Tuesday, August 30, 2016

Kematian Lucy Australopithecus afarensis Akibat Terjatuh dari Pohon

Kematian Lucy Australopithecus afarensis Akibat Terjatuh dari Pohon
Penelitian ~ Otopsi fosil mengklaim Lucy jatuh dari pohon. Analisis kontroversial mengatakan hominid awal Australopithecus afarensis mengalami pecah beberapa tulang.

Drama leluhur fosil paling terkenal duduk di ujung pohon evolusi hominid, Lucy, jatuh menuju kematiannya dari ketinggian pohon. Beberapa kerusakan kerangka parsial dating 3,2 juta tahun kemungkinan besar ketika ia jatuh dari ketinggian 13 meter atau lebih.

Seorang perempuan duta spesies kuno sebelum menjadi manusia, A. afarensis pasti jatuh dari pohon saat memanjat atau tidur. Tulang dari kepala sampai kaki setara setidaknya 4 sampai 5 cedera parah ketika pendaratan pertama kaki sebelum menyodorkan lengannya dalam upaya memecah jatuh.

"Lucy mungkin menumpahkan darah segera setelah jatuh," kata John Kappelman, antropolog University of Texas di Austin.

Belikat kanan wanita kuno menghantam tulang lengan bagian atas. Tulang ujung lengan bahu menampilkan retak tajam serta fragmen tulang dan irisan paksa didorong ke poros. Kerusakan persis dialami orang-orang yang jatuh dari ketinggian atau kecelakaan mobil serius. Pendarahan internal besar-besaran sekeras tubuh Lucy.

Kematian Lucy Australopithecus afarensis Akibat Terjatuh dari Pohon

"Omong kosong. Ini contoh klasik cerita antropolog digunakan sebagai clickbait bagi jurnal komersial untuk liputan media," kata Tim White, antropolog University of California di Berkeley.

"Retak seluruh kerangka Lucy terjadi setelah kematiannya," kata White.

Retak tulang disebabkan oleh fosilisasi dan tekanan pada fosil setelah tertanam dan terkikis batu pasir. Terkait fosilisasi kerusakan seperti Lucy termasuk sendi bahu yang luas muncul pada tulang berbagai hewan non-pemanjat termasuk rusa, kuda nil dan badak.

Ketika orang sengaja jatuh dari ketinggian antara 2 hingga 21 meter, dokter lebih banyak mendokumentasikan patah tulang belakang, kepala, siku, pergelangan tangan, pergelangan kaki dan kaki, tetapi tidak bahu.

Para ilmuwan mampu menguraikan bagaimana Lucy terbaring sejak ditemukan tahun 1974 di Ethiopia oleh Donald Johanson, antropolog Arizona State University di Tempe, dan mahasiswa pascasarjana pada waktu itu, Tom Gray. Johanson termasuk White menemukan kerusakan tulang Lucy terutama tahun 1982.

Penasaran dengan kehancuran luas dan kerusakan sendi bahu kanan Lucy, Kappelman berkonsultasi ahli bedah ortopedi. Ketika ditunjukkan model print 3D kerangka Lucy diperbesar dengan ukuran manusia dewasa modern menunjukkan kerusakan lengan tampak seperti seorang individu mendarat tajam.

Kappelman dan rekan kemudian menjelajahi CT scan resolusi tinggi tulang Lucy yang diperoleh pada tahun 2008 ketika kerangka kuno dibawa ke University of Texas selama tur museum. Kerusakan tulang kanan atas lengan dan belikat konsisten hempasan tanah.



Jatuh muncul dari pergelangan kaki, kaki, panggul, punggung bawah, tulang rusuk, rahang dan tempurung otak. Fosilisasi dan kekuatan geologis menyebabkan retak tambahan pada fragmen Lucy seperti yang dijelaskan dalam laporan tahun 1982.

Meskipun awalnya skeptis bahwa penyebab kematian dapat dilihat dalam individu fosil setua Lucy, William Jungers, antropolog Medical Center Stony Brook University di New York menyatakan bukti memang menunjuk jatuh fatal. Tidak ada penjelasan lain pola kerusakan tualng Lucy.

Jika Lucy terguling keluar dari pohon saat memanjat atau tertidur di sarang harus memiliki jeda waktu antara hidup di tanah dan di pohon-pohon. Beberapa ilmuwan telah lama berpendapat bahwa mekanisasi tubuh A. afarensis terutama untuk berjalan di tanah.

Bahkan saat ini Jungers mengatakan kematian akibat kecelakaan jatuh dari pohon terjadi di antara beberapa pemburu-pengumpul Afrika terutama ketika merampok sarang lebah madu dan pada simpanse liar yang lebih mahir memanjat pohon dari Lucy.

Jurnal : John Kappelman et al. Perimortem fractures in Lucy suggest mortality from fall out of tall tree, Nature, 29 August 2016, DOI:10.1038/nature19332
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment