Thursday, June 9, 2016

Desain Penyakit Vampir Porfiria dari Cacing Pipih Schmidtea mediterranea

Penelitian ~ Penyakit vampir porphyria cacing planaria membantu mengobati gangguan sensitivitas cahaya pada manusia. Cacing pipih Schmidtea mediterranea membuka jendela desain terapi porfiria.

Sebuah temuan yang tidak disengaja kemampuan berubah warna cacing pipih S. mediterranea menawarkan pengembangan pengobatan untuk porfiria yang selama ini buntu yaitu penyakit yang menyebabkan rasa sakit dan sensitivitas cahaya pada manusia.

S. mediterranea asli Eropa selatan hingga Tunisia berubah dari warna coklat menjadi putih pucat saat terpapar sinar Matahari selama 24 jam atau lebih. Para ilmuwan menemukan scara tidak sengaja ketika meneliti sistem regenerasi dalam planaria yang terkenal ajaib.

Pemutihan penyakit vampir terjadi ketika sel kulit mulai kelebihan porfirin yang menekan pigmen warna alami. Porfirin pada tingkat beracun membunuh sel-sel yang memproduksi pigmen dan mengubah cacing pipih menjadi berwarna putih pucat. Pigmen kembali setelah beberapa hari.



Manusia dengan kelebihan porfirin meracuni sel kulit sehingga pucat dan sangat sensitif terhadap cahaya. Penyakit ini juga dapat menyebabkan rasa sakit hebat dan masalah neurologis. Tidak ada terapi yang efektif. Para ilmuwan melihat S. mediterranea organisme uji untuk menghasilkan obat suatu hari.

"Kami membangun planaria sebagai model eksperimental patofisiologi porfiria akut dan potensi identifikasi baru intervensi farmakologis biosintesis porfirin dan depigmentasi cahaya," kata Bradford Stubenhaus, biolog Keene State College di Keene, dan rekan.

Jurnal : Bradford M. Stubenhaus et al. Light-induced depigmentation in planarians models the pathophysiology of acute porphyrias, eLIFE, May 31, 2016, DOI:10.7554/eLife.14175
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment