Skip to main content

Ebola dan Filoviridae Muncul 16 Juta Tahun Lalu

LaporanPenelitian.com - Sebuah tim menyimpulkan filoviruses mungkin berakar leluhur zaman Miosen dan pada saat itu garis evolusi menuju Ebola dan Marburg sudah menyimpang.

Para ilmuwan sebelumnya percaya Filoviridae muncul sekitar 10.000 tahun lalu bertepatan dengan munculnya pertanian. Tapi laporan baru mendorong kembali dating keluarga bertepatan munculnya kera besar.

Keluarga Ebolavirus bukan spesies modern, sebaliknya Ebola dan Marburg masing-masing anggota garis evolusi kuno dan bahwa 2 virus ini terakhir memiliki nenek moyang bersama sebelum 16-23 juta tahun lalu.

Para ilmuwan menemukan filovirus seperti fosil gen, potongan materi genetik hewan dan organisme lain yang mendapatkan virus setelah infeksi dalam berbagai hewan pengerat.

Satu gen fosil disebut VP35 muncul di tempat yang sama dalam genom 4 spesies pengerat berbeda, 2 hamster dan 2 tikus, bahwa materi genetik mungkin diperoleh sebelum Epoch Miosen ketika tikus berevolusi menjadi spesies berbeda.

"Tikus ini memiliki miliaran base pairs dalam genom mereka," kata Derek Taylor, evolusionis State University of New York at Buffalo.

"Kemungkinan sangat kecil bahwa gen virus menginfeksi posisi yang sama pada spesies dan waktu berbeda. Penyisipan hadir pada leluhur mereka," kata Taylor.

Materi genetik VP35 lebih terkait erat dengan Ebola daripada Marburg bahwa garis yang mengarah ke virus sudah mulai menyimpang satu sama lain saat Miosen. Penyelidikan lebih lanjut bisa membuka teka-teki spesies host patogen.
Evidence that ebolaviruses and cuevaviruses have been diverging from marburgviruses since the Miocene

Derek J. Taylor1, Matthew J. Ballinger1, Jack J. Zhan1, Laura E. Hanzly1, Jeremy A. Bruenn1
  1. Department of Biological Sciences, The State University of New York at Buffalo, Buffalo, NY, USA
PeerJ, 2 September 2014, DOI:10.7717/peerj.556
Redaksi laporanpenelitian.com menerima kiriman tulisan dari siapa saja. Info lanjut kunjungi tautan ini.

Comments

Popular

Gambar Tiga Dimensi Struktur Detail Virus Zika Resmi Terbit

Penelitian ~ Struktur virus Zika dipetakan untuk pertama kalinya. Gambar 3D virus tidak hanya memancing inspirasi seni, tapi bisa pula memberi petunjuk bagaimana melawannya.

Deskripsi Spesies Ketiga Orangutan Pongo tapanuliensis

Para antropolog melaporkan spesies orangutan ketiga. Pongo tapanuliensis tidak lebih dari 800 individu sebagai populasi yang terancam punah dalam silsilah kera merah tertua yang masih hidup. Orangutan yang tinggal di kaki bukit berhutan di pulau Sumatra ini mewakili spesies yang sebelumnya tidak dikenal.


Para ilmuwan telah lama mengenal enam spesies kera besar selain genus Homo yaitu orangutan sumatera, orangutan Borneo, gorila timur, gorila barat, simpanse, dan bonobo. Namun, pada tanggal 2 November telah menambah satu lagi menjadi tujuh.

Michael Kr├╝tzen, antropolog evolusi dari University of Zurich, dan rekan melaporkan ke Current Biology dimana bukti genetik dan kerangka menempatkan P. tapanuliensis pada lintasan evolusioner terpisah dari orangutan lain di Sumatera (Pongo abelii) dan orangutan Borneo (Pongo pygmaeus).

"Ini bukan kejadian sehari-hari dimana kita menemukan spesies kera besar baru, jadi memang temuan ini sangat seru," kata Krutzen.

Pongo tapanuliensis adalah …

Alien Lebih Mirip Kita Daripada Monster

Alien mungkin lebih mirip diri kita sendiri. Film-film Hollywood dan fiksi ilmiah menceritakan alien seperti monster yang sangat berbeda dengan manusia, namun sebuah tim peneliti dari University of Oxford mengusulkan kita memiliki banyak kesamaan dengan para tetangga ekstra-terestrial.


Sebuah tim memberikan analisis untuk pertama kalinya bagaimana teori evolusi untuk prediksi alien dan lebih memahami tingkah lakunmya. Mereka menunjukkan bahwa alien terbentuk oleh proses dan mekanisme yang sama dalam membentuk manusia dalam seleksi alam.

Sam Levin, zoolog di University of Oxford, mengatakan teori Charles Darwin mendukung argumen bahwa bentuk kehidupan asing mengalami seleksi alam dan seperti manusia akan berkembang menjadi lebih efesien dan lebih kuat dari waktu ke waktu.

"Tugas mendasar astrobiologi memikirkan tentang kehidupan ekstra-terestrial seperti itu. Tapi membuat prediksi tentang alien sangat sulit. Satu contoh kehidupan di Bumi untuk diekstrapolasikan," kata Levin.

Teknik CRISPR-Cas9 Menciptakan Babi Rendah Lemak

Para ilmuwan China memasukkan gen tikus ke dalam babi untuk menciptakan 12 anak babi rendah lemak. Tim peneliti di Chinese Academy of Sciences menggunakan teknik CRISPR-Cas9 untuk mengedit gen pengatur suhu tubuh dengan membakar lemak untuk menciptakan daging babi rendah lemak.


Daging babi adalah menu paling favorit di dunia dan industri pangan ini memiliki nilai ekonomi triliunan dolar per tahun. Para ilmuwan di Beijing melaporkan telah berhasil menginput gen tikus menggunakan teknik CRISPR-Cas9 untuk menciptakan selusin anak babi tahan dingin dan rendah lemak.

Babi secara alami tidak memiliki gen UPC1 untuk membantu mengatur suhu tubuh. Jianguo Zhao, biolog Chinese Academy of Sciences, dan tim mengambil versi UPC1 dari tikus dan memasukkannya ke dalam embrio babi yang kemudian diimplan ke 13 babi betina. Tiga dari mereka melahirkan 12 bayi.

"Selama ini menjadi masalah besar bagi industri babi. Sekarang babi bisa menjaga suhu tubuh sendiri jauh lebih baik, yang berarti mereka bi…

Lumpur Sidoarjo Disuplai Gunung Arjuno-Welirang

Para ilmuwan melaporkan analisis terbaru tentang erupsi lumpur terbesar di dunia. Lusi (Lumpur Sidoarjo) mulai meletus pada 29 Mei 2006 di beberapa lokasi di Sidoarjo dimana lumpur mendidih, air, batu dan gas terludah dari ventilasi yang mengubur rumah-rumah dan pabrik-pabrik di puluhan desa dan memaksa 60.000 orang mengungsi.


Pada bulan September 2006, situs erupsi terbesar mencapai puncak dan banyak lumpur yang menyembur ke permukaan setiap hari mengisi kolam renang raksasa. Pemerintah membangun tanggul untuk menampung lumpur dan menyelamatkan permukiman dan sawah di sekitarnya.

Lusi masih terus berlangsung sampai sekarang dan menjadi letusan lumpur yang paling merusak dalam catatan sejarah. Lautan lumpur tanpa henti mengubur beberapa desa dengan kedalaman 40 meter dan gunung berapi tersebut secara berkala menyemburkan batu dan gas ke udara seperti geyser.

Sekitar 80.000 meter kubik lumpur setiap hari dan sekarang setelah lebih dari 11 tahun sejak pertama kali meletus, para ilmuwan …