Thursday, July 14, 2016

Kapusin Brasil Memecah Biji Mete, Bukti Tertua Penggunaan Alat Oleh Monyet

Penelitian ~ Monyet Kapusin Berjenggot di Brasil (Sapajus libidinosus) menggunakan landasan datar dan palu bulat untuk menghancurkan mete sejak pra-Colombian 600 tahun lalu.

Monyet telah menggunakan alat-alat batu selama berabad-abad. Monyet organ-grinder khususnya licik di alam liar menghancurkan biji buah mete menggunakan palu dan alu dengan sengaja dalam catatan arkeologi sejauh 650 tahun lalu.

Palu dan landasan menjadi bukti paling awal monyet menggunakan alat batu bahwa inovasi alat-alat produksi adalah bisnis monyet sangat tua. Kapusin di timur laut Brazil telah memegang batu untuk memecahkan mete sehingga terbuka setidaknya sejak 600 hingga 700 tahun lalu.



Kacang mete yang dikelilingi cangkang tebal menjengkelkan terkandung racun untuk mencegah hewan mengunyah biji. Tapi Kapusin menemukan cara untuk kacang bergizi di dalam. Primata kecil mendirikan palu di dekat pohon dan sebuah log datar berfungsi sebagai landasan.

"Perilaku dapat terjadi sejak lama, tapi ini pertama kalinya bahwa kita memiliki bukti paling kuat," kata Tiago Falótico, arkeolog University of Sao Paulo.

Hari ini Monyet Kapusin Brasil Berjenggot masih membuka biji jambu monyet dengan menempatkan di permukaan datar batu landasan dan memukul dengan batu-batu besar. Tidak seperti kerikil dan batuan lainnya, khas alat berat dengan tanda keausan berminyak residu mete dan berkerumun di bawah pohon jambu.

Penggalian tanah padat di bawah kebun jambu mete kuno menemukan 69 lebih peralatan batu berkerumun dengan pengaturan mirip seperti alat-alat modern beserta bobot dan tanda keausan khas yang sama terkubur di 3 lapisan sedimen geologi berurutan.

Temuan penting membantu menilai kembali bukti awal penggunaan alat nenek moyang Anda sendiri. Dating radiokarbon menunjuk alat terdalam di lapisan tanah kembali sedini 1266 tahun lalu bahwa Kapusin rutin menggunakan teknologi batu untuk memecahkan biji mete selama ratusan tahun.

"Memahami mengapa Kapusin membangun keterampilan bisa menunjukkan situasi yang mengilhami munculnya penggunaan alat di seluruh spesies," kata Falótico.



Kapusin satu-satunya monyet di Amerika Selatan yang sering menggunakan alat dan kebiasaan berevolusi secara independen dari primata inventif lainnya seperti manusia dan simpanse yang terakhir memiliki nenek moyang bersama sekitar 35 juta tahun yang lalu.

Meskipun temuan baru bukan bukti arkeologi pertama penggunaan alat oleh monyet, Kapusin menggunakan perangkat sebagai bukti paling tua. Falótico dan tim melaporkan bukti pertama bulan lalu di Journal of Human Evolution bahwa alat terkubur 10 sampai 50 tahun digunakan kera ekor panjang di Thailand.

Sebelum itu, simpanse adalah satu-satunya primata non-manusia dengan track record kuno dating penggunaan alat. Dibandingkan dengan simpanse, catatan alat capuchin relatif muda. Tapi 600 hingga 700 tahun bukanlah perkiraan akhir karena alat bahkan bisa lebih tua di tanah yang lebih dalam di bawah pohon jambu.

"Dari perspektif manusia, penggunaan alat batu capuchin muncul cukup sederhana. Tapi monyet benar-benar menempatkan banyak perawatan ke dalam pekerjaan mereka," kata Michael Haslam, arkeolog University of Oxford.

"Kapusin secara hati-hati memilih palu dan landasan batu, menyesuaikan perilaku mencolok agar efisien membuka kacang. Butuh bertahun-tahun monyet belajar melakukan dengan benar. Meskipun tampak sederhana, ada banyak bagian proses yang perlu dipelajari dan dipraktekkan," kata Haslam.

Monyet tidak cukup inovator seperti manusia bahwa alat batu dari catatan arkeologi tidak berubah banyak selama berabad-abad. Tapi Kapusin tidak menggunakan alat-alat lain dalam berbagai cara termasuk menggunakan alat tongkat sebagai probe untuk mengumpulkan makanan dengan cara lain.



"Kapusin adalah satu-satunya sejauh yang kita tahu primata neotropical yang menggunakan alat secara teratur," kata Falótico.

Tapi primata liar di Afrika Barat dan Asia tenggara juga menggunakan alat-alat untuk memecahkan kacang terbuka bahwa situasi menunjuk independensi penggunaan alat-alat batu untuk membuka makanan keras di 3 benua yang berbeda. Tekanan evolusi mendorong primata memulai proses makanan tidak dapat diakse.

Defisit pangan mendorong inovasi dan para ilmuwan telah berjuang ketika berbicara penggunaan alat non-manusia. Tidak banyak catatan bagaimana perilaku berkembang dari waktu ke waktu terutama karena alat-alat yang sering menempel atau material organik lain yang membusuk dan tergradasi cepat.

"Manusia adalah pengguna alat terbesar yang pernah dikenal. Namun pemahaman yang lebih besar bagaimana kerabat primata juga menggunakan alat-alat dalam kehidupan sehari-hari memberi kita apresiasi lebih baik dan beberapa teori bagaimana nenek moyang mungkin telah mencapai posisi luar biasa hari ini," kata Haslam.

Jurnal : Michael Haslam et al. Pre-Columbian monkey tools, Current Biology, 11 July 2016, DOI:10.1016/j.cub.2016.05.046
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment