Thursday, March 10, 2016

Pengolahan Makanan Penyebab Hilangnya Moncong Wajah Manusia

Penelitian ~ Homo erectus mengevolusi diri melalui cara mengunyah. Penurunan tenaga yang dibutuhkan untuk makan daging mentah menyebabkan gigi dan rahang lebih kecil.

Perubahan iklim yang menghapus vegetasi di Afrika memaksa para leluhur turun dari pohon untuk berjalan lebih cepat menggunakan 2 kaki mengejar buruan herbivora dan mengolah daging dengan alat batu adalah ledakan rantai evolusioner.

Makan daging mentah dan penggunaan alat-alat batu berada di balik pengecilan gigi dan wajah rata manusia dibandingkan kerabat kuno mereka bahwa inovasi memproses makanan memyebabkan hilangnya mulut moncong di wajah Anda.

Makanan yang sudah dipotong merangsang penyusutan tulang rahang dan gigi lebih lanjut penyusutan wajah Homo sapiens semakin mengecil yang ditandai dengan hilangnya moncong depan dibanding hewan lain pada umumnya.

Anggota awal genus manusia mempersiapkan seni memotong dan memasak bahan makanan bahwa diet daging benar-benar mengubah wajah evolusi Homo dan selanjutnya memungkinkan kemajuan dalam berbicara dan berjalan.

Sekitar 1,8 juta tahun lalu H. erectus menggunakan alat-alat batu untuk mengiris daging mentah menjadi potongan kecil sebelum dimakan adalah langkah penting menghemat tenaga mengunyah sekaligus meningkatkan asupan kalori.

Inovasi pengolahan makanan menghasilan rantai evolusi bahwa tulang dan otot yang terlibat di mulut menyusut sehingga rahang dan wajah mengecil sekaligus diet daging merah mmudahkan usus mensuplai otak kaya energi dan memperbesar badan.

Organ vokal terbangun yang memberi kemampuan untuk membuat pidato dan sumsum tulang belakang reposisi menghasilkan penataan kembali dasar tengkorak, meningkatkan bipedalitas dan kemampuan berlari jarak jauh.

Pengunaan api dalam memasak membuat makanan semakin lebih mudah diekstrak sehingga daging dan ubi jalar lebih mudah dicerna, meskipun hominid mulai teratur memasak makanan hanya setelah 500.000 tahun lalu.

Para ilmuwan pekan ini mengusulkan jawaban sebuah paradoks membingungkan ketika manusia mengevolusi otak lebih besar tapi gigi dan usus lebih kecil daripada nenek moyang sebelumnya bahwa mekanika mengunyah di balik semua.

"Jika Anda menghabiskan waktu menemani simpanse makan, Anda menghabiskan waktu seharian menonton mereka mengunyah," kata Daniel Lieberman, antropolog Harvard University di Cambridge, Massachusetts.

Daging mentah yang sudah diiris menjadi potongan kecil mengubah cepat wajah awal H. erectus. Rahang tengkorak lebih kecil dibanding spesies hominid lebih dari 2 juta tahun lalu yang mendahului genus Homo.

"Pada titik tertentu evolusi manusia terjadi pergeseran. Anda memiliki 2 faktor yaitu kualitas diet semakin lebih tinggi dari nenek moyang dan makanan yang telah banyak diproses," kata Lieberman.

Daging kurang membutuhkan kekuatan pengunyahan per kalori daripada jenis makanan nabati yang umumnya sulit tersedia bagi hominin awal, tapi geraham tidak efektif memecah daging mentah sebelum temuan alat-alat batu 3,3 juta tahun lalu.

Tidak ada yang tahu pasti mengapa hominid mulai lebih banyak makan daging 2,6 juta tahun lalu, tetapi ada banyak bukti arkeologi alat-alat batu menggores tulang dan perubahan iklim Afrika menjadi padang rumput dengan banyak antelop dan herbivora.

"Diet paleo juga nol seafood. Menu ikan datang di era jauh kemudian dalam evolusi manusia. Konsumsi kerang juga kebiasaan relatif baru," kata Lieberman.

Jurnal : Katherine D. Zink & Daniel E. Lieberman. Impact of meat and Lower Palaeolithic food processing techniques on chewing in humans, Nature, 09 March 2016, DOI:10.1038/nature16990
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment