Monday, April 25, 2016

Model Matematika Menunjuk Revolusi Afrika Utara dan Timur Tengah

Penelitian ~ Model komputasi dan statistik menjelaskan mengapa revolusi berubah kerusuhan dan periode panjang ketidakstabilan di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Sebuah revolusi politik dan kekerasan sangat akrab di mana mobilisasi massa dan upaya agen revolusioner bersenjata menggulingkan pemerintah pusat dan pasukan setianya memiliki multiplisitas bahwa pemberontakan politik menimbulkan hasil sangat berbda.

Heterogenitas memprediksi model yang dapat dipahami dari pengalaman terbaru Arab Spring yang melibatkan beberapa pemberontakan muncul dengan cara-cara yang tampaknya sama, tetapi menghasilkan situasi politik yang sama sekali berbeda.

Revolusi berakhir dengan hasil sama sekali berbeda mulai dari penggulingan sukses pemerintah Tunisia, represi absolut di Bahrain dan Arab Saudi, anarki permanen di Libya dan Suriah seiring waktu organisasi oposisi yang turut bermain diujung revolusi gagal dan berakhir pemberontakan.

Alessandro Moro, ekonom Ca’ Foscari University di Venice, pekan lalu menunjukkan dengan mudah bagaimana sebuah revolusi mendapatkan hasil berbeda dengan asumsi dan instrumen berbeda yang sangat jarang mendapatkan varietas menjadi sebuah model yang unik.

Model yang menghasilkan keragaman hasil dan menunjuk bagaimana ketidakstabilan politik dapat dianalisis menggunakan alat biasa dalam ilmu-ilmu sosial dan ekonomi bahkan simulasi matematika berbasis agen. Tiga hasil sangat berbeda dapat diidentifikasi dengan menerapkan model.



Pertama, sebuah revolusi sukses di mana semua pemegang wewenang di pemerintahan dikeluarkan dengan tertib oleh kaum revolusioner yang berhasil menggulingkan rezim lama dan mengganti dengan pemerintahan baru seperti yang terjadi di Tunisia.

Kedua, sebuah revolusi gagal berujung pemberontakan yang diikuti periode panjang anarkisme di Libya dan Suriah. Ketiga, sebuah upaya dipadamkan secara brutal diikuti dengan pemulihan cepat kembali ke situasi "normalitas" seperti di Bahrain dan Arab Saudi.

Negara-negara yang sama dalam hal sistem kelembagaan dan sistem politik tidak hanya memiliki sumbu api berbeda yang ditujukan pada pematik waktu berbeda, tetapi juga dalam beberapa kasus menjadi sangat kebal terhadap episode kekerasan panjang.

Sementara tidak dapat memprediksi dengan pasti apakah sebuah gerakan berubah menjadi revolusi besar-besaran, simulasi menunjukkan organisasi oposisi yang terlibat mendukung gerakan rakyat memiliki kepentingan besar dalam menentukan hasil akhir.

Jika kaum revolusioner mengintervensi terlalu dini pada kenyataannya mengekspos diri dalam bidikan pasukan pemerintah, tetapi jika menunggu terlalu lama revolusi mungkin tidak terjadi sama sekali bahwa ketepatan waktu adalah kompromi antara dua ekstrem.

Jurnal : Alessandro Moro. Understanding the Dynamics of Violent Political Revolutions in an Agent-Based Framework, PLoS ONE, April 22, 2016, DOI:10.1371/journal.pone.0154175
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment