Skip to main content

Iklim, Kekerasan dan Penyakit Akhir Peradaban Harappa

www.LaporanPenelitian.com - Perubahan iklim, kekerasan dan penyakit memainkan peran kunci runtuhnya peradaban 3.000 tahun lalu. Peradaban di Lembah Indus berkembang di tengah milenium ketiga sebelum masehi pada saat yang sama peradaban kontemporer di Mesir dan Mesopotamia.

Membentang lebih dari 1 juta kilometer persegi yang sekarang Pakistan dan India, Kota Harappa dan Kota Mohenjo Daro adalah prestasi terbesar budaya mengesankan yang diselenggarakan dengan manajemen tata ruang. Kota-kota tumbuh pesat pada tahun 2.200-1.900 SM.

"Runtuhnya Peradaban Indus dan reorganisasi populasi manusia telah mmenjadi kontroversi lama," kata Robbins Schug, antropolog Appalachian State University.

Kombinasi perubahan iklim, ekonomi dan sosial memainkan peran dalam proses urbanisasi dan keruntuhan. Schug dan rekan menyelidiki bukti trauma dan penyakit menular sisa-sisa kerangka manusia yang digali dari 3 pemakaman di kota Harappa.

Temuan Schug melawan klaim lama bahwa peradaban Harappa berkembang sebagai masyarakat tingkat negara damai, gotong-royong dan egaliter tanpa diferensiasi strata sosial, hirarki atau perbedaan dalam akses terhadap sumber daya dasar.

"Penelitian sebelumnya mengusulkan faktor-faktor ekologi sebagai penyebab keruntuhan, tetapi tidak ada bukti banyak untuk mengkonfirmasi teori tersebut," kata Schug.

Schug dan rekan menggabungkan klimatologi, arkeologi dan biologi yang menunjukkan sebaliknya bahwa dinamika ekstrim dalam kehidupan bangsa beberapa komunitas Harappa menghadapi dampak signifikan daripada yang lain dalam strain iklim, sosial-ekonomi, kekerasan dan penyakit.

"Para ilmuwan tidak dapat membuat asumsi bahwa perubahan iklim akan selalu sama dengan kekerasan dan penyakit. Namun dalam kasus ini tampak bahwa proses urbanisasi cepat di kota-kota Harappa," kata Schug.

"Jumlah yang semakin besar kontak budaya membawa tantangan baru bagi populasi manusia. Penyakit menular seperti kusta dan TBC melintasi lingkup interaksi yang membentang di Asia Tengah dan Selatan," kata Schug.

Kusta memberi pukulan selama fase peradaban di kota-kota Harappa dan prevalensi meningkat secara signifikan seiring waktu. Penyakit baru seperti tuberkulosis juga muncul di Akhir Harappa atau fase penguburan pasca-urban. Cedera kekerasan seperti trauma tengkorak juga meningkat.

"Sebagai lingkungan berubah, jaringan pertukaran menjadi semakin kacau. Ketika Anda menggabungkan perubahan sosial dan konteks budaya tertentu, semuanya bekerja sama menciptakan situasi yang tidak bisa dipertahankan," kata Schug.
Infection, Disease, and Biosocial Processes at the End of the Indus Civilization

Gwen Robbins Schug1 et al.
  1. Department of Anthropology, Appalachian State University, Boone, North Carolina, United States of America
PLoS ONE, December 17, 2013

Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0084814

Gambar: Chris Sloan

Comments

Populer

DNA Memecahkan Misteri Bagaimana Mumi Terkait Satu Sama Lain

DNA memecahkan misteri bagaimana mumi-mumi terkait satu sama lain dimana sepasang mumi Mesir kuno yang dikenal lebih dari satu abad sebagai dua saudara sebenarnya adalah saudara tirinya. Kedua pria berpangkat tinggi tersebut memiliki seorang ibu, namun ayah yang berbeda.

Para arkeolog mengatakan sebuah jawaban tentang keluarga yang teredam dan terungkap berkat keberhasilan dua jenis DNA dari gigi mumi. Laporaan di Journal of Archaeological Science menyoroti pentingnya garis keturunan ibu dalam menganalisis orang-orang Mesis kuno.


Pertanyaan telah berputar-putar tentang latar belakang biologis dua mumi pria sejak ditemukan bersama di sebuah makam di dekat desa Rifeh pada tahun 1907. Makam berasal dari Dinasti ke-12 Mesir kuno antara tahun 1985 SM hingga 1773 SM. Prasasti peti mati menyebutkan seorang wanita, Khnum-Aa, sebagai ibu kedua pria tersebut.

Kedua mumi digambarkan sebagai putra gubernur lokal yang tidak disebutkan namanya. Tetap tidak jelas apakah prasasti tersebut merujuk pad…

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.

Moratorium Laut Internasional Untungkan Nelayan Pesisir

www.LaporanPenelitian.com - Larangan penangkapan ikan di laut lepas dapat meningkatkan hasil tangkapan global menjadi lebih adil.

Nenek Moyang Salamander Meregenerasi Anggota Badan

Penelitian ~ Nenek moyang salamander meregenerasi tungkai, fosil amfibi kuno menunjukkan tanda tangan mekanisme penggantian embel-embel sejauh era Permian.

Fosil Gua Misliya di Israel adalah Manusia Modern Tertua di Luar Afrika

Sebuah rahang mendorong keberangkatan manusia dari Afrika kembali pada waktunya dimana fosil ditemukan di gua Israel setidaknya berdating 177.000 tahun. Sebuah tulang di Israel saat manusia modern meninggalkan Afrika memberi pesan eksodus kuno dimulai lebih awal dari apa yang diteorikan selama ini.

Gua Misliya di Gunung Carmel di Israel menghasilkan rahang parsial Homo sapiens dengan perkiraan dating pada 177.000 hingga 194.000 tahun yang menunjukkan manusia modern bisa saja meninggalkan Afrika dan mencapai Timur Tengah sekitar 60.000 tahun lebih awal dari perkirakan sebelumnya.


Sampai sekarang fosil H. sapiens tertua yang diketahui di luar Afrika ditemukan di Gua Skhul dan Qafzeh di Israel berdating pada 90.000 dan 120.000 tahun, tetapi temuan baru mengisaratkan manusia meninggalkan Afrika sekitar 300.000 tahun lalu dan mencapai Timur Tengah lebih dari 200.000 tahun lalu

"Rahang Misliya memberikan bukti paling jelas nenek moyang kita pertama kali pindah dari Afrika jauh lebih aw…