Tuesday, May 17, 2016

Jantung Virtual Prediksi Aritmia Lebih Akurat Dibanding Tes Standar

Penelitian ~ Jantung virtual membantu dokter menangani pasien aritmia yang berakibat fatal. Jantung maya 3D lebih akurat dibanding tes tradisional untuk ketepatan implan defibrillator.

Personalisasi model jantung 3D lebih efektif daripada tes standar untuk mengidentifikasi pasien jantung berisiko mengembangkan aritmia yang mematikan. Jantung maya personal menilai mana paling perlu segera ditangani sebelum kematian fatal.

Model komputer 3D memungkinkan pemerikaan kinerja jantung pasien dalam minggu-minggu dan bulan setelah stroke dan menilai seberapa besar peluang masalah irama jantung di masa depan yang sering menyebabkan kematian jantung mendadak.

Para ilmuwan melaporkan regulasi komputer jantung maya terbukti lebih efektif daripada tes tradisional untuk mengungkap pasien memiliki risiko tertinggi dan memancarkan kejutan listrik cepat ke jantung ketika muncul aritmia yang telah membunuh 100.000 orang di Inggris setiap tahun.



"Tujuannya adalah menciptakan jantung virtual untuk setiap pasien," kata Natalia Trayanova, kardiolog komputasi Johns Hopkins University di Baltimore.

Trayanova dan rekan menggunakan MRI untuk membangun model digital rinci 41 jantung pasien yang pernah mengalami serangan jantung. Setiap jantung pasien memiliki jaringan parut yang menghambat kemampuan pompa darah secara efisien.

Dokter biasanya memutuskan mana pasien harus memiliki implan defibrillator dengan mengukur berapa banyak darah dipompa dari jantung. Semua pasien Trayanova membuat jantung virtual untuk memenuhi syarat implan karena nilai pada tes yang sangat rendah.

Perbandingan prediksi jantung virtual dengan catatan pasien hingga 5 tahun setelah defibrillator dipasang menunjukkan bahwa model 3D lebih akurat mengidentifikasi pasien yang paling berisiko aritmia mematikan. Model 3D empat kali lebih mungkin mengembangkan aritmia meskipun uji tradisional negatif.

"Lokasi, ukuran dan bentuk geometris zona cedera dalam jantung pasien berbeda dan begitu juga tingkat jaringan parut. Kombinasi ini beberapa parameter membuat jantung lebih rentan terhadap aritmia," kata Trayanova.

Dokter bisa mengubah secara radikal untuk menilai mana pasien harus pasang implan defibrillator dan sebaliknya memotong jumlah pasien yang sebenarnya tidak perlu. Meskipun risiko implan tidak besar, pasien dapat mengalami infeksi, perangkat malfungsi dan guncangan tak terduga.

Jurnal : Hermenegild J. Arevalo et al. Arrhythmia risk stratification of patients after myocardial infarction using personalized heart models, Nature Communications, 10 May 2016, DOI:10.1038/ncomms11437
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment