Wednesday, February 24, 2016

Mematuhi Perintah Menjauhkan dari Rasa Tanggung Jawab

Penelitian ~ Melaksanakan perintah untuk melakukan sesuatu yang buruk menjauhkan dari rasa tanggung jawab bahwa orang baik berubah menjadi jahat atas sebuah perintah.

Ketika Anda diperintah untuk melakukan sesuatu, otak menjauhkan Anda dari rasa tanggung jawab atas tindakan yang memberi petunjuk mengapa orang-orang di bawah perintah berubah melakukan kekerasan yang mengerikan.

Jika Anda bertindak di bawah perintah, Anda tidak mendapati penundaan sistem syaraf yang lebih besar antara tindakan dan konsekuensi daripada ketika kita bertindak atas kemauan sendiri.

Sementara temuan menyarankan satu alasan mengapa orang dapat dipaksa melakukan tindakan brutal, peradilan kejahatan perang tidak bisa melegimitasi pembelaan Nuremberg bahwa "Saya hanya mengikuti perintah".

Kembali pada eksperimen klasik kontroversial paling terkenal tahun 1960 ketika Stanley Milgram menguji sifat ketaatan kepada otoritas dimana relawan dihadapkan pada perintah dan sengatan listrik.

Milgram mendesain studi ngeri yang menginstruksikan relawan untuk menghukum para korban yang gagal tes memori dengan sengatan lebih kuat. Korban adalah mahasiswa yang pura-pura kejang.

Namun demikian sebagian besar relawan tidak menduga. Mereka benar-benar berpikir melaksanakan setrum listrik bahkan voltase yang cukup untuk membunuh manusia. Hanya sepertiga relawan yang menolak perintah.

Objek moral tentu tidak ada pembelaan atas dalih perilaku, tapi penelitian baru setidaknya membantu menjelaskan mengapa orang tampaknya sangat bersedia melakukan perbuatan sadis hanya karena figur otoritas.

Para ilmuwan pekan ini melaporkan lebih dekat dan lebih terkontrol atas eksperimen Milgram menggunakan teknologi baru untuk mengetahui mekanisme otak ketika seseorang diperintah melakukan sesuatu yang buruk pada orang lain.

"Salah satu kritik utama eksperimen Milgram bahwa Anda tidak pernah yakin apakah relawan tahu situasi eksperimen," kata Patrick Haggard, neurosaintis University College London.

Tindakan menyebabkan peristiwa eksternal dan jeda waktu antara perintah dengan menekan saklar listrik adalah proses penundaan kecil terjadi dalam otak. Panjang jeda adalah ukuran seberapa besar internalisasi kontrol keputusan.

Ketika diperintahkan untuk melakukan tugas, otak relawan tidak melakukan aktivitas pengolahan. Orang-orang yang bertindak atas perintah memiliki aktivitas otak lebih pasif dibanding tindakan sukarela.

Hal baru juga menjelaskan mengapa kemenangan memiliki seribu ayah, tapi kekalahan adalah anak yatim. Orang benar-benar berpikir mereka bertanggung jawab atas keberhasilan dan tidak bertanggung jawab atas kegagalan.

Jurnal : Emilie A. Caspar et al. Coercion Changes the Sense of Agency in the Human Brain, Current Biology, February 18, 2016, DOI:10.1016/j.cub.2015.12.067
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment