Tuesday, June 21, 2016

Emisi Karbon Dioksida Diubah Jadi Batu Di Bawah Tanah Hanya 2 Tahun

Penelitian ~ Batuan vulkanik membantu mengubah emisi karbon menjadi batu dan cepat. Memompa CO2 ke basal menawarkan keuntungan lebih dibanding metode serupa untuk mencegah perubahan iklim.

Suntikan underground mengubah karbon dioksida menjadi batu. Tim di Islandia mengatakan cara baru untuk menjebak gas rumah kaca di bawah tanah dengan mengubah menjadi batu bahwa batuan vulkanik memicu reaksi cepat mineralisasi karbonat mengunci gas selamanya.

Proyek CarbFix menawarkan secercah harapan upaya terkepung dalam memerangi perubahan iklim dengan menangkap dan menyimpan CO2 dari pembangkit listrik sebagai langkah besar yang memiliki nilai komersial tinggi peran swasta dalam menghapus karbon dari atmosfer.

Teknik baru mengubah emisi penyebab pemanasan iklim menjadi batu setelah ujicoba di Islandia lebih dari 95 persen karbon dioksida disuntik ke lava basaltik menjadi batuan padat dalam 2 tahun. Transformasi sangat cepat karantina CO2 dari atmosfer membantu mengimbangi emisi gas rumah kaca masyarakat.


"Ini bekerja, layak dan cukup cepat menjadi solusi permanen menyimpan emisi CO2," kata Juerg Matter, geokimiawan University of Southampton di Inggris.

Banyak skema penyimpanan karbon dengan memompa CO2 ke bawah tanah, meskipun pendekatan ini rentan kebocoran. Menargetkan basal yaitu sisa-sisa pendinginan curahan vulkanik menawarkan keuntungan lebih dari metode lain pendekatan mineralisasi batuan.

Sebanyak 25 persen basalt terdiri dari unsur-unsur yang bereaksi dengan CO2 membentuk mineral karbonat padat seperti batu kapur yaitu sebuah proses alami selama pelapukan batuan. Tapi proses mineralisasi butuh waktu hingga ribuan tahun. Terlalu lambat dan tidak berguna dalam memerangi perubahan iklim.

Di Islandia, Matter dan rekan mencampur air tanah dengan 230 ton CO2 dari pembangkit listrik tenaga panas Bumi untuk membuat semacam air soda. Kemudian disuntikkan di kedalaman 400 sampai 800 meter di bawah permukaan dalam batuan.

Setelah 2 tahun tim mengumpulkan sampel batuan bahwa hampir semua CO2 menjadi mineral. Ongkos US$17 per ton mineralisasi emisi karbon lebih mahal dari metode penyimpanan lain, meskipun tidak memerlukan pemantauan jangka panjang untuk mencegah kebocoran.

"Selain itu pendekatan hanya membutuhkan air dan basalt dan kita secara teoritis memiliki cukup basal global untuk mengurus semua emisi CO2 antropogenik," kata Matter.

Puluhan proyek percontohan di seluruh dunia telah berusaha menguji Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai cara untuk membatasi emisi CO2 dari pembangkit listrik. Sangat sedikit kemajuan karena biaya mahal yang diperkirakan sebesar US$50 sampai US$100 per ton CO2.

CCS juga menghadapi kendala teknis terbesar yaitu tempat untuk menyimpan. Sebagian peneliti mendukung formasi batuan sedimen, sering batu pasir menyembunyikan air tanah asin atau sumur minyak habis karena industri memiliki pengalaman panjang bekerja dengan mineral.


Tetapi para ilmuwan khawatir penyimpanan di lapisan batuan yang tertutup akuifer rentan bocor kembali ke atmosfer. Pada tahun 2006 ilmuwan Islandia, Amerika Serikat dan Perancis mengusulkan pendekatan berbeda yaitu menyuntikkan CO2 ke dalam lapisan bawah tanah basalt.

Batuan beku gelap yang mendasari lautan dan tanaman Bumi tidak seperti batu pasir. Basal mengandung logam yang bereaksi dengan CO2 membentuk mineral karbonat seperti proses kalsit yang dikenal sebagai karbonasi. Proses ini memakan waktu bertahun-tahun.

Pada tahun 2012 eksperimen CarbFix sejauh 25 kilometer timur Reykjavik mengambil dosis basal bawah tanah yang berlimpah di Islandia dengan gelembung CO2 dari pendinginan magma bawah tanah dan dikumpulkan di pembangkit listrik tenaga panas bumi di dekatnya.

Penambahan air bereaksi dengan gas untuk membentuk pendorong utama reaksi mineral yaitu asam karbonat. Kemudian pantauan pH, geokimia dan karakteristik lain dari bawah permukaan dengan mengambil sampel dari sumur-sumur terdekat sebagai alat pemantauan.

Tim kaget. Setelah sekitar satu setengah tahun pompa di dalam sumur monitoring macet. Frustrasi, insinyur mengangkat ke atas dan menemukan instrumen berlapis putih dan hijau. Tes mengidentifikasi kalsit yaitu bantalan pelacak karbon berat yang ditandai sebagai produk karbonasi.

"Ini kejutan besar. Karbonasi terjadi begitu cepat. Metode ini menjadi cara layak untuk menyimpan permanen CO2 bawah tanah dan tanpa resiko kebocoran," kata Matter.

Tes laboratorium dengan pemodelan komputer sebelumnya menyarankan karbonasi di basalt akan mengambil setidaknya satu dekade. Akuifer batu pasir sangat aktif karbonasi tapi mengambil berabad-abad sebagai di situs CCS konvensional.

Jurnal : Juerg M. Matter et al. Rapid carbon mineralization for permanent disposal of anthropogenic carbon dioxide emissions, Science, 10 Jun 2016, DOI:10.1126/science.aad8132
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment