Saturday, May 14, 2016

Fosil Primata China Dating 34 juta Tahun Paradoks Antropoid dari Asia

Penelitian ~ Primata Asia terpukul keras oleh perubahan iklim. Temuan fosil di China Selatan mungkin menjelaskan mengapa manusia berevolusi di Afrika dan tidak di Asia.

Iklim dingin menggigit dan kering kerontang dikombinasi gejolak daratan ditempa Himalaya dan Tibet Plateau menghancurkan hutan tropis bahwa fosil terbaring di China selatan menuju jalan buntu evolusioner 34 juta tahun lalu yang mengakibatkan manusia berkembang di Afrika daripada Asia.

Sepuluh fosil spesies dari China mengungkap divergensi evolusi primata Afro-Arab dan Asia yang membentangkan fauna beragam dari awal Oligosen yang sensitif pergeseran suhu dan dengan demikian perubahan iklim yang berakibat kepunahan dalam skala besar.

Para ilmuwan memberikan bukti fosil pertama para pelopor monyet, kera dan manusia yang juga dikenal sebagai antropoid muncul di Asia sebelum pertiwi digantikan oleh makhluk-makhluk modern yang berkaitan dengan lemur, kukang dan tarsius.

Gambar: Xijun Ni

"Titik fokus evolusi antropoid bergeser di beberapa titik dari Asia ke Afrika, tapi kami tidak mengerti kapan dan mengapa perubahan itu terjadi," kata Christopher Beard, paleontolog University of Kansas di Lawrence.

Beard dan tim berhipotesis bahwa Asia adalah landasan evolusi perdana leluhur primata termasuk antropoid. Tapi sampai hari ini perdebatan dan ketidakpastian mengelilingi asal-usul geografis primata.

Kelangkaan fosil primata Asia dari waktu relatif Afrika goyah mskipun khusunya bebrapa situs di Mesir menghasilkan banyak fosil primata yang berasal dari sekitar 37 hingga 30 juta tahun lalu.

Penggalian pada tahun 2008-2014 di China selatan menghadirkan 48 gigi, beberapa masih tertanam di fragmen rahang dari 6 spesies. Primata ini penghuni pohon dan berkumpul di sebuah wilayah cukup jauh ke selatan untuk tetap menghuni hutan.

Temuan baru memberikan sekilas langka primata Asia yang berhasil survive atas pergeseran iklim dan cuaca. Fosil gigi dari satu spesies terlihat seperti tarsius modern yang kecil dan bermata besar yang sekarang tinggal di pulau-pulau Asia Tenggara.

"Tarsius adalah fosil hidup yang bisa untuk melacak sejarah evolusi kembali puluhan juta tahun di Asia," kata Beard.

Hanya satu fosil primata China berasal dari anthropoid dan peneliti mengklasifikasi sebagai bagian dari garis antropoid Asia sebelumnya 40 juta tahun yang diidentifikasi dari fragmen gigi dan rahang di Myanmar tepat di seberang perbatasan barat daya China.

Beard dan rekan menduga antropoid berkembang di Asia dari leluhur primata dating 55 juta tahun. Jika demikian antropoid Asia harus telah mencapai Afrika sebelum pergeseran iklim menghancurkan seluruh hutan di Asia 34 juta tahun lalu.

Para migran antarbenua berkembang menjadi monyet, kera dan manusia hingga hari ini. Para ilmuwan sudah tahu bahwa rumah hutan primata di Afrika selamat dari bencana kuno dan hidup lebih baik daripada saudara mereka di Asia.

Hanya satu situs Asia lainnya yaitu di Pakistan yang menghasilkan fosil antropoid pada waktu sebanding dengan temuan China. Fosil Pakistan terdiri hanya dari gigi dan antropoid Asia tersapu beberapa juta tahun setelah hutan tropis benua mulai menyusut.

Para ilmuwan lain mengaggap terlalu sedikit fosil primata Asia kuno untuk menjawab apakah temuan di China selatan sinyal survival benua bagi leluhur lemur dan loris setelah 34 juta tahun lalu kecuali mewakili populasi terisolasi yang punah.

Selain itu leluhur lemur dan loris harus hidup di ekuatorial Afrika dan Madagaskar 34 juta tahun lalu sebagai mana dilakukan kerabat lemur dan loris hari ini. Tidak cukup untuk mendukung teori migrasi ke Afrika akibat cakupan hutan dari hasil temuan primata.

Para ilmuwan lain juga skeptis terhadap temuan Beard dapat menenangkan perdebatan bahwa primata berasal di Asia. Fosil primata tertua yang dikenal yaitu 56-55 juta tahun lalu berasal dari berbagai tempat di Asia, Eropa, Maroko dan Amerika Utara.

Jurnal : Xijun Ni et al. Oligocene primates from China reveal divergence between African and Asian primate evolution, Science, 06 May 2016, DOI:10.1126/science.aaf2107
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment