Langsung ke konten utama

Giraffa camelopardalis Tidak Satu, Temuan Baru Jerapah Terdiri dari 4 Spesies

Giraffa camelopardalis Tidak Satu, Temuan Baru Jerapah Terdiri dari 4 Spesies
Penelitian ~ Giraffa camelopardalis tidak satu, tapi empat spesies. Perbedaan genetik menggunakan analisis DNA menemukan tidak hanya satu tapi empat spesies jerapah berbeda.

Temuan baru menjungkirbalikkan 2 abad kebijaksanaan diterima umum tentang hewan kharismatik berleher panjang modern. Analisis bukti DNA dari 9 sub-spesies menunjuk tidak hanya ada satu jerapah tapi perbedaan genetik cukup untuk mengenali 4 spesies berbeda.

Sebuah benua dilengkapi dengan 9 subspesies terurai menjadi 4 spesies yang benar-benar berpisah antara 1,25 juta hingga 2 juta tahun lalu. Mereka dulu mungkin masih kawin silang, tetapi 4 kategori genetik berbeda menunjukkan hal tersebut tidak terjadi.

Definisi historis satu spesies didasarkan deskripsi tahun 1758 oleh Carl Linnaeus yang meneliti jerapah Nubian. Kategorisasi baru membagi menjadi Jerapah Selatan (Giraffa giraffa), Jerapah Masai (Giraffa tippelskirchi), Jerapah Reticulata (Giraffa reticulata) dan Jerapah Utara (Giraffa camelopardalis).

Empat spesies tidak kawin satu sama lain di alam liar meskipun bergerak jauh dan luas. Signifikan besar aspek evolusi secara real time terjadi di depan mata. Perbedaan paling jelas adalah bentuk pola, seberapa jauh memanjangkan leher dan berapa banyak tanduk dimiliki.

Sementara jerapah selatan meningkat tajam dalam jumlah, populasi Afrika timur dan tengah dalam kesulitan. Jika secara resmi diakui sebagai 4 spesies terpisah, maka 3 dari 4 darinya langsung serius terancam yang mengkatalisasi upaya lebih besar untuk melindunginya.

Ada lebih dari 40.000 jerapah selatan, tapi kurang dari 5000 jerapah utara dan mengingat total populasi jerapah telah menurun dari 150.000 menjadi sekitar 90.000 dalam 30 tahun terakhir. Jerapah utara berada dalam kesulitan di masa depan.

Seperti halnya perbedaan antara beruang coklat dan beruang kutub, penambahan daftar spesies menambah kekhawatiran daftar merah spesies terancam punah yang meninggalkan hewan hidup fokus tertinggi konservasi yang relatif rendah dibandingkan dengan badak dan gajah.

"Orang-orang harus benar-benar mengetahui bahwa jerapah dalam bahaya. Hanya ada 100.000 tersisa di Afrika. Kita bekerja sama dengan pemerintah dan LSM besar menempatkan jerapah dalam radar," kata Julian Fennessy, konservasionis Giraffe Conservation Foundation di Windhoek, Namibia.

"Semua habitat hilang dan banyak fragmentasi, mari kita jujur terkait pertumbuhan populasi manusia. Peningkatan lahan untuk kebutuhan pertanian," kata Fennessy.

Jurnal : Julian Fennessy et al. Multi-locus Analyses Reveal Four Giraffe Species Instead of One, Current Biology, September 8, 2016, DOI:10.1016/j.cub.2016.07.036

Komentar

Popular

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…