Skip to main content

Konstanta Kosmologi Kesempatan Eksistensi Kehidupan di Alam Semesta

Penelitian ~ Kesempatan bagi kehidupan mungkin bergantung pada seberapa cepat alam semesta mengembang bahwa ekspansi alam semesta membantu munculnya kehidupan.

Galaksi, bintang-bintang, planet dan hampir segala sesuatu di alam semesta bergerak saling menjauh dari segala sesuatu yang lain pada kecepatan lebih cepat dan lebih cepat memberi ruang evolusi kehidupan.

Anda tidak berarti apa-apa dibanding dengan skala besar kosmos, tetapi pemahaman baru bahwa undang-undang yang mengatur perluasan alam semesta mempengaruhi kesempatan pembentukan budaya biologi multiseluler.

Matematika alam semesta yang disebut konstanta kosmologi menilai di balik tingkat percepatan ekspansi alam semesta memainkan peran yang sebelumnya belum dijelajahi dalam menciptakan kondisi yang tepat bagi kehidupan.

Efek ledakan besar kosmik yaitu ledakan sinar gamma yang terlalu sering datang memukul planet mengilas setiap kesempatan sel dan fine-tuned muculnya kehidupan lebih baik jika menjauh dari sumber radiasi.

Para ilmuwan melaporkan analisis gamma-ray bursts (GRBs) yang mensimulasikan seberapa cepat alam semesta memperluas untuk memastikan tidak mensterilkan seluruh kosmos sebagai proksi jaminan eksistensi kehidupan.

"Kami menggunakan simulasi N-body kosmologis untuk menentukan waktu dan nilai probabilitas kehidupan menggunakan parameter ledakan kosmik maksimal," kata Raul Jimenez, astrofisikawan University of Barcelona di Spanyol.

Semburan sinar gamma menyebabkan malaptaka, kepunahan massal dan membuat planet hujan kejutan listrik yang menghancurkan lapisan ozon. Radiasi menyapu melalui sistem bintang berujung kehancuran planet bahkan dari galaksi lain.

Persamaan kualitas universal prinsip antropik menyatakan munculnya kehidupan cerdas seperti di Bumi harus kompatibel dengan kondisi tertentu alam semesta. Hidup jelas dapat berkembang di alam semesta, tapi fine-tuned harus tepat.

"Di lingkungan padat, Anda dipukul banyak ledakan. Rumah terbaik berada di pinggiran atau di daerah tidak padat dengan galaksi kecil di mana Bima Sakti berada," kata Jimenez.

Masih belum jelas dari mana GRBs berasal, tapi para ilmuwan menduga ledakan kuat kosmik diproduksi supernova dan sangat umum di sejarah awal alam semesta. GRBs bahkan menular dari satu galaksi ke galaksi lain.

"Radiasi adalah sumber bencana besar bagi kehidupan, tapi mungkin hidup di Bumi lebih tangguh dari apa yang kita pikirkan," kata Jimenez.

Rujukan : Tsvi Piran et al. Cosmic explosions, life in the Universe and the Cosmological Constant, arXiv, last revised 4 Feb 2016, arXiv:1508.01034

Comments

Popular

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…