Saturday, January 2, 2016

Marmoset Callithrix jacchus Berbagi Nada dengan Manusia

Penelitian ~ Manusia tidak sendirian memandang melodi. Marmoset Callithrix jacchus membuka sejarah evolusi ketika leluhur membangun kemampuan musik dan nada tuli.

Monyet kuno menggunakan isyarat pendengaran mirip manusia untuk membedakan notasi tinggi dan rendah bahwa manusia merasakan kualitas suara tidak lagi terdaftar sebagai kemampuan unik.

Monyet kecil Marmoset C. jacchus asli Amerika Selatan sangat vokal dan sosial seiring benua Amerika memisahkan diri dari daratan Afrika 40 juta tahun lalu bahwa evolusi persepsi nada bertahan sepanjang evolusi primata dari Afrika.

Para ilmuwan pekan ini membangun kasus teoritis persepsi aspek nada berevolusi dari pangkal tertua leluhur yang memungkinkan lahirnya inovasi komunikasi suara dan vokalisasi tembang.

"Persepsi nada penting bagi kemampuan kita untuk berkomunikasi dan membuat musik," kata Xiaoqin Wang, bioteknolog Johns Hopkins University School of Medicine.

"Tapi kita tidak berpikir monyet merasakan seperti cara yang kita lakukan. Sekarang kita tahu marmoset dan kemungkinan juga dilakukan leluhur primata lainnya," kata Wang.

Satu dekade yang lalu Wang mengidentifikasi area otak yang muncul untuk memproses nada. Sel-sel saraf di tepi korteks pendengaran primer hanya terlecut setelah terkena stimuli pergeseran nada tinggi dan rendah yang terkait melodi.

Wang menghabiskan bertahun-tahun untuk mengembangkan tes perilaku dan perangkat elektrofisiologi yang dirancang untuk memantau perubahan halus aktivitas saraf monyet.

Evolusi persepsi nada datang sebelum terpisah dan sisanya berkembang secara paralel pada monyet Old dan New World. Tapi tes yang lebih ketat diperlukan untuk menjawab apakah monyet Old World melihat nada seperti manusia.
Complex pitch perception mechanisms are shared by humans and a New World monkey

Xindong Song et al.

Proceedings of the National Academy of Sciences, December 28, 2015, DOI:10.1073/pnas.1516120113
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment