Skip to main content

Homo naledi Hidup dengan Homo sapiens Sampai Pleistosen Tengah

Laporan Penelitian ~ Penemuan mengejutkan Homo naledi membuka lebih banyak hal dari mana kita berasal. Para ilmuwan menyusuri lorong-lorong vertikal selebar 18 cm di dalam sistem gua Rising Star untuk analisi kerangka lebih spektakuler di Lesedi Chamber atau lebih dari seratus meter dari Dinaledi Chamber.

Laporan Penelitian Homo naledi Hidup dengan Homo sapiens Sampai Pleistosen Tengah

Para ilmuwan mengumumkan sistem gua Rising Star menghasilkan kisah baru yang lebih penting. Hanya satu setengah tahun setelah temuan fosil di Dinaledi Chamber sebagai sebuah situs kaya fosil hominin di Afrika yang mengandung spesies Homo naledi dan memiliki dating lebih baru.

H. naledi yang pertama kali diumumkan pada September 2015 masih hidup hidup 335 hingga 236 ribu tahun lalu. Dating menempatkan jadwal populasi hominin primitif berotak kecil pada suatu waktu dan tempat dimana kemungkinan mereka hidup bersinggungan dengan Homo sapiens.

Sebuah temuan pertama kalinya yang menunjukkan bahwa spesies hominin lain bertahan hidup dan beriringan dengan H. sapiens di Afrika. Laporan baru menyajikan fosil-fosil yang telah lama ditunggu dari Kamar Dinaledi dan Lesedi termasuk anak-anak dan sebagian pria dewasa dengan tengkorak lengkap.

Tim ilmuwan dari 30 lembaga internasional dipimpin Lee Berger, antropolog University of the Witwatersrand di Johannesburg, menemukan kerangka di ruang kedua dan tim berdebat tentang hipotesis kontroversial bahwa H. naledi memiliki budaya membuang mayat di gua-gua terpencil.

Fosil-fosil baru memiliki ciri primitif dengan beberapa anggota genus paling awal seperti Homo rudolfensis dan Homo habilis atau spesies yang hidup hampir dua juta tahun lalu. Di sisi lain juga berbagi beberapa fitur dengan manusia modern yang menguatkan hipotesis bahwa mereka adalah spesies peralihan.

"Dating Naledi sangat menantang. Akhirnya, enam metode dating independen memungkinkan kita memastikan rentang umur populasi sampai Pleistosen Tengah," kata Paul Dirks, antropolog James Cook University.

Umur populasi hominin ini menunjukkan H. naledi mungkin bertahan selama dua juta tahun di samping spesies hominin lain di Afrika. Pada periode Pleistosen Tengah hanya H. sapiens atau manusia modern yang dikenal bertahan di Afrika.

Tanggal tersebut adalah masa bangkitannya "perilaku manusia modern" di Afrika selatan atau perilaku yang mewakili asal-usul budaya kompleks seperti kegiatan pemakaman orang mati dan ritual kematian, seni dan pembuatan alat rumit.

Para ilmuwan menggunakan kombinasi luminescence yang disimulasikan secara optik dengan sedimen untuk uji Uranium-Torium dan palaeomagnetik dari batuan untuk mengkorelasikan sedimen dengan skala waktu geologi. Sedangkan dating langsung pada gigi menggunakan Uranium series dating (U-series) dan electron spin resonance dating (ESR).

"Kami menggunakan metode kombinasi," kata Jan Kramers, kimiawan University of Johannesburg.

Para geolog harus melalui lorong selebar 18 cm untuk menganalisis Kamar Dinaledi dan mencatat hal-hal sangat penting untuk mengetahui bagaimana sedimen di dalam ruangan berlapis dalam membangun kerangka kerja untuk memahami semua dating yang diperoleh.

"Kita tidak bisa lagi berasumsi bahwa kita tahu spesies mana yang membuat alat atau bahkan menganggap mereka manusia modern sebagai inovator dari beberapa terobosan teknologi dan perilaku kritis dalam catatan arkeologi Afrika," kata Berger.

"Jika ada satu spesies lain di luar sana yang berbagi dunia dengan manusia modern di Afrika, kemungkinan besar ada manusia yang lain. Kita perlu menemukannya," kata Berger.

Beberapa ilmuwan melihat bagaimana evolusi manusia terjadi, tapi temuan fosil baru dan tambahan dari analisis genetika memberikan gambaran bahwa bagian selatan Afrika adalah rumah bagi keragaman yang belum pernah terlihat di tempat lain.

LaporanPenelitian.com Homo naledi Hidup dengan Homo sapiens Sampai Pleistosen Tengah

"Baru-baru ini catatan fosil hominin penuh dengan kejutan dan dating Homo naledi tidak akan menjadi kejutan terakhir dari sistem gua-gua ini," kata Berger.

Tim juga melaporkan temuan dari sebuah kamar kedua di dalam Rising Star yang berisi lebih banyak kerangka. Kamar yang dinamai Lesedi Chamber lebih dari seratus meter dari Dinaledi Chamber sulit diakses dan fosil lebih spektakuler termasuk kerangka parsial tengkorak lengkap.

Penggalian di Kamar Lesedi memakan waktu hampir tiga tahun. Untuk mengakses Lesedi sedikit lebih mudah daripada Dinaledi, tapi harus melalui lorong vertikal setelah merontokan dinding sekitar 25 cm untuk menuju ruang-ruang sempit.

"Ini menambah bobot hipotesis bahwa Homo naledi menggunakan tempat gelap untuk menyimpan mayat. Tidak ada keraguan bahwa banyaknya kerangka adalah spesies yang sama," kata John Hawks, antropolog University of Wisconsin-Madison.

Sejauh ini para ilmuwan telah menemukan lebih dari 130 spesimen hominin dari Kamar Lesedi. Tulang-tulang setidaknya tiga individu, tapi masih banyak fosil yang belum diangkat. Di antara individu adalah sisa-sisa kerangka dua orang dewasa dan satu anak.

Anak diwakili tulang kepala dan badan, kemungkinan berumur di bawah lima tahun. Dua orang dewasa hanya diwakili elemen rahang dan kaki, tapi yang lainnya diwakili oleh kerangka parsial termasuk tengkorak spektakuler lengkap.

"Kerangka ini dijuluki Neo oleh tim, dipilih untuk kata Sesotho yang berarti hadiah. Kerangka Neo adalah paling lengkap yang pernah ditemukan dan secara teknis lebih lengkap dari fosil Lucy untuk tengkorak dan mandibula," kata Berger.

Fosil Lesedi Chamber belum didating karena membutuhkan proses menghancuran beberapa material untuk melakukan uji ekstrasi kimia. Para ilmuwan lebih memilih untuk menjelaskan komponen struktural lebih matang sebelum melakukan dating.

www.LaporanPenelitian.com Homo naledi Hidup dengan Homo sapiens Sampai Pleistosen Tengah

Ribuan fosil yang masih di dalam Kamar Lesedi dan Dinaledi berpotensi menjadi obyek penelitian hingga beberapa dekade mendatang. Pencarian asal usul manusia di benua Afrika dimulai di selatan dan melihat warisan berlanjut dengan temuan-temuan penting.

"Kami akan terus melakukan ekstraksi material dari kedua ruang ini dengan sangat hati-hati dan kebijaksanaan penuh bahwa kita perlu melestarikan material untuk ilmuwan generasi masa depan sambil menunngu inovasi teknologi arkeologi lebih canggih," kata Berger.

Jurnal :

Paul HGM Dirks et al. The age of Homo naledi and associated sediments in the Rising Star Cave, South Africa, eLife, May 9, 2017, DOI:10.7554/eLife.24231

John Hawks et al. New fossil remains of Homo naledi from the Lesedi Chamber, South Africa, eLife, May 9, 2017, DOI:10.7554/eLife.24232
Redaksi laporanpenelitian.com menerima kiriman tulisan dari siapa saja. Info lanjut kunjungi tautan ini.

Comments