Skip to main content

Api Unggun Kuno Menyediakan Munculnya Cerita

www.LaporanPenelitan.com - Pada suatu waktu sekitar 400.000 tahun lalu, leluhur belajar sepenuhnya mengendalikan api. Terobosan secara radikal mengubah pola makan dan api unggun memunculkan perubahan budaya.

Evolusi pengelolaan api memiliki dampak sosial besar. Di antara Bushmen dari Kalahari, orang-rang duduk di sekitar api unggun di malam hari untuk percakapan, bercerita dan membentuk ikatan sosial yang jarang terjadi pada siang hari.

Kisah-kisah hidup dan mati diceritakan dalam bahasa yang indah meningkatkan keterampilan linguistik dan imajinasi ketika siang berubah senja menuju gelap dalam api. Begitu banyak stimuli mengetuk keluar dan imajinasi lepas landas.

"Saya menemukan ini benar-benar menarik perbedaan percakapan dengan cahaya api dan percakapan di siang hari," kata Polly Wiessner, antropolog University of Utah.

Sementara bicara di siang hari cenderung fokus masalah ekonomi dan gosip, pada malam hari di sekitar api unggun percakapan bergeser jauh dari ketegangan dengan menyanyi, menari, upacara spiritual, bercerita dan obrolan kenalan umum.

"Hari begitu keras, Anda melihat realitas, Anda melihat ekspresi wajah, ada pekerjaan harus dilakukan, ada regulasi sosial dan pada malam hari orang-orang jadi mellow," kata Wiessner.

"Siang hari waktu produktif untuk berburu dan meramu dan cahaya api mengubah seluruh waktu dan ruang baru. Itu saat tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan," kata Wiessner.

Sementara penelitian evolusi dampak penggunaan api telah lama fokus pada perubahan fisiologis yang terkait dengan memasak makanan, Wiessner lebih tertarik pada dampak sosial dengan evolusi kognitif dalam lingkaran api unggun.

"Bushman dengan jaringan luas melihat komunitas lebih luas tetapi sebenarnya tidak berdekatan dalam ruang dan kadang-kadang bahkan mencakup orang yang tidak dikenal dengan baik," kata Wiessner.

"Bahkan kita mencintai perapian. Di restoran menyalakan lilin, kita sering melakukan banyak hal untuk mengubah lingkungan untuk mewujudkan suasana merangsang keintiman, ikatan dan imajinasi," kata Wiessner.
Embers of society: Firelight talk among the Ju/’hoansi Bushmen

Polly W. Wiessner1
  1. Department of Anthropology, University of Utah, Salt Lake City, UT 84112
Proceedings of the National Academy of Sciences, September 22, 2014

Akses : DOI:10.1073/pnas.1404212111

Gambar: Polly Wiessner, University of Utah

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.