Skip to main content

Degradasi Spons Tulang Evolusi Pasca Fajar Pertanian

LaporanPenelitian.com - Pemburu-pengumpul terakhir memiliki tulang rapuh akibat tidak aktif sejak fajar pertanian. Ribuan tahun evolusi manusia membuat kerangka jauh lebih ringan.

Simpanse modern, Australopithecus africanus, Homo neanderthalensis dan bahkan Homo sapiens awal memiliki kepadatan spons tulang lebih tinggi dibanding manusia saat ini.

Sebuah tim mengusulkan hipotesis dengan membandingkan kepadatan spons sendi pinggul primata non-manusia, pemburu-pengumpul kuno dan petani kuno. Pergeseran gaya hidup menetap menyebabkan tulang semakin rapuh.

Pemburu-pengumpul pada sekitar 7.000 tahun lalu memiliki tulang sebanding dalam kekuatan orangutan modern, petani yang sama lebih dari 6.000 tahun kemudian secara signifikan memiliki tulang lebih ringan dan lebih lemah.

Budaya pertanian mengurangi massa tulang 20% atau setara rata-rata astronot kehilangan berat badan setelah 3 bulan di ruang angkasa. Penurunan aktivitas fisik akar penyebab degradasi kekuatan tulang sejak ribuan tahun.

"Manusia kontemporer hidup dalam lingkungan budaya dan teknologi sesuai dengan adaptasi evolusi," kata Colin Shaw, antropolog University of Cambridge.

"Ada 7 juta tahun evolusi hominid membimbing tindakan dan aktivitas fisik untuk bertahan hidup. Duduk di mobil atau di depan meja bukanlah apa yang kita lakukan dalam evolusi sebelumnya," kata Shaw.

Sendi panggul pemburu-pengumpul sekuat kera lain, sedangkan pinggul petani kuno memiliki pengurangan spons yang signifikan. Jadi jika Anda ingin kerangka tetap kuat, mulailah berolahraga seperti pemburu-pengumpul.
Recent origin of low trabecular bone density in modern humans

Habiba Chirchir1,2 et al.
  1. Center for the Advanced Study of Hominid Paleobiology, Department of Anthropology, The George Washington University, Washington, DC 20052
  2. Human Origins Program, Department of Anthropology, National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, Washington, DC 20560
Proceedings of the National Academy of Sciences, 22 December 2014, DOI:10.1073/pnas.1411696112

Gracility of the modern Homo sapiens skeleton is the result of decreased biomechanical loading

Timothy M. Ryan1 et al.
  1. Department of Anthropology, Center for Quantitative Imaging, EMS Energy Institute, The Pennsylvania State University, University Park, PA 16802; and Phenotypic Adaptability, Variation and Evolution Research Group
Proceedings of the National Academy of Sciences, 22 December 2014, DOI:10.1073/pnas.1418646112. Gambar: Stephan Schuster/Penn State University

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.