Skip to main content

Penelitian Tidak Replikatif Karena Statistik Lemah

Laporan Penelitian - Statistik ketat membuat ilmu lebih baik. Banyak studi ilmiah datang dengan kesimpulan palsu hanya karena standar signifikansi statistik terlalu rendah.

Meningkatnya jumlah studi yang tidak dapat direplikasi karena tidak memiliki hasil nyata di tempat pertama. Masalah-masalah terburuk sering dijumpai dalam ilmu-ilmu sosial dan biologi. Ada upaya di kalangan psikologi untuk menjelaskan mengapa banyak studi tidak dapat direplikasi.

"Mereka bahkan menuduh para ilmuwan ketika menambang data. Tapi masalahnya bukan itu. Titik masalah adalah ambang batas penentuan signifikansi terlalu lemah," kata Valen Johnson, statistikawan Texas A&M University di College Station.

Uji statistik yang lebih ketat diperlukan sebelum hasilnya diterima. Secara tradisional, para ilmuwan menguji hipotesis alternatif terhadap hipotesis nol sebagai status quo atau kurangnya efek. Setelah eksperimen, keputusan dibuat apakah menerima atau menolak hipotesis nol.

Hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diadopsi hanya jika kemungkinan hipotesis nol terjadi di bawah nilai ambang tertentu. Seringkali nilai P ditentukan sebesar 0,05 atau signifikansi pada tingkat 5 persen.

"Ambang batas 0,05 diputuskan secara sewenang-wenang oleh Fischer, Neyman dan Pearson pada tahun 1930-an, para ahli statistik pada jaman itu dan orang hanya menerima saja," kata Johnson.

Uji statistik klasik dengan nilai P jadi populer di kalangan ilmuwan, tapi ada juga pendekatan lain dikenal sebagai statistik Bayesian. Pendekatan Bayesian benar-benar membandingkan hipotesis nol dengan hipotesis alternatif. Faktor Bayes harus tinggi untuk mendukung hipotesis alternatif.

"Jika fisikawan membuat temuan akan direplikasi di laboratorium lain. Nilai P sebesar 0,05 terlalu lemah untuk menerima temuan baru sebagai kebenaran," kata Johnson.

"Temuan Higgs Boson adalah P = 0,0000003. Biologi biasanya menggunakan P = 0,05 sebagai batas temuan baru. Hal ini dapat memiliki dampak besar ketika uji obat," kata Johnson.

"Efek eksperimen Tahap 2 pada P = 0,05, tapi tidak muncul ketika melakukan uji coba klinis lebih besar. Banyak ongkos yang harus dibayar karena temuan palsu," kata Johnson.
Revised standards for statistical evidence

Valen E. Johnson1
  1. Department of Statistics, Texas A&M University, College Station, TX 77843-3143
Proceedings of the National Academy of Sciences, November 11, 2013

Akses : DOI:10.1073/pnas.1313476110

Comments

Populer

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati. Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.


Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.

Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik …

Cacing Mata Sapi Thelazia gulosa Menginfeksi Mata Manusia

Seorang wanita berusia 26 tahun merasakan sesuatu di mata kiri selama berhari-hari, tapi ini bukan bulu mata yang menyebalkan atau serangga yang menyemprotkan racun ke wajahnya. Seminggu setelah iritasi pertama, penduduk Oregon tersebut menarik cacing transparan panjang 1 sentimeter dari matanya.

Sebuah kasus kambuhan manusia pertama yang pernah dilaporkan tentang parasit mata sapi, Thelazia gulosa. Selama 20 hari, dia dan dokter menyingkirkan 14 cacing dari mata yang terinfeksi. Tim dokter melaporkan ke di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Setelah itu tidak ada lagi sintom iritasi mata.


"Ini peristiwa sangat langka dan menarik dari perspektif parasitologis. Mungkin tidak begitu menyenangkan jika Anda pasiennya," kata Richard Bradbury, parasitolog di U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

T. gulosa adalah nematoda di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Asia Tengah. Mereka menginfeksi mata ternak yang besar dan menghabiskan tahap larva di …

Bakteri Usus Bacteroides fragilis Link Autisme

Laporan Penelitian - Autisme mungkin link materi kimia yang diproduksi mikroba usus. Tikus yang cemas dan kurang sosial berawal dari campuran senyawa tertentu di dalam usus dan bakteri adalah biangnya. Temuan mendukung hipotesis microbiome usus penyebab perilaku abnormal pada manusia.