West Lafayette, Indiana 47907, USA
Nature, 01 April 2015, DOI:10.1038/nature14268. Gambar dan video: Purdue University

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …