Thursday, January 14, 2016

Alat Batu Di Sulawesi Cahaya Homo floresiensis Berasal

Penelitian ~ Alat batu kuno menimbulkan pertanyaan menggoda siapa yang menduduki Sulawesi dan mendukung teori kerabat hobbit berpetualang ke pulau Indonesia.

Pembuat alat batu berkelana dari Asia Tenggara ke pulau Sulawesi jauh lebih awal dari perkirakan sebelumnya dan mungkin sebelum Homo sapiens datang dari Afrika 200.000 tahun lalu.

Temuan alat-alat batu kuno di Sulawesi dating 194.000 tahun juga memperbaharui spekulasi tentang latar belakang evolusioner hominid kecil Homo floresiensis yang hidup 500 kilometer ke pulau Flores sekitar waktu yang sama.

Tidak ada yang terkejut jika H. floresiensis atau keturunan terkait bertanggung jawab atas artefak Sulawesi, meskipun terlihat seperti alat-alat batu yang dibuat 1,8 juta tahun lalu oleh beberapa spesies hominid di situs lain Asia Tenggara.

Hominid meninggalkan alat-alat batu di 4 lokasi, penggalian di situs Talepu terbaring 311 artefak. Batu tajam setidaknya 194.000 hingga 118.000 tahun lalu brdasarkan material dalam sedimen di sekitarnya.

Sulawesi dan Flores adalah satu-satunya pulau di Asia Tenggara dikenal rumah hominid sebelum Homo sapiens mencapai beberapa pulau berlanjut ke timur dan Australia sekitar 60.000 hingga 40.000 tahun lalu.


Penggalian sebelumnya di Flores menemukan alat-alat batu dating 1 juta tahun yang diduga dibuat nenek moyang hobbit. Temuan fosil menunjuk bahwa hobbit hidup setidaknya 190.000 tahun sampai 12.000 tahun lalu.

Tidak ada tulang hominid ditemukan bersama artefak batu kuno Sulawesi yang meninggalkan identitas evolusi toolmaker misterius. Dugaan kuat adalah hobbit atau nenek moyang mereka mungkin datang atau pergi dari Flores.

Tapi Homo neanderthalensis seperti Denisovans di Asia Timur yang mewarisakan genetik kepada Papua, Melanesia dan Australia tidak bisa dikesampingkan. Atau H. sapiens mungkin berjalan kaki dari Afrika ke Sulawesi segera setelah berevolusi di Afrika.

Para ilmuwan pekan ini melaporkan serpihan batu sederhana dan jelas dibentuk manusia yang tahu bagaimana memukul batu untuk menghasilkan ujung tajam untuk mebunuh babi dan gajah yang juga ditemukan di dekatnya.

"Secara pribadi, Homo erectus adalah kandidat paling mungkin," kata Gerrit van den Bergh, arkeolog University of Wollongong di Australia.

Satu teori H. erectus menggunakan perahu merentang dari 1,5 juta hingga 140.000 tahun lalu ketika daratan terhubung ke Asia dengan permukaan air laut surut secara periodik selama Zaman Batu.

Teori lain tsunami sesekali menyeret ke laut dari pantai Asia Tenggara. Arus selatan mendorong sejumlah kecil mengambang 7 hari lebih bersama vegetasi atau puing-puing menuju Sulawesi dan pulau-pulau lain.

"Menimbang bahwa tsunami besar menyerang sekali setiap 100 tahun dikombinasi dengan umur geologi bahwa kesempatan penyeberangan laut tanpa disengaja cukup signifikan," kata Van den Bergh.


Sulit untuk mengetahui apakah hominid Sulawesi mengembangkan keterampilan berlayar di laut. Kolonisasi sebuah pulau dengan spesies baru adalah sebuah proses, bukan peristiwa tunggal.

Kembali pada tahun 2004 para ilmuwan mengumumkan penemuan manusia kecil setinggi 1 meter H. floresiensis yang tampaknya berburu gajah dengan alat-alat batu di pulau Flores 18.000 tahun lalu.

Perdebatan panas menyelubungi apakah benar-benar spesies baru, varian H. erctus ataukah hanya H. sapiens yang mengalami microcephaly. Namun para ilmuwan juga terus bertanya-tanya dari mana spesies berasal.

Michael Morwood, arkeolog University of Wollongong, berangkat mencari pulau-pulau lain dari mana Hobbit datang. Pulau Jawa lebih dari 800 kilometer di barat Flores dengan rantai pulau dikenal rumah H. erectus sejak 1,7 juta tahun lalu.

Tapi Morwood menuju 400 kilometer ke utara yaitu Sulawesi karena arus laut kuat menuju selatan ke arah Flores. Beberapa peralatan batu sederhana ditemukan, tetapi dating tidak bisa ditegakkan karena artefak di atas tanah terbuka.

Morwood membentuk tim termasuk Van den Bergh dan pada tahun 2009 mereka menemukan alat di kedalaman tanah 4 meter. Serpihan batu sederhana dan jelas terasah dengan tajam.

Morwood meninggal tahun 2013 tapi anggota tim terus bekerja. Metode dating menggunakan butiran mineral tertentu dalam sedimen di dekat beberapa alat menunjuk kalender 118.000 hingga 194.000 tahun lalu.

Alat-alat lain tidak dapat didating, tetapi lapisan yang lebih dalam harus lebih tua. H. floresiensis tertua tetap pada 95.000 tahun lalu sehingga toolmaker Sulawesi mencolok batu tidak lama sebelum hobbit melakukan hal yang sama di Flores.

Laporan Van den Bergh menawarkan dukung teori bahwa anggota H. erectus terdampar di Flores menyeberang dari Sulawesi dan adaptasi dari waktu ke waktu menjadi kerdil karena sumber daya terbatas di sebuah pulau kecil.

Mengingat banyak pertanyaan yang belum terjawab, para peneliti gatal menggali lebih dalam di Sulawesi dan pulau-pulau lainnya dengan harapan menghubungkan titik-titik temuan lain.

Paleoantropologi begitu menarik bahwa kadang-kadang melempar sesuatu sepenuhnya tak terduga untuk bisa dijelaskan seluruhnya. Nusantara adalah salah satu darinya.
Earliest hominin occupation of Sulawesi, Indonesia

Gerrit D. van den Bergh et al.

Nature, 13 January 2016, DOI:10.1038/nature16448
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment