Friday, August 19, 2016

Gen Produksi Toksin Clostridium difficile Kunci Terapi Nonantibiotik

Laporan Penelitian Gen Produksi Toksin Clostridium difficile Kunci Terapi Nonantibiotik
Penelitian ~ Gen yang mengontrol produksi toksin Clostridium difficile diketahui. Temuan baru memunculkan cara yang lebih baik melucuti superbug usus yang melilit perut.

Temuan genetik baru membekali para peneliti melawan superbug dengan mengecilkan kekuasaan dan bukan membunuh langsung. Para ilmuwan mengidentifikasi satu set gen C. difficile yang memproduksi racun perusak sel-sel usus, penyebab diare, sakit perut dan penyakit mematikan lainnya.

Identifikasi satu set khusus gen yang mengontrol produksi toksin adalah langkah besar ke depan seperti membuka gudang senjata rahasia yang memberi amunisi baru bagi terapi nonantibiotik dengan melucuti superbug sambil menghindari kerusakan dengan menjamin hidup bagi bakteri baik.

C. difficile menginfeksi 500.000 orang dan membunuh 29.000 tiap tahun di Amerika Serikat. Mikroba nongkrong di usus selama bertahun-tahun tanpa menyebabkan masalah pada beberapa individu karena usus manusia biasanya memiliki banyak bakteri baik yang mencegah para penyebab penyakit.

"Tapi pukulan antibiotik dapat menghapus sistem keseimbangan dan jika bug baik mati, C. difficile mengambil alih," kata Charles Darkoh, mikrobiolog University of Texas Health Science Center di Houston.

Ketika infeksi mengamuk, C. difficile dapat mengembangkan resistensi terhadap antibiotik dan brubah menjadi superbug sangat tangguh. Produksi toksin memungkinkan bakteri melestarikan sumber daya dan melancarkan serangan balik saat mencapai ambang kritis.

Dua set gen yaitu agr1 dan agr2 mengaktifkan produksi toksin ketika diinkubasi dengan sel kulit manusia. Sedangkan strain mutan tanpa set gen tidak membuat racun dan sel-sel kulit yang tumbuh dalam jarak dekat tetap sehat.

Tikus yang hidup dengan strain mutan tidak menimbulkan bahaya, sedangkan tikus yang menelan C. difficile biasa kehilangan berat badan dan mengembangkan diare dalam beberapa hari. Dalam kultur sel kulit, strain tanpa agr2 kurang mematikan bahwa hanya agr2 yang sangat penting dalam produksi toksin.

Jurnal : Charles Darkoh et al. Accessory Gene Regulator-1 Locus Is Essential for Virulence and Pathogenesis of Clostridium difficile, mBio, 16 August 2016, DOI:10.1128/mBio.01237-16
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment