Skip to main content

Capung Plathemis lydia Prediksi Jalur Terbang Mangsa

LaporanPenelitian.com - Capung Ekor Putih (Plathemis lydia) antisipasi jalur mangsa. Untuk menangkap mangsa lincah, capung mengandalkan orientasi prediksi.

Serangga menggunakan seni seperti kiper Bayern Munich Manuel Neuer melihat ke mana arah bola akan pergi, tubuh dan tangan menyiapkan segala sesuatu untuk merebut dari udara.

Capung Ekor Putih (Plathemis lydia) terdidik keterampilan seni prediksi dan tidak membabi buta dengan menyalin setiap gerakan kemudi yang dilakukan mangsa mencakup lalat dan lebah.

"Capung melakukan perhitungan internal setiap bit serumit penari balet," kata Anthony Leonardo, entomolog Janelia Research Campus di Ashburn, Virginia.

Leonardo dan rekan menghabiskan beberapa tahun merancang sistem untuk melacak gerakan capung memotong mangsa. Menggunakan posisi setiap kilatan cahaya, tim dapat merekonstruksi jalur terbang.

Garis sumbu tubuh ke arah penerbangan mangsa, tapi mata tetap tegas pada mangsa. Bahkan jika tiba-tiba berubah kecepatan atau arah, mata cepat mengunci target sekali lagi dan reprediksi.

Setiap gerakan mangsa cocok persis dengan prediksi. Bahkan ketika mangsa berubah arah, capung akurat 70 persen. Gerak prediksi biasa pada mamalia, burung dan ikan, tapi belum pernah dilaporkan pada serangga.

"Mereka didorong representasi internal dan pengetahuan bahwa ia harus memutar tubuh dan garis penerbangan mangsa dalam cara tertentu," kata Leonardo.

Pergeseran orientasi menciptakan tantangan bagi predator, gerakan kepala terlalu cepat menggangu visual sehingga kepala harus bergeser agar mata tetap fokus target, meskipun tubuh sendiri berotasi.

"Gerakan mengamati begitu fine-tuned bahwa mereka menjaga mangsa tetap di garis bidik selama masa pengejaran. Capung mengumpulkan dua saluran informasi tentang mangsanya," kata Leonardo.



Internal models direct dragonfly interception steering

Matteo Mischiati1 et al.
  1. Janelia Research Campus, Howard Hughes Medical Institute; 19700 Helix Drive, Ashburn, Virginia 20147, USA
Nature, 10 December 2014, DOI: 10.1038/nature14045. Gambar: Bruce Marlin via Wikimedia Commons; Video: Matteo Mischiati et al

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …