Skip to main content

Plasma Tali Pusar Bayi Manusia Memperbaiki Kinerja Memori Tikus

Penelitian ~ Darah manusia muda membuat tikus tua lebih pintar, tikus yang diberi protein dari plasma tali pusar manusia memperbaiki kinerja pada tes memori. Protein yang ditemukan di plasma darah manusia muda dapat memperbaiki fungsi otak pada tikus tua, para peneliti melapor ke Nature

Laporan Penelitian Plasma Tali Pusar Bayi Manusia Memperbaiki Kinerja Memori Tikus

Pertama kalinya protein manusia terbukti memiliki efek lintas spesies dan juga merupakan bukti terbaru bahwa infus darah muda dapat membalikkan gejala penuaan termasuk memulihkan ingatan, memperbaiki fungsi otot dan metabolisme serta mencegah kehilangan struktur tulang.

Selama beberapa dekade para ilmuwan telah mempelajari efek darah muda pada penuaan tikus melalui teknik yang disebut parabiosis di mana seekor tikus tua dijahit bersama dengan jaringan lebih muda sehingga mereka berbagi sistem peredaran darah.

Sampai saat ini sifat peremajaan darah muda hanya ditunjukkan pada transfer tikus ke tikus. Meskipun demikian pekerjaan tersebut telah mengilhami uji klinis yang sedang berlangsung oleh setidaknya dua perusahaan farmasi di mana orang tua diresapi darah dari donor orang yang lebih muda untuk perbaikan fisik.

Tony Wyss-Coray dan Joseph Castellano dari Stanford University di California menjalankan esksperimen oleh sebuah perusahaan farmasi dan telah mulai menguji plasma yang dikumpulkan dari tali pusar bayi baru lahir untuk mengetahui bagaimana darah manusia yang sangat muda mempengaruhi gejala penuaan.

Penanaman plasma manusia ke dalam pembuluh darah tikus tua mampu meningkatkan kemampuan hewan untuk menavigasi labirin dan belajar menghindari jebakan sangkar yang dialiri sengatan listrik yang menyakitkan.

Ketika tim membedah otak, mereka menemukan sel-sel di hippocampus yang terkait dengan gen belajar dan memori mengekspresikan neuron untuk membentuk lebih banyak koneksi. Ini tidak terjadi pada tikus yang diberi darah dari donor manusia yang lebih tua.

Para peneliti kemudian membandingkan 66 protein yang ditemukan dalam plasma tali pusar dengan protein dalam plasma dari orang tua dan protein yang diidentifikasi dalam parabiosis tikus. Mereka menemukan beberapa kandidat potensial dan menyuntikkannya satu per satu ke pembuluh darah tikus tua.

Hanya satu protein yaitu TIMP2 yang meningkatkan kinerja hewan. Tapi, terapi tidak menghasilkan regenerasi sel otak yang hilang saat penuaan normal, sedangkan suntikan plasma tali pusar manusia tua yang kekurangan TIMP2 tidak berpengaruh pada ingatan.

Para ilmuwan belum mengetahui bagaimana TIMP2 menjaga struktur sel dan jaringan untuk memberi efek pada memori. TIMP2 belum pernah dikaitkan dengan proses pembelajaran atau ingatan. Wyss-Coray menduga protein berfungsi sebagai regulator gen yang terlibat dalam pertumbuhan sel dan pembuluh darah.

Pada tahun 2014, Lee Rubin, peneliti sel induk Harvard University di Cambridge, Massachusetts, dan dibawah dewan ilmiah perusahaan yang sama dengan Wyss-Coray menemukan darah tikus muda mengandung kadar protein GDF11 yang lebih tinggi.

Suntikan GDF11 ke dalam tubuh merangsang pertumbuhan pembuluh darah di otak. Sejak saat itu mereka telah menemukan bahwa GDF11 tidak pernah memasuki otak dan diduga TIMP2 mempengaruhi otak secara tidak langsung dengan bertindak pada sistem di seluruh tubuh.

Infus plasma muda yang dikumpulkan dari ribuan donor bisa menjadi satu terapi potensial untuk penyakit penuaan termasuk Alzheimer. Sebagai alternatif, pasien lanjut usia suatu hari akan menerima koktail protein seperti GDF-11 dan TIMP2 atau obat-obatan yang meniru efeknya.

"Pada tingkat gambar yang besar, studi baru ini menarik karena memperkuat hipoterisi bahwa ada faktor tunggal yang baik pada darah muda," kata Wyss-Coray.

Jurnal : Joseph M. Castellano et al. Human umbilical cord plasma proteins revitalize hippocampal function in aged mice, Nature, 19 April 2017, DOI:10.1038/nature22067

Comments

Popular

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

Spesies baru Sulawesi Tarsius spectrumgurskyae dan Tarsius supriatnai

Immanuel Kant Benar Bahwa Kecantikan Membutuhkan Pemikiran

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Homo naledi Hidup dengan Homo sapiens Sampai Pleistosen Tengah