Friday, April 8, 2016

Homo erectus Menonton Adegan Supernovae Sebelum Zaman Es

Penelitian ~ Puing-puing radioaktif ledakan supernovae di kerak samudera menunjuk 2 ledakan kosmos terjadi 2,2 dan 1,5 juta tahun lalu sedekat 300 tahun cahaya dari Bumi.

Pecahan peluru radioaktif salah satu ledakan terbesar di alam semesta yaitu supernova terkubur di dalam kerak Samudra Pasifik bahwa sidik jari pencaran isotop langka besi hanya mungkin datang dari sebuah bintang yang meledak.

Homo erectus dan beberapa hominin leluhur manusia paling tidak terkejut tiba-tiba dan segera memandang langit untuk menonton adegan astronomi dengan mata telanjang yang terjadi hanya 300 tahun cahaya dari Bumi dan membuat langit seterang bulan purnama terlihat di siang hari.

Sampel sedimen yang dibor selama puluhan tahun terungkap konsentrasi isotop besi-60 bahwa supernova bersama letusan gunung berapi, hujan komet dan perubahan iklim berbaris sebagai tersangka beberapa kepunahan massal yang menekan sejarah kehidupan di Bumi.

Meskipun tak satu pun supernova berada di zona kiamat karena hanya ledakan pada jarak 30 tahun cahaya saja yang bisa mengirim radiasi berbahaya ke Bumi, ledakan berdampak pada iklim global seperti peningkatan radiasi kosmik yang melempar planet menuju Zaman Es.

Para ilmuwan pekan ini melaporkan plot film bencana bintang meledak sangat dekat yang membombardir lapisan ozon planet Bumi dan memicu Zaman Es. Ledakan foton dan partikel cukup mengubah atmosfer dan arah evolusi bahkan menyebabkan peristiwa kepunahan besar.

"Kebetulan menarik karena sesuai waktu geologi Bumi mendingin dan pindah dari Pliosen ke Pleistosen," kata Anton Wallner, fisikawan nuklir Australian National University di Canberra.

Analisis berbeda menggunakan bukti forensik sama membuat rekonstruksi terpisah bahwa ledakan supernova pertama 2,2 juta tahun lalu lebih dari 9 kali massa Matahari dan ledakan kedua 1,5 juta tahun lalu lebih dari 8 kali massa Matahari.



Ledakan supernova di lingkungan galaksi paling tidak terjadi 1 hingga 2 kali setiap 4 juta tahun sekali dan semua meludah elemen berat ke ruang angkasa, beberapa di antaranya memukul Matahari dan untaian planet-planet yang mengitarinya.

Meskipun besi di Bumi adalah elemen stabil, semua logam berawal dari alam semesta yang seluruhnya hidrogen dan helium yang ditempa dalam tungku termonuklir bintang dan kemudian didaur ulang bersama 90 unsur lain sebagai material bangunan planet dalam serangkaian peristiwa chaos.

Isotop besi-60 hanya datang dari supernova seperti uranium dan plutonium meluruh dalam waktu 2,6 juta tahun setelah setengah dari semua isotop asli hilang sehingga endapan terjadi baru saja seperti dalam sampel core Samudra Pasifik yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999.

Para ilmuwan internasional menyaring tanda tangan lainnya dari 120 sampel dasar laut yang menutup rentang waktu 11 juta tahun. Mereka harus mengidentifikasi besi dan kemudian menggunakan akselerator ion berat di laboratorium untuk memisahkan jejak kecil isotop.

"Besi-60 dari ruang angkasa adalah 1 juta miliar kali lebih banyak daripada besi yang ada secara alami di Bumi. Kami terkejut bahwa ada puing-puing jelas tersebar 1,5 juta tahun yang menunjuk ada serangkaian supernova satu demi satu," kata Wallner.

Para astronom juga menjelajahi langit pada kelompok bintang dengan kecurigaan jatuh pada dua yaitu Scorpius-Centaurus (Sco-Cen) yaitu rumpun bintang yang duduk 400 tahun cahaya dari Bumi dan Tucana-Horologium (Tuc-Hor) sejauh 200 tahun cahaya.

Referensi :

A. Wallner et al. Recent near-Earth supernovae probed by global deposition of interstellar radioactive 60Fe, Nature, 06 April 2016, DOI:10.1038/nature17196

D. Breitschwerdt et al. The locations of recent supernovae near the Sun from modelling 60Fe transport, Nature, 06 April 2016, DOI:10.1038/nature17424

Brian J. Fry et al. Radioactive Iron Rain: Transporting 60Fe in Supernova Dust to the Ocean Floor, arXiv, Submitted on 4 Apr 2016, arXiv:1604.00958
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment