Monday, May 2, 2016

Beam Loss Monitoring (BLM) Pemburu Partikel Baru dalam Sampah LHC

Penelitian ~ LHC menyaring sampah bisa membantu menemukan sebuah partikel misterius. Residu tumbukan partikel yang berbahaya merusak mesin dan dibuang mungkin berisi permata.

Jika tidak muncul di tempat terduga, carilah di tempat sampah. Di situlah salah satu tim pemburu partikel di Large Hadron Collider (LHC) berpikir buruan mungkin bersembunyi sebagaimana sinyal dalam energi proton terbuang dari tungku balok.

Mesin LHC biasanya dimatikan selama musim dingin dan saat ini sedang bersiap-siap memulai tumbukan lagi akhir April atau awal Mei. Biasanya dua berkas proton mnyisir lingkaran cincin 27 kilometer menghancurkan bersama-sama dalam 4 detektor yaitu ATLAS, CMS, ALICE dan LHCb.

Desember lalu para ilmuwan mempresentasi hasil pertama upgrade pada tingkat energi tertinggi. Petunjuk partikel baru dan tak terduga pada kekuatan 750 gigaelectronvolts (GeV) memanggang teori asal-usul senyawa baru. Tidak jelas apakah partikel benar-benar ada sehingga penyatuan statistik prioritas utama.

Sekarang para ilmuwan mengusulkan hack untuk menciptakan cara baru pencarian partikel-partikel yang hilang terbuang karena seringkali proton dapat bertahan hidup dan lolos dari pantauan detektor ketika bergerak sedikit miring ke seluruh blok cahaya.

"Ini memiliki perbedaan yang luar biasa," kata Risto Orava, fisikawan University of Helsinki.

Proton sampah tidak lagi tersimpan di jalur cincin besar magnet dan bisa menimbulkan bahaya bagi mesin sehingga dibuang. Orava dan rekan menggunakan sistem Beam Loss Monitoring (BLM) sebagai bagian pencarian partikel fisika baru.

BLM melibatkan penggunaan serat optik untuk menghubungkan detektor pada kedua sisi eksprimen utama yang memungkinkan sistem persis mengukur waktu kedatangan proton dan mengkonfirmasi apakah 2 tabrakan yang sama telah memukul dua detektor pada waktu yang sama.

Referensi : Matti Kalliokoski, Jerry W. Lämsä, Mikael Mieskolainen, Risto Orava. Turning the LHC Ring into a New Physics Search Machine, arXiv, last revised 22 Apr 2016, arXiv:1604.05778
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment