Skip to main content

Transfer Listrik Pacu Jantung Via Wireless

LaporanPenelitian.com - Sistem nirkabel menggunakan daya seperti ponsel untuk mengirimkan energi ke dalam chip seukuran beras. Satu tim menemukan cara mentransfer power ke dalam tubuh dengan menjalankan gadget elektronik sebagai alat pacu jantung, stimulator saraf atau peralatan medis internal lainnya.

Alat pacu jantung yang dioperasikan dengan baterai akan segera berakhir. Para peneliti membangun alat pacu jantung bertenaga nirkabel seukuran beras dan ditanam ke dalam kelinci. Jika dapat bertahan lama, generasi baru lebih kecil dan lebih aman implan medis masuk pasar dalam 5-10 tahun ke depan.

Sebuah upaya manis selama bertahun-tahun untuk menghapus baterai besar dan sistem pengisian perangkat medis di dalam tubuh yang kikuk. Teknologi baru memberi jalan menuju jenis terapi yang memungkinkan dokter mengobati penyakit dengan elektronik, bukan obat.

"Kita perlu membuat perangkat sekecil ini untuk lebih mudah menanam jauh di dalam tubuh dan menciptakan cara-cara baru mengobati penyakit dan mengurangi rasa sakit," kata Ada Poon, insinyur Stanford University di California.

Desain baru sangat kecil bahwa dokter dapat menggunakan kateter untuk memandunya melalui pembuluh darah yang dimulai dari paha untuk menanamkan secara langsung di dalam jantung pasien ketika dipasang harus diganti dengan yang baru.




Wireless power transfer to deep-tissue microimplants

John S. Ho1 et al.
  1. Departments of Electrical Engineering and Cardiothoracic Surgery, Stanford University, Stanford, CA 94305
Proceedings of the National Academy of Sciences, May 19, 2014

Akses : DOI:10.1073/pnas.1403002111

Gambar: Austin Yee
Video: Stanford University

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.