Skip to main content

Vaksin Virus Zika Eksperimental Mampu Memberi Imunisasi Pada Tikus

Penelitian ~ Vaksin virus Zika membawa harapan perlindungan manusia. Versi eksperimental berhasil memberi imunisasi tikus yang mungkin membantu melawan penyakit, meskipun komplikasi demam berdarah.

Vaksin uji coba benar-benar melindungi hewan dari virus Zika meningkatkan harapan untuk memerangi protein virus yang membawa penyakit cepat menyebar di bawah kontrol bahwa tembakan imunisasi tunggal yang dimurnikan dari virus Zika memberi tikus perlindungan total wabah yang melanda Amerika selatan.

Perlombaan untuk mengkonversi paling awal sukses membangun vaksin pada manusia cukup efektif, meskipun mungkin tidak mudah karena kesamaan virus Zika berarti vaksin mungkin terbukti kurang efektif pada beberapa orang dan berpotensi menjadi penybab infeksi lain seperti demam berdarah makin parah.

"Langkah ke depan pengembangan vaksin virus Zika tentu saja kita harus berhati-hati ekstrapolasi dari tikus ke manusia," kata Dan Barouch, virulog Harvard Medical School di Boston.

Vaksin adalah salah satu dari sejumlah prioritas utama sejak Organisasi Kesehatan Dunia pada bulan Februari menyatakan epidemi Zika sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat global bahwa nyamuk di lebih dari 60 negara telah menyebabkan cacat lahir dan gangguan neurologis sindrom Guillain-Barré.

Barouch dan tim menguji 2 vaksin eksperimental pada tikus melalui DNA sebagai material genetik diambil virus Zika yang beredar di wabah Brasil. Vaksin kedua lebih konvensional dibuat dari seluruh virus tidak aktif di Puerto Rico. Keduanya mampu melindungi tikus selama 2 bulan.

"Kami sangat terkejut dan cukup terkesan bahwa satu tembakan dari salah satu vaksin memberikan perlindungan lengkap," kata Barouch.

Tes dilakukan untuk memahami berapa lama vaksin efektif dan apakah booster dapat memperluas perlindungan yang ditawarkan meskipun jalan tidak mudah dan para ilmuwan selama ini kesulitan membuat vaksin DNA bekerja pada manusia dan tidak pernah disetujui pemerintah AS.

Untuk alasan ini vaksin kedua mungkin lebih mudah dibawa ke pasar karena mengacu pada teknologi vaksin konvensional. Pekan lalu, tim di Imperial College London menunjuk paparan dengue memperburuk infeksi Zika dan beberapa ilmuwan menduga antibodi Zika secara tidak sengaja memperparah dengue.

Dengue dan Zika beredar di wilayah tumpang tindih dan keduanya secara genetis mirip dan sistem kekebalan tubuh tidak selalu mampu membedakan keduanya. Ketika seseorang yang sebelumnya terinfeksi dengue dan menangkap Zika, sistem kekebalan tubuh mencoba melawan dengan antibodi lama.

Untuk alasan yang sama seseorang yang memiliki dengue di masa lalu mungkin memiliki antibodi yang justru menyerang vaksin Zika segera setelah diberikan. Jika itu terjadi, tubuh dengan cepat menghapus vaksin sebelum memiliki kesempatan membuat antibodi segar terhadap Zika.

Meskipun sebuah rintangan, para peneliti menyatakan vaksin lainnya yang menargetkan flavivirus termasuk Zika dan demam berdarah sudah efektif terutama untuk demam kuning, virus ensefalitis Jepang dan virus ensefalitis tick-borne penyebab pendarahan otak.

Jurnal :

Rafael A. Larocca et al. Vaccine protection against Zika virus from Brazil, Nature, 28 June 2016, DOI:10.1038/nature18952

Wanwisa Dejnirattisai et al. Dengue virus sero-cross-reactivity drives antibody-dependent enhancement of infection with zika virus, Nature Immunology, 23 June 2016, DOI:10.1038/ni.3515

Comments

Popular

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…