Skip to main content

Kloroplas Elysia timida dan Plakobranchus ocellatus

LaporanPenelitian.com - Siput laut bertenaga Surya hidup dalam gelap. Makhluk-makhluk lembut 'siput bertenaga Surya' dan 'daun merangkak' seperti Plakobranchids, Elysia timida dan Plakobranchus ocellatus, tidak benar-benar meminjam warna untuk fotosintesis chloroplasts.

Spesies Sacoglossan mengasimilasi organel fotosintesis dari alga yang mereka makan menyebabkan tubuh berubah jadi hijau terang. Tapi ternyata mereka bisa bertahan berbulan-bulan kelaparan bahkan ketika kapasitas fotosintesis secara besar-besaran berkurang.

Laporan baru memberi kesimpulan yang sah atas keraguan tentang teori yang diterima secara luas bahwa mereka bergantung pada fotosintesis untuk memasak makanan diri mereka sendiri ketika tidak teredia makanan di sekitar mereka.

"Asumsi sebelumnya fotosintesis menjelaskan kelangsungan hidup mereka perlu dipertimbangkan," kata Sven Gould, biologi molekuler University of Düsseldorf di Jerman.

Ketika mengkonsumsi alga bersel tunggal, sejumlah siput laut sacoglossan mencerna segala sesuatu. Makhluk menyimpan organel dalam kelenjar pencernaan yang membentang hampir di sekujur tubuh di mana kloroplas terus berfotosintesis.

Dalam banyak jenis kapasitas transplantasi fotosintesis berlangsung selama tidak lebih dari 2 minggu, tetapi pada spesies ini dapat terus selama berbulan-bulan. Para biolog berasumsi evolusi kemampuan untuk melindungi diri terhadap kelaparan jika ganggang tidak tersedia.

Gould dan rekan memblokir fotosintesis Elysia timida dan Plakobranchus ocellatus di dalam gelap atau dengan memberi obat penghambat fotosintesis. Bahkan ketika fotosintesis diblokir, Plakobranchids bisa bertahan hidup tanpa makanan untuk waktu lama dan tarif sama seperti siput kekurangan cahaya.

Gould sekarang berpikir kunci kelangsungan hidup siput menunda gratifikasi. Mereka tidak pernah mencuri kleptoplasts, tetapi hanya mengambil waktu, siput laut berevolusi menabung organel. Selain fotosintesis, kloroplas memiliki kemampuan biokimia lain yang membantu siput melewati masa-masa sulit.
Gregor Christa (Zoologisches Forschungsmuseum Alexander Koenig, Centre for Molecular Biodiversity Research (zmb), Bonn 53113, Germany) et al. Plastid-bearing sea slugs fix CO2 in the light but do not require photosynthesis to survive. Proceedings of the Royal Society B, 20 November 2013, DOI:10.1098/rspb.2013.2493
Gambar: Sven Gould/Jan de Vries

Comments

Populer

DNA Memecahkan Misteri Bagaimana Mumi Terkait Satu Sama Lain

DNA memecahkan misteri bagaimana mumi-mumi terkait satu sama lain dimana sepasang mumi Mesir kuno yang dikenal lebih dari satu abad sebagai dua saudara sebenarnya adalah saudara tirinya. Kedua pria berpangkat tinggi tersebut memiliki seorang ibu, namun ayah yang berbeda.

Para arkeolog mengatakan sebuah jawaban tentang keluarga yang teredam dan terungkap berkat keberhasilan dua jenis DNA dari gigi mumi. Laporaan di Journal of Archaeological Science menyoroti pentingnya garis keturunan ibu dalam menganalisis orang-orang Mesis kuno.


Pertanyaan telah berputar-putar tentang latar belakang biologis dua mumi pria sejak ditemukan bersama di sebuah makam di dekat desa Rifeh pada tahun 1907. Makam berasal dari Dinasti ke-12 Mesir kuno antara tahun 1985 SM hingga 1773 SM. Prasasti peti mati menyebutkan seorang wanita, Khnum-Aa, sebagai ibu kedua pria tersebut.

Kedua mumi digambarkan sebagai putra gubernur lokal yang tidak disebutkan namanya. Tetap tidak jelas apakah prasasti tersebut merujuk pad…

Kecepatan Perjalanan Cahaya Tidak Selamanya Konstan

LaporanPenelitian.com - Kecepatan cahaya tidak konstan selamanya, struktur pulsa dapat memperlambat foton bahkan dalam ruang hampa.

Moratorium Laut Internasional Untungkan Nelayan Pesisir

www.LaporanPenelitian.com - Larangan penangkapan ikan di laut lepas dapat meningkatkan hasil tangkapan global menjadi lebih adil.

Fosil Gua Misliya di Israel adalah Manusia Modern Tertua di Luar Afrika

Sebuah rahang mendorong keberangkatan manusia dari Afrika kembali pada waktunya dimana fosil ditemukan di gua Israel setidaknya berdating 177.000 tahun. Sebuah tulang di Israel saat manusia modern meninggalkan Afrika memberi pesan eksodus kuno dimulai lebih awal dari apa yang diteorikan selama ini.

Gua Misliya di Gunung Carmel di Israel menghasilkan rahang parsial Homo sapiens dengan perkiraan dating pada 177.000 hingga 194.000 tahun yang menunjukkan manusia modern bisa saja meninggalkan Afrika dan mencapai Timur Tengah sekitar 60.000 tahun lebih awal dari perkirakan sebelumnya.


Sampai sekarang fosil H. sapiens tertua yang diketahui di luar Afrika ditemukan di Gua Skhul dan Qafzeh di Israel berdating pada 90.000 dan 120.000 tahun, tetapi temuan baru mengisaratkan manusia meninggalkan Afrika sekitar 300.000 tahun lalu dan mencapai Timur Tengah lebih dari 200.000 tahun lalu

"Rahang Misliya memberikan bukti paling jelas nenek moyang kita pertama kali pindah dari Afrika jauh lebih aw…

Nenek Moyang Salamander Meregenerasi Anggota Badan

Penelitian ~ Nenek moyang salamander meregenerasi tungkai, fosil amfibi kuno menunjukkan tanda tangan mekanisme penggantian embel-embel sejauh era Permian.