Thursday, March 31, 2016

Dating Baru Homo floresiensis Punah Seiring Kedatangan Homo sapiens

Penelitian ~ Hominin hobbit punah lebih cepat dari pikiran. Homo floresiensis terakhir terbaring di Pulau Flores setidaknya lebih dari 50.000 tahun lalu saat Homo sapiens tiba.

Dating radikal fragmen dan endapan mengubah kronologi sejarah Nusantara bahwa sepupu tua kerdil tidak punah 12.000 tahun lalu melainkan setidaknya lebih dari 50.000 tahun lalu yang menyarankan bahwa manusia modern mungkin memainkan peran dalam kepunahan.

Meskipun sebuah revisi waktu tidak menghapus ketidakpastian tentang asal-usul kontroversial evolusi hominid, bukti baru paling tidak membantu menyelesaikan sengketa apakah hobbit merupakan spesies independen atau H. sapiens yang mengalami abnormalitas.

Manusia cebol yang menghilang sebelum bukti eksistensi kerangka awal manusia modern di Flores juga merongrong argumen kontroversial bahwa hobbit kerangka parsial berasal dari manusia modern yang mengalami gangguan perkembangan.


Estimasi sebelumnya menyimpulkan hobbit bertahan puluhan ribu tahun setelah H. sapiens melewati Indonesia dan mencapai Australia 50.000 tahun lalu ditimpa hasil pengukuran baru peluruhan unsur-unsur radioaktif kerangka parsial bahwa dating tepat 86.900 hingga 71.500 tahun.

Thomas Sutikna, arkeolog University of Wollongong di Australia, dan tim pekan ini membatalkan teori bahwa H. sapiens dan H. floresiensis pernah hidup sisi by sisi hingga 40.000 tahun lalu yang memunculkan hipotesis kedatangan manusia modern tersangka utama kepunahan sepupu kuno.

"Dating baru lebih koheren terkait persebaran manusia modern. Selama 100.000 tahun terakhir peristiwa kepunahan menyertai ke manapun H. sapiens pergi," kata Matthew Tocheri, antropolog Lakehead University di Ontario.


"Memang tidak selalu satu-satunya faktor. Tapi mereka sering di tempat dan waktu yang tepat untuk setidaknya menjadi bagian dari alasan kepunahan beberapa spesies," kata Tocheri.

Pertama kali dilaporkan tahun 2003 dan resmi bernama Homo floresiensis adalah sisa-sisa fosil hominin seperti yang ditemukan dalam Gua Liang Bua. Tinggi badan hanya 1 meter lebih sedikit, memiliki kaki memanjang dan otak seukuran simpanse.

Bukti lain di situs yang mendorong waktu jauh ke belakang yaitu gigi gajah Stegodon florensis insularis dating sekitar 74.000 tahun dan ketika semua bukti dianalisis para ilmuwan menyimpulkan H. floresiensis menghilang antara 95.000 hingga 12.000 tahun lalu.


Sejak manusia modern tiba di Australia sekitar 50.000 tahun lalu, dating menyarankan H. floresiensis bisa saja bersentuhan bahu berbulu dengan H. sapiens sampai 40.000 tahun. Tetapi penelitian baru melukis gambaran agak berbeda.

Wahyu datang ketika tim ilmuwan menggali lebih dalam sedimen pembentuk lantai gua bahwa lapisan di mana fosil terbaring telah terkikis ke utara yang memproduksi lereng di mana kemudian tercuci dan terbangun material yang lebih muda.

Analisis dating sebelumnya tidak menyadari bahwa material adalah campuran sedimen tua dan muda. Sampel yang sebelumnya digunakan untuk mendating fosil sebenarnya muncul jauh setelah makhluk kerdil jatuh di pembaringan.


Selain lantai gua, sisa-sisa lain jauh lebih tua dari perkirakan sebelumnya. Di dalam deposit yang sama di mana lapisan H. floresiensis ditemukan, para ilmuwan memurnikan ribuan alat-alat batu dengan kalender antara 190.000 hingga 50.000 tahun.

"Jika manusia modern telah mencapai Australia 50.000 tahun lalu, mereka tidak melompati pulau. Mereka harus berada di Asia Tenggara sedikit lebih awal dari itu dan menyusuri wilayah yang sama," kata Tocheri.

Mungkin persaingan ekonomi meskipun tidak harus melakukan perang. Tapi berburu hewan yang sama, makan sumber tanaman sama dan dorongan ingin hidup di lingkungan yang terbaik adalah cara terbaik dengan menghapus H. floresiensis sebagai residu.


"Bahkan jika mereka punah dengan sendirinya adalah pengingat penting berapa banyak keragaman, morfologi dan genetik keluarga manusia telah hilang dalam beberapa ratus ribu tahun terakhir. Kita adalah satu-satunya yang tersisa," kata Tocheri.

Tidak diketahui apakah manusia atau hominid Asia lainnya seperti Denisovan mencapai Flores lebih dari 50.000 tahun lalu ketika permukaan air laut turun dan kekeringan menimpa pulau. Jika hal itu terjadi, populasi H. floresiensis sudah terhuyung ke jurang kepunahan.

Liang Bua juga menyimpan sejarah toolmaking 1 juta tahun lalu dan hewan lain termasuk burung bangkai, raksasa bangau marabou dan gajah menghilang sekitar waktu yang sama, meskipun para ilmuwan tidak tahu apa yang terjadi 800.000 tahun lalu saat kedatangan leluhur.


"Jika sebuah buku yang mencatat sejarah evolusi H. floresiensis, kita hanya memiliki beberapa halaman compang-camping dan robek dengan sisa yang hilang," kata Tocheri.

Jurnal : Thomas Sutikna et al. Revised stratigraphy and chronology for Homo floresiensis at Liang Bua in Indonesia, Nature, 30 March 2016l, DOI:10.1038/nature17179


Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment