Skip to main content

Koklea Merespon Frekuensi Suara Rendah Hingga 30 Hz

Laporan Penelitian - Sinyal frekuensi rendah nyaris tak terdengar tapi mengaktifkan respon terukur dalam sirkuit pendengaran. Neurobiolog mencatat dampak luar biasa frekuensi rendah di telinga bagian dalam.

Sistem pendengaran manusia tampaknya kurang disesuaikan dengan persepsi gelombang suara frekuensi rendah, seperti ambang batas nyata dari sekitar 250 Hz. Tapi sel indera bereaksi terhadap gelombang frekuensi di bawah 100 Hz.

Sumber sinyal frekuensi rendah adalah fitur menonjol pada masyarakat industri dan berteknologi maju. Kipas angin, sistem AC dan pompa menghasilkan suara pada ambang batas spektrum akustik yang bervariasi dari satu orang ke orang lain.

"Telinga memang bereaksi terhadap sinyal frekuensi rendah. Tapi asumsi bahwa telinga tidak responsif karena jarang tidak disadari dan diaggap palsu," kata Markus Drexl, neurobiolog Ludwig-Maximilians-Universitaet di Munich.

Frekuensi rendah merangsang koklea. Drexl dan rekan memapar telingga 21 subyek eksperimental dengan pendengaran normal dengan nada 30 Hz selama 90 detik pada tingkat tekanan suara tekanan 80 desibel.

"Frekuensi rendah memiliki pengaruh modulator jelas yang didefinisikan pada emisi otoacoustic spontan. Mencolok, efek stimulus frekuensi rendah pada koklea terus berlanjut lebih dari durasi stimulus itu sendiri," kata Drexl.
Low-frequency sound affects active micromechanics in the human inner ear

Kathrin Kugler1 et al.
  1. German Center for Vertigo and Balance Disorders (IFB), University of Munich, 81377 Munich, Germany
  2. Department Biology II, University of Munich, 82152 Martinsried, Germany
Royal Society Open Science, 1 October 2014
DOI:10.1098/rsos.140166

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.