Skip to main content

Spesies Baru Burung Pipit Wakatobi Dicaeum kuehni

www.LaporanPenelitian.com - Pipit Wakatobi (Dicaeum kuehni) spesies baru burung di Kepulauan Wakatobi lepas pantai Sulawesi, surga tropis bahwa hingga sekarang wilayah ini tetap minim dipelajari. Spesies baru milik Dicaeum, genus dalam keluarga emprit Dicaeidae.

Meskipun para ilmuwan banyak membual burung di berbagai dunia, Kepulauan Wakatobi yang indah bagian dari Wallacea, hotspot keanekaragaman hayati yang dikisahkan salah satu pendiri Teori Evolusi melalui seleksi alam Alfred Russel Wallace, masih sedikit diteliti hingga hari ini.

Andi Bahrun dan Kangkuso Analuddin, biolog Universitas Haluoleo di Kendari, bersama tim Trinity College Dublin selama tahun 1999 dan 2012 mengambil sampel individu yang dulunya diakui sebagai Pipit Sisi Kelabu (Dicaeum celebicum) di Wakatobi dan Pulau Buton.

Dicaeum dengan pelatuk kecil panjang 10-18 cm sering berwarna-warni. Mereka memiliki ekor pendek, melengkung tebal dan lidah tubular. Analisis gabungan genetik, filogenetik dan morfologi menunjukkan pelatuk dari untaian kecil pulau-pulau Wakatobi adalah spesies baru.

Data genetik juga mengungkap Pipit Wakatobi (Dicaeum kuehni) dan Pipit Sisi Kelabu (Dicaeum celebicum) tidak bercampur atau kawin silang yang pada gilirannya mereka tidak saling berinteraksi dalam bentangan 27 kilometer laut.

"Identifikasi spesies keluruhnya Kepulauan Wakatobi membutuhkan organisasi konservasi seperti BirdLife International untuk menilai kembali status perlindungan yang diberikan pada pulau-pulau ini," kata Nicola Marples, zoolog Trinity College Dublin di Dublin.

"Sementara pulau-pulau duduk di dalam Taman Nasional Kepulauan Wakatobi, mereka saat ini tidak menerima perlindungan. Kepulauan Wakatobi tempat sangat menarik dan laboratorium hidup yang unik di mana kita bisa mempelajari evolusi dalam tindakan," kata Marples.
Molecular and Phenotypic Data Support the Recognition of the Wakatobi Flowerpecker (Dicaeum kuehni) from the Unique and Understudied Sulawesi Region

Seán B. A. Kelly1,2, David J. Kelly1,2, Natalie Cooper1,2, Nicola M. Marples1,2, Andi Bahrun3, Kangkuso Analuddin4.
  1. Department of Zoology, Trinity College Dublin, Dublin, Ireland
  2. Trinity Centre for Biodiversity Research, Trinity College Dublin, Dublin, Ireland
  3. Department of Agrotechnology, Universitas Haluoleo, Kendari, Southeast Sulawesi, Indonesia
  4. Department of Biology, Universitas Haluoleo, Kendari, Southeast Sulawesi, Indonesia
PLoS ONE, June 4, 2014

Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0098694

Gambar: Seán Kelly et al., DOI:10.1371/journal.pone.0098694

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.