Friday, June 17, 2016

Memonitor Aktivitas Jaringan Online Pro-ISIS Memprediksi Serangan Teror

Penelitian ~ Pemantauan kelompok online menawarkan jendela ke dalam aksi teror Islamic State (IS). Menargetkan kelompok online bisa menjadi kunci untuk membatasi jangkauan digital Negara Islam.

Cara baru model pola perilaku online Negara Islam untuk memprediksi kondisi yang memicu serangan di dunia nyata. Ketika kelompok pro-IS meningkat dalam jumlah dan ukuran di internet, serangan semakin matang dan lebih mungkin dilakukan dalam waktu dekat.

Pendukung media sosial Negara Islam membentuk kelompok online yang bisa memberi petunjuk penting untuk memprediksi kapan serangan teror negara Khilafah akan berlangsung. Komunitas virtual pendorong aktivitas jihadis di situs media sosial seperti Facebook yaitu VKontakte (VK.com).

VKontakte adalah layanan jejaring sosial berbasis di Rusia dengan lebih dari 350 juta pengguna memungkinkan pesan dalam banyak bahasa dan digunakan di seluruh dunia sehingga mudah menjadi arena para pendukung IS (biasa disebut dengan ISIS).

Para ilmuwan pekan ini menjelaskan model matematika yang memprediksi kelompok dunia maya pendukung teroris berkembang biak sebelum serangan teror ke dunia nyata. Pada September 2014 kelompok pro-IS di VKontakte menjamur beberapa hari sebelum IS menyerbu kota Kobane.

"Pekerjaan kami menunjukkan bahwa untuk mengelola dan memantau aktivitas online IS perlu fokus pada agregat, bukan individu," kata Neil Johnson, fisikawan University of Miami di Florida.

Agregat pro-IS di VKontakte bertukar informasi tentang isu-isu seperti merekrut jihadis ke Suriah dan bagaimana bersembunyi dari serangan drone. Model baru menunjukkan pihak berwenang perlu menutup kelompok-kelompok online pro-IS pada tahap awal.

Agregat skala kecil para pendukung secara bertahap memperluas jaringan dan akhirnya bergabung menjadi komunitas yang jauh lebih besar. Model komputasi jaringan teror membaca dukungan online, tapi masih harus dilihat apakah model bisa memprediksi kapan secara tepat aksi teror Negara Islam dilancarkan.

"Saya selalu tertarik pada apa pun yang melibatkan agama radikal. Ada banyak studi tentang evolusi ekstremisme online, tetapi peneliti lain cenderung melihat obrolan individu atau mengikuti Twitter," kata Johnson.

"Topik ini penuh dengan teori samar-samar bahwa orang berperilaku dengan cara ini atau itu dalam kelompok dilihat berdasarkan analisis spekulatif semiotik dan tidak ada banyak analisis kuantitatif apa yang sebenarnya terjadi," kata Johnson.

Laporan Johnson dan rekan pekan lalu mengejutkan bahwa 40% simpatisan IS adalah perempuan dan memegang posisi yang tak terduga dalam jaringan pro-IS sebagai pusat aliran informasi di antara pengikut yang biasanya tidak memiliki peran sama penting dalam kehidupan dunia sehari-hari seperti dugaan akademisi.

Data menunjukkan meskipun kelompok-kelompok pro-IS terdiri dari anggota yang mungkin tidak pernah bertemu, mereka menampilkan kemampuan mencolok untuk beradaptasi dengan cara untuk memperpanjang hidup online dan meningkatkan ukuran.

Johnson mengidentifikasi 196 agregat pro-IS terdiri dari 108.086 pengikut individu yang beroperasi antara 1 Januari hingga 31 Agustus 2015. Badan-badan intelijen, hacker dan moderator situs bekerja untuk mematikan kelompok-kelompok ini, tetapi pada tingkat lebih rendah di VKontakte dari pada Facebook.

Agregat pro-IS cepat beradaptasi dari tekanan dalam beberapa cara. Sekitar 15 persen agregat mengubah nama online, 7 persen membalik dengan mengecoh konten setiap anggota atau pengikut agregat saat itu saja dan 4 persen terlibat dalam bentuk reinkarnasi digital.

Reinkarnasi agregat menghilang dan kemudian kembali, sering dalam beberapa minggu dengan nama baru dan setidaknya 60 persen dari pengikut yang sama seperti sebelumnya. Agregat yang menghilang tersusun kembali tanpa arah atau mendesak satu atau beberapa anggota.

Nama-nama baru kelompok reinkarnasi sering menyerupai nama asli yang cukup untuk memberitahu kepada mantan anggota tetapi tidak cukup untuk memicu sistem moderasi otomatis di VKontakte dalam mengidentifikasi nama-nama kelompok pro-militan.

"Fakta bahwa jumlah kelompok-kelompok pro-IS atau agregat berproliferasi sehingga matematika tertentu dapat membantu memprediksi kapan kondisi matang untuk peristiwa ini," kata Stefan Wuchty, fisikawan University of Miami di Florida.

"Diasumsikan dukungan kelompok-kelompok ini timbul dari virus online di mana satu orang mempengaruhi orang lain dan sebagainya. Para ilmuwan melihat penyebaran obrolan di Tweet individual, tapi kami menemukan potensi kekuatan terletak pada agregat," kata Wuchty.

"Ketika agregat pro-IS ditemukan secara online, Anda sudah memegang denyut nadi dari seluruh organisasi. Model kami mengukur interval waktu sampai agregat baru muncul di situs jaringan sosial yang memungkinkan kita membuat prediksi. Tes akhir adalah prediksi real time," kata Wuchty.

Hari ini peningkatan konektivitas internet memberi ruang kelompok teroris memperluas jangkauan, bahkan menginsipirasi individu yang tidak memiliki riwayat radikal. Omar Mateen bersenjata melakukan serangan tragis di sebuah klub malam di Orlando pada 12 Juni.

"Pembantaian di Orlando dan penikaman di Paris, kami juga menunjuk setiap aktor 'lone wolf' hanya benar-benar sendirian untuk jangka waktu singkat sebagai hasil dari proses peleburan aktivitas online. Setiap 'lone wolf' di suatu agregat segera mendekat satu sama lain," kata Johnson.

Ke depan para ilmuwan berencana lebih menguji metode dan mengembangkan menjadi salah satu yang dapat digunakan secara rutin. Mereka juga berencana menggunakan model mereka untuk lebih memahami cara-cara propaganda disebarkan.

"Dukungan pro-IS cepat tumbuh menjadi salah satu super komunitas besar yang bisa sangat cepat menyebarkan materi di Internet jika lembaga anti-ISIS tidak cukup aktif menutup kelompok yang lebih kecil ke bawah," kata Johnson.

"Tapi kami menunjukkan secara matematis bahwa harus mungkin untuk mencegah perkembangan agregat besar dengan memecah lebih kecil. Misalnya, mencegah terbentuknya agregat dari 1.000 atau lebih di masa depan," kata Johnson.

"Lembaga-lembaga anti-teror dapat fokus untuk memutus kelompok, katakanlah, 100. Tanpa potongan-potongan yang lebih kecil, yang lebih besar tidak bisa berkembang," kata Johnson.

Jurnal : N. F. Johnson et al. New online ecology of adversarial aggregates: ISIS and beyond, Science, 17 Jun 2016, DOI:10.1126/science.aaf0675
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment