Skip to main content

Jantung Babi Rekayasa Genetik Berdetak Di Tubuh Baboon Lebih 2 Tahun

Penelitian ~ Jantung babi terus berdetak di tubuh baboon lebih dari 2 tahun. Ekperimen hibrid xenotransplantasi organ lintas spesies dan modifikasi genetik menjaga hati babi 945 hari.

Novel teknik rekayasa genetika dan koktail materi kimia memberi pengorbanan lebih tulus bahwa ikhtiar panjang babi menganugerahi jantung halal kepada babon tetap berdetak hampir 3 tahun sebagai patokan baru transplantasi untuk manusia.

Meskipun secara teori xenotransplant atau transplantasi lintas spesies sangat memungkinkan, kenyataan sulit diterapkan karena memicu reaksi kekebalan tubuh oleh penerima. Tapi kombinasi modifikasi gen dan obat penekan antibodi mampu mengawal jantung babi di tubuh baboon tetap sejahtera.

Sementara di Amerika Serikat saja berbaris 122.000 orang dalam daftar tunggu transplantasi jantung dan 22 di antaranya meninggal setiap hari, metode baru donor babi memberi banyak janji yang tidak lama lagi terealisasi segera ke meja operasi.

Para ilmuwan pekan ini melaporkan hasil ujian besar pig-to-baboon heart transplants dalam paket modifikasi genetik dan rejimen yang berpotensi aplikasi aman untuk pasien gagal jantung stadium akhir dan segera sidang kandidat uji coba klinis awal xenotransplantasi.

"Ini sangat penting membawa kita satu langkah lebih dekat penggunaan organ-organ untuk manusia," kata Muhammad Mohiuddin, kardiolog National Heart, Lung dan Blood Institute di National Institutes of Health (NIH), Bethesda.

"Xenotransplan adalah transplantasi organ spesies berbeda yang berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun akibat kekurangan suplai organ tubuh manusia untuk transplantasi," kata Mohiuddin.

Mohiuddin dan rekan menggunakan garis standar yang ditetapkan sebelumnya terhadap babi donor dengan 3 modifikasi genetik yang memungkinkan toleransi imun di tubuh penerima dalam hal ini kombinasi modifikasi antibodi dan farmasi untuk mencegah penolakan tubuh babon.

Jantung babi tidak menyingkirkan jantung monyet, tapi dikaitkan yang terhubung ke sistem peredaran darah melalui 2 pembuluh besar di perut babon. Jantung babon sendiri terus fungsi memompa darah sebagai metode untuk analisis rumit sistem imun.

Mengingat kedekatan genetik, primata awalnya dianggap kandidat donor terbaik bagi manusia tetapi bahaya lebih tinggi penularan penyakit. Selain itu penangkaran kera seperti simpanse butuh waktu lama dan di pihak lain masalah-masalah yang terkait etis.

Babi muncul sebagai pilihan donor yang terbaik dan penangkaran dapat dilakukan cepat. Jantung babi secara anatomi mirip manusia dan risiko lebih rendah dalam hal penularan penyakit karena cukup jauh kedudukan dalam pohon kekerabatan evolusi.

Selama 10 tahun terakhir fasilitas di NIH telah menanam babun dengan jantung babi dan sampai pencapaian terbaru belum ada pengujian babi pada manusia. Tapi pekan ini datang sepotong bukti perjuangan panjang metode kedokteran paling canggih.

"Dulu orang berpikir bahwa ini hanya eksperimen liar dan tidak memiliki implikasi. Sekarang kita semua belajar bahwa xenotransplantasi pada manusia benar-benar bisa terjadi," kata Mohiuddin.

Ketika organ dari spesies satu hewan ditanam ke hewan lain segera memprovokasi serangan sistem kekebalan tubuh host dan kelangsungan hidup hanya hitungan menit. Jantung babi kandidat paling mungkin sebagai donor karena serupa dalam ukuran karbohidrat atau α 1.3-galactosyltransferase (gal)

Gal pada permukaan sel-sel pembuluh darah mendorong tubuh manusia membuat antibodi dan menyebabkan pembekuan darah. Pada tahun 2001 para ilmuwan mengembangkan babi yang direkayasa genetika agar tidak memiliki gen gal.

Organ babi rekayasa genetik mulai bertahan hidup selama berbulan-bulan di primata non-manusia. Tapi mereka masih harus terus mendapat rejimen untuk melindungi organ asing dengan menekan sistem kekebalan tubuh sehingga mereka sendiri rentan infeksi.

Mohiuddin dan tim bereksperimen dengan obat lebih bertarget untuk melindungi transplantasi tanpa efek dramatis sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan. Di antara paling menjanjikan yaitu menghalangi komunikasi antar sel-sel antibodi tertentu dengan mengikat reseptor CD40.

Antibodi anti-CD40 bersama dengan obat heparin pengencer darah mencegah pembekuan 5 babon penerima jantung babi rekayasa genetika yang tidak memiliki gen gal dan lainnya penghambat sinyal molekul yang mendorong respon antibodi.

Jurnal : Muhammad M. Mohiuddin et al. Chimeric 2C10R4 anti-CD40 antibody therapy is critical for long-term survival of GTKO.hCD46.hTBM pig-to-primate cardiac xenograft, Nature Communications, 05 April 2016, DOI:10.1038/ncomms11138

Comments

Popular

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…